Minggu, 14 April 2013

Ketika Para Kurcaci Mengunjungi Sang Pencuri


Judul              :           The Hobbit
Penulis          :           J.R.R Tolkien
Alih Bahasa  :           A. Adiwiyoto
Penerbit         :           PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke    :           Delapan, Januari 2013
Tebal              :           352 halaman

            Ketika pertama kali menonton trilogi The Lord of The Ring (LOTR), saya terpesona dengan dunia ciptaan J.R.R Tolkien. Ia menciptakan kisah petualangan yang seru melibatkan bangsa hobbit, bangsa kurcaci, bangsa elf, bangsa manusia, penyihir, orc, warg, bahkan Gollum. Digambarkan kehidupan yang suram yang dilakoni Gollum seorang diri hingga ia tidak mengenal bilangan waktu. Saking kesepiannya, sampai-sampai Gollum selalu bicara pada dirinya sendiri seakan ia dua orang yang berbeda.

           
8tracks.com
Salah satu penyihir yang termahsyur dan menjadi lakon dalam trilogi ini, Gandalf, digambarkan bijak dan selalu menolong kubu protagonis pada waktu yang tepat. Gambaran ini tidak berbeda jauh dalam buku The Hobbit. Namun, buku The Hobbit menggambarkan tokoh Gandalf lebih manusiawi.
            Alkisah, seorang hobbit yang hidup makmur dan tenang bernama Bilbo Baggins yang tinggal dalam liang mewah di Bag End mendapat kunjungan tak terduga dari seorang penyihir ternama. Ketidaktahuan Bilbo membuatnya bersikap sedikit acuh dan cederung tidak suka. Ia keberatan dengan permintaan si penyihir untuk ikut dalam sebuah petualangan. Bagi bangsa hobbit, petualangan hanya membuat mereka terlambat makan malam. Petualangan bukanlah hal yang menyenangkan.
            Ternyata tolakannya tidak mengendurkan niat sang penyihir Gandalf untuk membawanya ikut serta. Tanpa sepengetahuan Bilbo, Gandalf menorehkan sebuah tanda di pintu rumah si hobbit. Tanda itulah yang menjadi cikal bakal kesulitan yang dialami Bilbo. Keesokannya ia mengalami keterkejutan mendapati rumahnya didatangi tiga belas kurcaci dan seorang penyihir yang menganggapnya si ahli mencuri yang meminta jasanya pergi ke Gunung Sunyi!
            Kesan pertama saya tentang buku The Hobbit jauh berbeda dengan trilogi LOTR. Saya pikir begitulah isi buku Tolkien, tak beda jauh dengan penggambaran yang ada dalam film LOTR−meski saya belum pernah menonton film The Hobbit. Bayangan saya tentang Gandalf yang bijaksana nan sempurna pun lenyap. Gandalf diceritakan seorang yang ekspresif seperti kebanyakan tokoh lainnya dalam buku ini. Ia juga suka berseru, suka makanan yang enak lagi banyak, dan suka mengisap pipa untuk bersantai. Tak beda jauh dengan para kurcaci meski bangsa kurcaci lebih emosional dan mudah berubah pikirannya.
            Petualangan yang dialami Bilbo berkali-kali membuatnya menyesali keputusan ikut dalam rombongan kurcaci. Namun ketika petualangan itu berakhir, tak henti-hentinya pula ia berpikir betapa bagusnya pengalaman yang ia dapatkan selama perjalanan tersebut. Meski berulang kali para kurcaci yang mendapatkan bantuannya mengucapkan terima kasih dan menjanjikan pelayan untuknya hingga keturunannya yang kedua puluh tujuh, tak bosan pula para kurcaci mencemooh tindakannya sepanjang perjalanan. Namun Bilbo tetap dapat berpikir jernih walau di antara para kurcaci ia termasuk paling muda. Hanya saja ia mudah goyah bila teringat gudang makanannya di Bag End.
            Bila bangsa elf (peri) dalam LOTR terlihat sangat anggun dan lembut, buku The Hobbit menunjukkan sisi lain bangsa peri yang penuh curiga. Rombongan para kurcaci dan Bilbo sendiri sempat terlibat kesalapahaman dengan bangsa peri. Mereka dituduh menganggu pesta rakyat Kerajaan Peri Hutan hingga harus disel dalam gue yang gelap.
            Bangsa orc tidak muncul dan hanya disebut satu kali sepanjang kisah. Sebaliknya, bangsa goblin dan warg banyak ambil bagian. Gollum pun tampil dan hampir membunuh Bilbo. Di sini, Gollum terlihat lebih menyeramkan dan cerdik.
            Satu hal lainnya yang membuat saya kagum dengan gaya menulis Tolkien. ia banyak menggunakan tanda seru baik dalam percakapan antartokoh, ketika tokoh bicara dalam kepalanya sendiri, maupun ketika menjelaskan sesuatu. Terasa sekali Tolkien menceritakan dengan ekspresif dan penuh semangat. Ia benar-benar memposisikan diri sebagai seorang pendongeng. Dengan sudut pandang serba tahu, ia seakan mengajak pembaca bukunya berinteraksi seperti berkata, “ah, ya, sampai dimana kita tadi,” atau “seperti yang sudah diceritakan sebelumnya”. Ia salah satu penulis sekaligus pendongeng yang saya kagumi, tentunya selain Ahmad Tohari. Atas kemahirannya mendongeng, Tolkien membuat saya ingin segera membaca buku ini lagi.

4 komentar:

  1. saya sudah nonton film-nya, memang ceritanya berkesan dan karena ceritanya fiksi jadi banyak efek visual yang memanjakan mata. akan tetapi menurut saya itu endingnya ngegantung mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ya? kalo di bukunya malah jelas hehe, mungkin di film sengaja karena nanti ada sekuel berikutnya :)) mungkin lho ya

      Hapus
  2. pas aku nonton filmnya malah gak ngerti sekalipun efek yang disajikan bikin mata segar. hm mungkin karena gak baca novel dan gak lihat banget sekuel yang sebelumnya kali ya hehe :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe memang agak rumit sih jalan ceritanya, tulisan tolkien itu kan bacaan wajib mahasiswa sastra di harvard :) (baca di blog orang)

      Hapus