Sabtu, 08 Februari 2014

Halo, Timika!

Di sini jam 3 sore yang artinya jam 1 siang di Bogor dan jam 2 siang di Makassar. Hari ketiga gue di Timika. Ini pengalaman pertama tinggal sendirian jauh dari keluarga dan orang-orang yang gue sayang lainnya. Sebelumnya gue pernah tinggal jauh dari orang tua tapi kan waktu itu gue numpang di rumah budhe. Kali ini gue bener-bener menjadi orang asing.

Tadi gue baru selesai nyuci dan nyetrika. Sejauh ini hari yang gue jalani biasa-biasa aja. Karena tempat PKL gue ini memang menyediakan akomodasi yang cukup menyenangkan, sejujurnya ini tetap menjadi zona nyaman meski gue berada jauh dari hal-hal yang gue akrabi. Ada fasilitas makan, tidur, kesehatan, kendaraan.. apalagi ya? Nah ini lebih dari disyukuri.


Demi keamanan−orang tua mana yang ga pengen anaknya berada di bawah pengawasan, mayoritas maksudnya−gue tidak tinggal di asrama kantor. Lagian belum ada kepastian juga gue nempatin kamar asrama yang mana. Gue tinggal di dekat tempat tinggal kenalan orang tua. Jadi mereka yang mengawasi keseharian gue.

Naaah tempat makan fasilitas kantor itu, sayangnya, di depan asrama yang letaknya jauh dari tempat gue sekarang bermukim. Kalo hari kerja alias hari masuk kantor tentu gue makan di sana. Tapi pas weekend begini nyokap bilang gue bisa cari makan di luar. Lagian nyokap mungkin kasihan kalo misalnya gue bosen sama masakan asrama. Gue akui masakannya memang kurang Indonesia. Mungkin menyesuaikan dengan lidah bule? Bumbunya ga medhok. Tapi gue ga peduli. FYI, gue kadang senang makanan tanpa bumbu. Itu lebih sehat. Apalagi tanpa dimasak (atau dimasak setengah matang). Jadi gue ga ambil pusing soal rasa. Kalo misal semurnya kurang mantep, ya sekalian aja gue makan sayuran segar. Lah, yang penting kenyang sama bagus buat pencernaan. Ya kan?

Tapi beli makan di luar harus siap dengan harga yang berkali lipat dibanding di Bogor dan porsi yang kelewat banyak. Kemarin pas nyokap masih di sini, gue makan sepiring berdua aja udah kekenyangan. Jadi hari ini gue malas keluar kamar dan tidak tertarik membeli sesuatu. Gue punya cadangan roti dan pop mie. Kadang gue heran dengan orang yang suka pilih-pilih makanan. Okelah, gue ga suka ikan. Tapi ketika nyokap bilang itu banyak gizinya, di rumah cuma masak ini, dan gue terdesak atas nama lapar, gue ga nolak buat makan. Yang menyebalkan adalah ketika orang bilang bosan makan itu karena dalam seminggu udah makan dua kali, misalnya, atau alasan lain yang masih bisa dipatahkan. Lo kagak liat ada orang yang cuma makan daging setahun sekali itu masih banyak?! Lagak lo kayak kebanyakan duit K Eh udah gitu ternyata E-L-O emang banyak duitnya. Yaudah sana, lanjutin jadi orang banyak gaya.


Orang−hampir semua orang−berpikir betapa menyenangkan gue di Papua PKL-nya. Bisa pelesiran, jalan-jalan, lihat daerah yang eksotis bla bla. Padahal gue ke sini ga jalan-jalan. Di Timika ga ada angkutan umum kecuali ojek. Biaya hidupnya mahal. Raja Ampat itu sangat amat jauh dari sini. Jayapura aja jauh. Jelas gue minim kesempatan buat eksplorasi di sini. Lagian mau kelayapan sama siapa? Dua hari pertama, pemandangan yang gue lihat adalah perang antarsuku. Di sini itu hal lazim. Gue juga ga berpikir itu menyeramkan karena gue di dalam kendaraan. Cuma mungkin agak tidak biasa kalo kalian lihat orang bawa-bawa busur panah gede dengan anak panah yang kebanyakan beracun atau parang yang kelewat panjang. Dan mereka ada banyak, di pinggir jalan, atau di atas motor.

Gue belum bisa cerita banyak soal PKL. Di sini jam kantornya 9-10 jam sehari atau 45 jam per minggu kecuali mentor/atasan minta masuk pas weekend. Mentornya lagi sibuk jadi dia belum bahas banyak kerjaan gue. Lagian gue harus training dulu, induksi, turun ke lapangan, dll. Seru juga. Kemarin baru urus adminitrasi dan keliling daerah kantor tempat gue berkarya (low land). Awalnya gue mau ditaro di high land tapi karena kendala fisik (gue sinus, sepertinya gue pernah cerita di postingan entah yang mana) akhirnya gue ditaro di low land. Kalo di low land gue bisa santai. Pengalaman enam bulan lalu ke high land dengan pemanas ruangan volume maksimal gue masih merasa membeku. Walau pas turun ke lapangan anak PKL/training/magang/penerima beasiswa ada kesempatan ke high land, gue mungkin dibebastugaskan untuk ikut serta. Nyokap bilang sebaiknya gue ga ikut. Gue sebetulnya pengen naik gunung lagi. Yaah liat aja minggu depan gue sanggup atau enggak. Kalo enggak ya SHANGGUPIN! *edisi the comment*

Btw kemarin nengok departemen tempat gue berkarya. Sumpah, itu salah satu tempat terhening. Lebih hening dari pada ruang kelas di Diploma kalo UAS dan pengawasnya dosen killer. Padahal itu bangunannya berdinding kaca, dari luar aja ga keliatan ada gerakan. Bayangkan! Dan antarkubikel sekatnya tinggi. Gue ga bisa liat orang-orang di dalam kubikel mereka. Okelah ga semua kubikelnya tinggi.

Jarak antar departemen atau gedung ada yang subhanallah jauhnya. Padahal di departemen sebelah ada yang subhanallah gantengnya. Tapi gue berhasil cuci mata lagi pas makan di asrama kemarin malam. HAHAHA. Gue berharap ada kesempatan cuci mata lagi minggu depan. Jarang ada yang seumuran gue, malah gue hampir yakin di departemen gue ga ada yang di bawah tiga puluh tahun. Gue juga ragu ada perempuannya. Tapi di departemen si cowok ganteng ada banyak mbak-mbak dengan logat Suroboyoan. Sepertinya mereka fresh graduate. Oke, cuma asal nebak. Ga penting.

Gue suka tata letak tempat gue berkarya ini. Semacam perkantoran di tengah hutan dengan jalan beraspal mulus. Segalanya sangat tertib. Bahkan ada tulisan kalo parkir di A arah mobilnya kudu gimana. Ada parkiran sepeda. Cukup, gue norak ga sih? Oke, lanjut. Untung masjidnya deket dari gedung departemen gue. Yang paling deket sih gereja. Gue sangat suka desain bangunan gerejanya. Keren. Ada juga semacam supermarket, tempat makan, dan home theatre. Kalo asrama ada yang berupa bangunan, ada yang terbuat dari kontainer pelabuhan. Segala tempat yang ingin kita akses harus pake id card.

Kalo ampe akhir postingan ada di dalam pikiran kalian wahai para pembaca yang bertanya, MANA-FOTONYA? Iya, gue ga foto-foto. Kamera aja gue simpen di lemari. Ga minat. Udah ah, cukup gue menceritakan pengamatan saja. Haha. Kalo berdasarkan kontrak, tugas gue di sini baru selesai tanggal 6 April. Sial, itu berapa hari lagi sebelum seminar? Deg-degan lho. Tapi gue hepi kok. Suwer. Ntar sebelum pulang harus presentasi dulu.

Sekarang to do list gue banyak. Ada Nintendo DS yang harus gue mainkan, Conan yang belum gue selesai tonton, buku-buku pinjaman yang baru sedikit dibaca, skrip yang masih dicacah, dan... ah cukup ceritanya. Dadah J


PS : Gue kangen. 

4 komentar:

  1. Hai Kak, jangan lupa potret sana-sini dong biar tahu gimana di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha sabar yaa Insya Allah minggu depan foto foto

      Hapus
  2. penasaran tempatnya,fotonya manaaaaa????hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sabar ya mbak, itu menyusul hehehe

      Hapus