Kamis, 01 Agustus 2013

Dari Angsana Turun Ke Kulit Kita

daliajayamakmur.wordpress.com
Pernah merasakan hujan ulat bulu? Ini kejadian langka dan tak terduga yang terjadi di kampus saya beberapa bulan yang lalu. Ulat-ulat yang berjatuhan bagai air hujan menempel di badan orang-orang. Alhasil banyak yang menjadi korban gatal-gatal dengan kulit kemerahan. Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan kampus saya yang terletak di kota hujan.


Waktu itu saya sedang berada di dalam kelas. Ruangannya terletak tak jauh dari taman kecil yang berada di tengah-tengah kampus. Taman tersebut biasa disebut dpr, singkat dari di bawah pohon rindang. Dari namanya anda pasti bisa menebak bahwa taman tersebut berupa sekumpulan pohon rindang. Jenis pohonnya adalah angsana. Di taman tersebut terdapat bangku-bangku semen yang nyaman diduduki. Tak heran banyak sivitas akademika kampus yang senang menghabiskan waktu di dpr.

Saat itu terdengar kegaduhan dari dpr. Ada banyak orang berteriak-teriak histeris. Karena penasaran, saya mencoba mencari tahu. Kata teman, ada hujan ulat bulu. Saya mengerutkan kening. Ulat bulu? Hiiii! Siapa yang tidak geli? Katanya ulat bulu-ulat bulu itu berjatuhan dari atas pohon dan menimpa orang-orang yang berada di dpr.

Bayangkan ulat bulu yang jatuh menimpa kulit anda dan berjalan-jalan demi mengoleskan racun dari bulunya. Sampai sekarang saya masih geli membayangkan hal tersebut. Saya memang tidak mengalami secara langsung tapi saya cukup bersimpati dengan mereka yang mengalami sendiri. Namun ternyata saya mendapat kesempatan merasakan peristiwa langka itu.

Beberapa hari kemudian, saya dan teman-teman duduk di dpr. Kami tidak berpikir akan ada serangan-ulat-bulu-dari-pohon-angsana lagi. Sebetulnya kami bukan sekedar duduk-duduk. Kami sedang mengerjakan tugas mencari foto untuk mata kuliah fotografi. Dpr tempat yang sejuk sehingga banyak dari kami yang mencari foto di sana.

Mendadak teman saya merasa gatal di lehernya. Ada merah-merah yang “mengerikan”. Dia hampir menangis saking gatalnya. Bukan cuma dia korbannya. Beberapa teman saya yang lain juga merasakan hal yang sama. Waktu diberi minyak kayu putih, rasa gatalnya tak hilang juga. Pulang dari kampus, teman saya terpaksa mendatangi dokter kulit.


Hal itu membuat banyak orang yang berhati-hati untuk duduk di dpr. Taman itu sempat sepi dalam beberapa waktu. Namun setelah ulat bulu tidak terlihat lagi, dpr kembali ramai oleh para mahasiswa. Kami tetap mencari keteduhan dari angsana yang tumbuh di taman. Ini kisahku dan pohon, apa kisahmu? J

Angsana atau sonokembang (Pterocarpus indicus) adalah sejenis pohon penghasil kayu berkualitas tinggi dari suku Fabaceae (=Leguminosae, polong-polongan). Kayunya keras, kemerah-merahan, dan cukup berat, yang dalam perdagangan dikelompokkan sebagai narra atau rosewood. (wikipedia)


8 komentar:

  1. hiyyyyyaaaa nggak kebayang,,hiiiiii....geli mbk :D
    sukses GA nya

    BalasHapus
  2. hiiiihhhh..... Membuat bulu kuduk bergidik,, :-D

    BalasHapus
  3. iya tuh pernah duduk d bwh pohon sono, truz ada ulet yg jatuh..
    2 hri msih terasa :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. gatalnya memang luar biasa mbak, bisa betah sepanjang hari

      Hapus