Kamis, 13 November 2014

Prompt #70 Wangi di Suatu Malam

Close-up. Arrested man handcuffed hands at the back - stock photo
shutterstock.com
Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat.

Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.


”Mas Koyo,” orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. ”Saya Kiswoyo, masih ada hubungan sedarah dengan Mbak Uci,” katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. ”Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini,” sambungnya.

“Kasihan Uci kalau nanti sampai di sini. Dia bakal mencari aku.”

“Ini sudah malam, mas. Mbak Uci tak mungkin keluar malam-malam begini. Baiknya mas tidur dulu satu malam. Besok saya antar ke tempat Mbak Uci.”

“Kenapa tidak malam ini saja? Kalau kemalaman buat dia, biar aku yang mendatangi. Rumahnya dekat kan dari sini? Atau rumah orang tua Uci sudah pindah?”

“Tidak mas, Mbak Uci sudah tidak tinggal dengan orang tuanya.”

“Lho, sama siapa?”

“Makanya, besok saja. Saya tidak mau bikin mas pusing sekarang.”

“Lho, itu istriku. Aku penasaran. Aku berhak tahu.”

Kiswoyo terlihat gelisah. Dia seperti kehabisan akal mengajakku ikut pulang. Tiba-tiba aku mencium aroma wangi. Aroma melati. Lama aku tak mencium bau harum. Bau penjara tak pernah menarik hati. Baunya seperti mimpi-mimpi yang mati.

“Mas, saya cerita tapi di rumah saja, ya? Mas bisa makan sama mandi dulu. Ini sudah malam. Nanti istri dan anak saya kepikiran kenapa saya tidak pulang-pulang.”

Uci tiba-tiba muncul. Senyumnya sangat cantik. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai ke belakang. Ia nampak tak pernah bertambah usia, seakan waktu berhenti ketika menerpa kulitnya. Padahal lama aku tak melihatnya. Entah berapa purnama.

“Kamu bilang istriku tidak mungkin keluar malam. Ini, dia sudah datang. Liat, Kis, Uci cantik sekali.”

Aku berjalan mendekat.

“Mas kangen adik,” ujarku sambil mengulurkan tangan mencoba mengelus puncak kepalanya.


Kiswoyo cuma menjerit-jerit. Katanya, aku bicara sendiri. Katanya, ia mencium bau yang kelewat wangi.

6 komentar: