Sabtu, 15 Juni 2013

Kisah Hobbit Berjari Sembilan

            
The Fellowship of The Ring
Sebuah persahabatan tidak akan lekang oleh zaman. Persahabatan adalah ikatan yang tak punya alasan. Persahabatan yang tulus bagaikan pengabdian. Tak ada kata menyerah untuk mengarungi petualangan bersama, sekalipun tak ada kesempatan untuk kembali atau merasa sama lagi. Karena ketika semuanya berakhir, yang tinggal hanya kenangan. Sebab, saat sebuah kisah berakhir, akan ada perpisahan. Entah menyedihkan atau menggembirakan.

            Inilah salah satu sisi yang sangat berbekas ketika saya menamatkan membaca Trilogi The Lord of The Ring (LOTR). Tentang kisah petualangan sembilan pembawa cincin dengan tokoh sentralnya seorang hobbit berjari sembilan bernama Frodo Baggins. Novel trilogi ini sendiri telah diangkat ke layar lebar dan menjadi salah satu film fiksi fantasi terbaik sepanjang masa yang pernah saya nikmati. LOTR terbagi dalam tiga buku-filmnya juga−yaitu The Fellowship of The Ring, The Two Tower, dan The Return of The King.

         
The Two Towers
   Alkisah, Frodo Baggins diangkat menjadi ahli waris seorang hobbit tua yang tidak berkeluarga, Bilbo Baggins. Mr. Bilbo Tua, begitu ia biasa dikenal, membawa Frodo untuk tinggal di rumahnya
-atau para hobbit menyebut “lubangnya”−di Bag End. Mr. Bilbo Tua dikenal aneh karena ia hobbit yang pernah betualang. Bangsa hobbit adalah bangsa yang suka damai dan bersantai. Mereka tidak mengenal petualangan karena membuat mereka jauh dari ranjang dan lemari makan.
Sampai di sini, kehidupan Frodo berjalan bahagia. Hingga suatu hari Mr. Bilbo merasa bahwa ia sudah cukup beristirahat dari petualangannya dan ingin melanjutkan perjalanan. Mr. Bilbo pun membuat pesta perpisahan sekaligus perayaan ulang tahunnya dan pergi meninggalkan Frodo beserta seluruh harta warisannya.
            Waktu menggerus usia, kecuali fisiknya. Frodo tidak pernah terlihat bertambah tua. Padahal tahun demi tahun merangkak, tidak lebih cepat atau lebih lambat. Pertanyaan orang-orang pun terjawab. Itu karena cincin yang telah ia kalungkan di lehernya sebagai warisan dari Mr. Bilbo. Baru ketika ia mulai menua secara usia, Frodo pun tahu ia punya tanggung jawab untuk menghancurkan cincin itu dan menyelamatkan dunia. Maka ia pergi bersama pelayan sekaligus sahabatnya yang setia melebihi segala yang ia ketahui, Samwise Gamgee.
            Bersama pula Meriadoc Brandybuck alias Merry, Peregrin Took alias Pippin, Mithrandir alias Gandalf Si Kelabu, Penjaga Hutan alias Strider, Boromir, Legolas, dan Gimli yang mewakili rasnya masing-masing; Frodo pun memulai perjalanan panjangnya yang hampir tak berujung. Ia mengarungi hampir seluruh Dunia Tengah demi menginjakkan kaki ke Gunung Maut dan melebur cincin pembawa petaka. Di tengah perjalanan, salah satu dari sembilan pembawa cincin terpengaruh oleh kekuatan cincin itu dan meregang nyawa di tangan musuh. Rombongan terpecah setelah mendapat serangan mendadak. Hingga akhirnya hanya Frodo dan Sam yang keras kepala ikut serta.
            Tokoh-tokoh lain bermunculan sepanjang cerita. Para tokoh itu tidak nampak disisipkan begitu saja ke dalam cerita karena dengan cermat setiap tokoh memiliki riwayat. Sang penulis, JRR Tolkien, nampaknya tidak bisa membiarkan ada satu tokoh tanpa penjelasan. Ada saja sisi lain, meski bukan tokoh sentral dari keseluruhan plot, yang dijelaskan oleh Tolkien. Seperti para bangsawan ras manusia, para bangsawan ras peri, ras hobbit, ras kurcaci, para penyihir, hingga orc.
            Mungkin penjabaran Tolkien inilah yang membuat trilogi LOTR sedikit sulit dipahami saking rumitnya pertalian antartokoh. Sedikit membutuhkan usaha ekstra pula demi memahami wilayah geografis yang digambarkan Tolkien. Seakan ia tidak benar-benar menciptakan sebuah dunia baru dalam bukunya, tapi menggambarkan dunia yang sebenarnya. Dengan lengkap ia menjelaskan penampakan bumi yang menjadi lokasi perjalanan sehingga terasa sangat nyata.
           
The Return of The King
Meski mengagumkan, rincian yang diberikan Tolkien dalam bukunya membuat LOTR cenderung lambat dan berlarut-larut. Seakan tidak ada akhir pada perjalanan Frodo yang panjang. Beberapa bagian cerita menjadi membosankan semisal dalam The Felowship of The Ring, ketika sembilan pembawa cincin meninggalkan Hutan Lorien dan mengarungi sungai berhari-hari tanpa kepastian arah. Atau ketika Frodo dan Sam telah meninggalkan Rombongan Faramir dan menuju Cirith Ungol dalam The Two Towers. Sayangnya, pertempuran antara manusia dengan anak buah Sauron Sang Mata dalam The Return of The King tidaklah sedramatis versi layar lebarnya. Namun Tolkien tetap berhasil memberikan bumbu-bumbu yang tepat pada detail-detail di luar perang yang tepat menjadi selingan.

            Beberapa tokoh yang saya sukai seperti Gandalf, Frodo, Sam, Merry, Pippin, Ent, dan Eowyn terlihat menakjubkan dalam porsinya masing-masing. Saya justru tidak begitu menyukai tokoh Aragorn dan Legolas karena terlalu “mulus”, seakan tanpa cela. Secara garis besar, saya mengagumi trilogi LOTR. Kisah yang benar-benar luar biasa dan sulit dibuat lebih baik lagi atau minimal disamai dengan karya lain sejenis. Bagian akhir dari kisah ini paling menyita perhatian saya karena awalnya saya bertanya-tanya mengapa Tolkien terkesan memanjang-manjangkan kisahnya sehingga antiklimaks itu membosankan. Kemudian Tolkien berhasil menyentuh saya dengan ending yang mengejutkan. Memang ada beberapa bagian dalam buku yang tidak sesuai dengan filmnya. Penutup kisahnya membuat saya mengharu biru walau itu bukan sesuatu yang sepenuhnya menyedihkan. Tolkien membuat saya lebih bersyukur lagi karena trilogi ini bersama The Hobbit saya dapatkan secara gratis karena memenangkan Giveaway Hop dari sebuah blog J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar