Minggu, 22 Juni 2014

Prompt #54 Mawar yang Mulai Layu

Wedding rose petals wrapped in paper with initials of bride and groom - stock photo
shutterstock.com

Sahabatku sejak kecil, Malda, datang tiba-tiba. Wajahnya terlihat sedikit ragu tapi kukira ada senyum di baliknya.

“Aku tahu kau masih sedih dan tak mau bicara dengan siapapun. Tapi aku harus segera memberitahumu.”


Malda mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Sebuah undangan pernikahan sederhana berwarna royal blue dengan emboss berupa inisial M dan J. Sangat indah. Belum sempat aku berkomentar, telepon berdering. Aku hampir yakin dia yang menghubungiku lagi. Tubuhku mematung menghadap telepon, tak bergeming.

Malda hampir mengangkat telepon itu sebelum aku menghentikannya.

“Siapa dia?”

"Kurasa sebaiknya kau tidak perlu tahu tentang dia. Percayalah, kurasa betul-betul jangan."

“Biarkan aku menolongmu. Akan kuberi pelajaran lelaki bangsat itu agar berhenti mengganggumu. Kenapa sih dia tidak mau berhenti padahal kau sudah menyuruhnya pergi? Kalau dia terus menerus kembali, kapan kau akan sembuh dari patah hati? Dia akan selalu bercokol di kepalamu sampai kiamat!”

“Aku tidak perlu kau ikut campur, Malda. Kau tak perlu bicara dengannya atau sekedar mendengar suaranya. Biar aku selesaikan sendiri urusanku. Kau cukup tahu bahwa aku baik-baik saja. Aku tidak akan kalah dari lelaki itu. Biar aku sendiri yang mengusirnya dari hidupku.”

“Menyebut namanya saja kau tak mampu saking tersakitinya hatimu. Teleponmu tak aktif seminggu sejak hubungan kalian berakhir. Bagaimana caramu bisa bicara dengannya? Siapa sih dia? Mengapa kau merahasiakannya dan hanya menceritakan sebagian dari kisah kalian?”

Aku membuang muka. “Aku hanya tak mau merusak kebahagiaanmu. Sejak kudengar dari ibumu kau akan menikah, kupikir tak perlu ada cerita sedih hinggap di telingamu.”

Namun mataku tertumbuk pada mawar pemberian lelaki sialan. Lelaki yang akhirnya mengaku padaku bahwa dalam hatinya, aku bukan nomor satu. Lelaki yang berkata padaku tidak mau meninggalkanku meski ia akan segera menempuh hidup baru. Bukan denganku.


Tiap menatap inisial J pada mawar yang mulai layu, mataku berubah sendu.
***
Karya lain bisa dilihat di sini.

6 komentar:

  1. nice post to share, makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih juga kunjungannya :)

      Hapus
  2. pengkhianat cinta :D

    mbak... paragraf 8 kalimat awalnya membingungkan... sepertinya...

    BalasHapus