Senin, 31 Maret 2014

Tentang Natasha

Apa dia orang yang tepat?

Kamu tidak akan pernah tahu itu kecuali kamu sudah menjalaninya. Kamu telah mencobanya. Jadi, kamu harus berani patah hati. Siap menerima segala risiko. Berjanji tiada merasa patah atau menyerah. Karena begitulah hidup. Di satu titik kamu bahagia. Titik selanjutnya, kamu nelangsa. Bukan hanya soal cinta. Tapi juga keluarga, karir, persahabatan, keseharian, sampai masakan yang baru kamu pelajari resepnya. Kalau belum apa-apa kamu menyerah, mana bisa kamu melihat hari esok yang lebih cerah?

Semoga dia orang yang tepat.


Natasha tersenyum pahit. Kedua isi kepalanya beradu. Satu bersikap sok bijak, menasehati diri dengan segala pembelajaran yang berujung pada penguatan hati. Namun ia tahu, sangat manusiawi jika suatu kali ia merasa terpuruk dan sepi. Kadang-kadang ia disapa hampa. Kali lain ia begitu mencintai hidup karena terlalu bahagia. Yah, Natasha cuma perempuan usia awal kepala dua yang mencoba memaknai cinta sebaik-baiknya.

“Mau kemana, Sha?”

Ibu menatap anak gadisnya yang telah beranjak dewasa tengah mematut diri di depan kaca. Satu-satunya anak yang ia punya yang mendorongnya tak henti berdoa penuh syukur atas sebuah karunia. Bahwa setelah belasan tahun menikah dan menahan diri dari pertanyaan orang-orang yang entah bermaksud peduli atau menyebalkan, kapan dari rahimnya tumbuh sebuah harapan. Kini harapan itu telah ranum dan merekah laksana kembang. Meski satu-satunya di tengah padang, ia tetaplah kembang. Wangi, indah, sekaligus membuat bibir tergerak untuk tersenyum.

“Ah ibu. Sejak kapan di situ? Biasa, anak muda.”

Wajah Natasha terlihat cerah sekaligus malu-malu. Ia menghampiri ibu bersama segaris senyum dan sepasang pipi merona. Ibu selalu suka menatapnya begitu, disebutnya sebagai ekspresi semanis madu. Sebab waktu ibu mengandungnya dulu, ibu suka menambahkan madu pada apa-apa yang ditelannya. Mulai dari roti tawar gandum yang remah-remahnya mengotori baju hingga menambahkannya dalam jus labu. Kalau perlu, nasi yang ibu tanak pun diberi madu. Tak heran bila ibu melahirkan Natasha yang... lihatlah sendiri agar tahu seperti apa rupanya.

“Memangnya, cuma anak muda yang bisa jalan-jalan? Ibu juga!”

Natasha memeluk pinggul ibunya. Mencium aroma tua dari tubuh seorang wanita. Aroma dimakan usia. Yaitu rambut yang mulai berubah warna hingga kerut-kerut tipis yang semakin jelas dilihat mata. Namun, bagi Natasha, wanita itu adalah pahlawannya. Seorang yang akan muda selamanya karena menjadikan hidupnya berharga. Menjadi salah satu tujuan hidupnya. Membahagiakannya. Membayar tahun-tahun penuh kepahitan dalam hidupnya ketika masih anak-anak.

“Aku berangkat dulu ya bu. Mau aku bawakan sesuatu?”

“Tidak perlu, sayang. Nikmatilah malam ini. Nanti pulang cerita ya.”

“Siap ibuku sayang!”

Maka Natasha pergi, melangkahkan kaki, menghampiri seseorang yang semoga saja tepat itu. Makan malam itu sempurna. Dengan cahaya lilin yang berpendar, masakan yang enak, dan percakapan yang menyenangkan. Lelaki yang bisa menghibur atau punya bakat sebagai penghibur akan selalu punya kesempatan baik dengan perempuan manapun. Karena hanya sedikit sekali atau bahkan tidak ada perempuan yang tidak suka dibuat tertawa.

“Menurutmu, perempuan yang hebat itu seperti apa?”

“Itu mudah. Perempuan sepertimu.”

Natasha mencoba untuk tidak tersenyum. Ia bukan tidak suka atau menyangka dengan jawaban itu. Namun ia takut mabuk lantas lupa diri. Lelaki bisa bicara apa saja selama ada perempuan di depannya. Artinya ia bisa bicara apa saja pada perempuan mana saja. Bisa jadi kata-kata yang ia lontarkan juga sama.

“Kalau perempuan itu bekerja, bagaimana?”

“Selama apa yang ia tinggalkan di rumah tetap diurus dengan baik, apa salahnya?”

Lagi-lagi jawaban yang Natasha suka. Selama ini lelaki itu tak pernah mengecewakannya. Mungkin ia tidak membawakan bunga atau selalu ada untuk Natasha. Namun ia memperlakukan Natasha dengan sangat baik. Mendengarkan keluh kesahnya meski pagi segera menjelang sementara itu masih hari kerja. Atau memberinya pengalaman menyenangkan dengan mencoba berbagai restoran dan menyambangi tempat-tempat indah. Hampir semua yang Natasha butuhkan ada dalam diri lelaki itu. Keyakinan Natasha padanya pun mendekati lingkaran sesempurna rembulan.

“Nat, aku sayang kamu.”

Kata-kata itu sederhana. Kata-kata itu sempurna. Bagai mutiara di dasar samudera. Tak punya cela. Tak bisa kurang atau lebih. Bunyinya bagai simfoni yang keluar dari kedalaman sebuah hati lantas menelusup ke dalam hati lainnya. Manis. Hangat. Renyah.

“Nat?”

“Sst.”

Natasha tidak ingin membicarakannya. Ia menyukai keheningan di antara mereka. Untuk pertama kalinya seumur hidup, si gadis pemalu yang merasa tak pandai bicara itu tidak merasakan canggung dalam diam. Justru keadaan tanpa kata-kata itu terasa berharga.

Namun harusnya kau tahu, bila kau terlalu bahagia, sedihmu akan lebih nyata.

Natasha menggigit bibir ketika sebagian isi kepalanya mendengungkan kata-kata itu. Ia benci mengakui bahwa sebagian isi kepalanya benar. Ia benci menyadari bahwa ia terlalu mudah percaya dan tidak sempat lebih dalam mencerna. Kisah yang sempurna itu tidak ada! Lelaki yang tanpa cela itu mustahil! Dongeng sebelum tidur dengan kalimat pamungkas happily ever after itu tidak nyata!

Padamu cinta, aku merana.

Lelaki, entah mengucap cinta terlalu cepat, atau diulur-ulur hingga ia pikir sudah terlambat, tetap bisa menyakiti bila sempat. Itu salahnya. Itu karena ia memberi kesempatan untuk menjadi korban. Harusnya ia lebih berhati-hati. Cinta bukanlah yang mudah, sesederhana apapun kata orang atau buku atau film mengatakannya.

Lelaki itu mengucapkan kata-kata indah dan sempurnanya pada orang lain. Awalnya Natasha tersenyum. Ayolah, itu hanya gejolak muda. Tidak perlu kecewa. Kau akan menemukan yang lainnya. Meski tak akan pernah sama seperti yang kau punya dengannya.

“Sayang, ayo cerita pada ibu apa yang kamu rasakan.”

“Entahlah, bu. Aku tidak ingin membicarakannya.”

“Jangan dipendam sendirian.”

“Aku pun tak rela menyimpan.”

“Ibu tahu kamu sedih.”

Natasha hanya diam. Bila ibu tahu, cukup baginya. Tak perlu cerita. Apa lagi yang harus ia katakan? Bahwa ia menunda sekali lagi kesempatan mengenalkan seseorang yang tepat pada ibunya? Ia sekali lagi melepaskan harapan kalau ibunya akan melihatnya di pelaminan? Natasha tahu ibunya bisa menunggu. Natasha juga tahu ibunya tak menyuruh buru-buru. Namun dorongan kuat dalam hatinya untuk menyenangkan hati ibu sulit dibendung. Ia ingin memberi ibu seorang cucu. Mungkin bahkan dua atau tiga cucu. Satu kali melahirkan juga tidak mengapa asal kembar. Ah, terlalu jauh pemikirannya. Terlalu rumit isi kepalanya.

Natasha ingat cerita orang-orang bagaimana ibu berjuang membesarkannya. Ibu tak terlalu suka menjabarkan hal itu karena ibu tahu, kasih yang tulus itu tidak berkata apa saja yang telah ia beri pada sumber cintanya. Kasih yang tulus hanya menunjukkan, tidak untuk memamerkan. Menunjukkan maksudnya memberikan. Membanjiri. Menumpahkan. Menyirami. Apa saja kosa kata yang dipunya.

“Ibumu dulu mengubur mimpi-mimpinya agar ia bisa melihat perkembanganmu tiap hari,” begitu cerita ayah sambil mengusap Natasha yang berada di pangkuannya. “Ibu tidak peduli apa kata orang mengenai sia-sianya ijazah pendidikan tinggi yang disimpan dalam lemari. Bagi ibu, kamulah yang terpenting. Asal ia melihatmu cukup makan dan minum, cukup senang, cukup nyaman, dan berkecukupan dalam hal-hal lainnya maka itu hadiah baginya. Ibumu benar-benar bersyukur memilikimu. Dan ia tahu caranya mengungkapkan syukur itu. Dengan memberikan seluruh hidupnya untukmu. Setelah itu, baru pada ayah.”

Sebab ia tidak bisa mengganti cinta ibunya dengan harta dari seluruh penjuru dunia, ia hanya mampu memberinya sumber cinta yang baru. Sebuah kehidupan. Dari rahimnya sendiri. Sebagai penghiburan. Bagi masa tua ibunya. Sebagai penuntas kesepian. Agar ada alasan ia tetap pulang. Yaitu mengantar seorang cucu.

Kau tahu, meski dunia ini penuh dan terjadi ledakan penduduk, hampa pun kadang-kadang menyapa. Hampa tidak hanya karena kau merasa jauh dari para manusia. Juga setiap kau kehilangan satu tujuan dalam hidup dan tak tahu lagi harus melangkah ke mana. Apalagi bila langkah-langkah yang kau lakukan hanya demi menghabiskan waktu atau memiliki sesuatu untuk dikerjakan. Itu ironi tetapi begitulah kehidupan.

Natasha takut ia kehilangan tujuan hidup. Bila ia tak mencintai pria manapun, akan sangat sepi dan kosong hatinya. Ia punya ibunya, temannya, pekerjaannya, dan lainnya yang sebetulnya begitu memenuhi kepala hingga kadang membuat pusing. Namun ia merasa tak punya seseorang yang benar-benar ada untuknya. Orang yang menunggu satu hari penuh untuk melihatnya. Berada di sisinya dari malam hingga pagi jelang. Sekedar diam atau bercakap hal-hal ringan.

“Kamu masih muda, sayangku. Kamu punya banyak kesempatan yang menemukan yang baru.”

Ibu mengelus puncak kepalanya lalu mengecupnya. Natasha ingin menjerit. Iya bu, tapi sampai kapan? Lelah sekali rasanya memberikan hatimu untuk seseorang lantas kau terpaksa melepasnya lagi. Hanya karena alasan-alasan yang tak mau dan tak akan pernah bisa kau pahami. Bosan. Jatuh cinta pada orang lain. Tidak ada kecocokan lagi. Menemukan yang lebih baik. Tidak yakin.

Kalau kau bilang bosan, kau akan selalu bosan! Seluruh hidup ini membosankan! Pasti kau pernah terbangun suatu hari, kan, dan tidak ingin melakukan apa yang biasanya menjadi kesenanganmu? Kau bisa bosan pada nasi goreng, pada pekerjaanmu di balik meja, pada hobimu membaca, pada apa saja. Dan Natasha merasa teriris tiap berpikir kalau semua orang berpikir bosan lantas menyerah pada pasangan mereka. Dunia akan sangat menyedihkan.

Jatuh cinta pada orang lain yang baru kau temui atau datang dari masa yang telah kau lewati mungkin sulit dihindari. Namun kau bisa memilih mendalaminya atau kembali pada pasangan yang menunggumu dengan tangan terbuka. Jika kau terus menuruti apa yang sekelebat lewat di hatimu, maka kau tak akan pernah punya pasangan hingga mati. Sebab kau terus berganti orang yang kau cintai. Hingga akhirnya kau tak punya kesempatan lagi mendaratkan perasaanmu.

Dengar, kau tidak akan pernah cocok dengan makhluk ciptaan Tuhan manapun di seluruh muka bumi karena kau diciptakan berbeda. Seluruh entitas di alam semesta ini punya perbedaan. Bahkan anak kembar punya sesuatu yang tidak sama dalam diri mereka. Demi Tuhan, masih adakah orang yang berkata ketidakcocokan untuk mengakhiri hubungan padahal tidak ada yang namanya cocok?!

Teruslah mencari hingga menemukan yang lebih baik. Pada dasarnya semua manusia itu baik. Hanya saja hal baik itu bisa disikapi berbeda. Seorang koruptor pun menganggap mencuri uang rakyat adalah hal baik agar bisa membelanjakan barang mewah untuk istrinya. Segala hal seburuk apapun pasti punya satu titik kebaikan. Bahkan korupsi mengajarkan anak-anak sekolah bahwa mengambil uang milik orang itu tidak baik dan mendapatkannya dari bekerja dengan halal itu baik. Bukankah hal baik kita ketahui karena ada hal buruk?

Seluruh pikiran Natasha kacau. Ia terus meracau sendiri dalam kepalanya. Dan ibu masih setia mengelusnya dengan lembut.

Sekarang ia tahu. Ia pun salah. Tidak ada orang yang tepat. Karena tidak akan pernah tepat. Apa sih artinya tepat? Ia hanya harus mencari. Menemukan lagi. Atau mungkin menunggu. Terserah mana saja yang menurutnya baik. Namun ia pasti, dan akan.... jatuh cinta lagi.

***


Udah lama ga nulis cerpen sepanjang ini :D 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar