Jumat, 06 Januari 2012

Chang, Pejuang Tanah Timur-Bagian 9

Xzat
            Sepuluh pasukan berkuda mengelilingi jembatan kecil menuju Gosheang. Itu pintu utama memasuki desa. Menyeberangi sungai kecil nan jernih yang biasa dimanfaatkan penduduk setenpat memancing ikan. Sebelas orang pasukan pemanah menyebar di beberapa titik mengelilingi desa. Dua puluh pasukan dengan pedang dan tombak akan menyerang dari belakang.
            Xzat memanggul pedangnya dengan pandangan buas dan angkuh. Ia member aba-aba pada pasukan berkuda. Kuda jantan hitamnya, Zargabit, terlihat siap menerjang. Zargabit memakai pelindung kepala dan pelana dari jalinan cincin tembaga. Walau tampak berat dan bergemerincing, Zargabit akan aman bersama tuannya melawan musuh. Xzat mengitari desa itu dua kali. Sesuai perintah penyihir raja, "Aku akan membantumu memenangkan pertempuran demi pertempuran di garis perbatasan. Namun turuti perintahku. Sebelum kau menghancurkan desa-desa itu, kau harus mengelilinginya sebanyak dua kali dan baca mantra di kertas ini." Mulut Xzat komat-kamit merapalkan mantranya.
            "Serang!"
Xzat menginstruksikan pada pasukannya. Ia menggerakkan tangan kea rah desa. Dua puluh pasukan berpedang dan bertombak menembus bagian belakang pertahanan desa. Tanpa ampun mereka menebas siapa saja yang tampak mata. Tidak hanya menjadikan manusia sasarannya. Ternak, hasil panen, barang-barang, rumah, semua dibakar. Penduduk Gosheang panik. Mereka merasa tersudut. Pasukan berkuda menyerbu dari jembatan. Perempuan dan anak-anak menjerit sangat kencang. Para lelaki menjadi tameng hidup, tak kuasa membiarkan istri dan buah hatinya menjadi sasaran. Pasukan pemanah datang dari sela-sela gang sempit di desa. Memanjat tembok-temboj rumah warga dan mencari posisi yang tepat untuk membidik. Sementara Xzat dan pasukan lainnya berlindung di balik tameng kayu, hujan anah panah berhamburan saling silang mencari mangsa.
            "Siapa kalian? Kenapa kalian bernafsu memusnahkan kami? Apa salah penduduk desa ini? Jika kalian mau harta kami, ambillah sesuka kalian. Tapi jangan sakiti keluarga kami. Mereka tidak berdosa!" teriak marah seorang lelaki berkampak. Wajahnya merah padam. Xzat memandanginya dengan puas. "Perlukah aku mengatakan pada kalian apa niatku? Ah, itu tidak penting. Ketahuilah, sebentar lagi kalian semua akan kami tumpuk mayatnya di sana," Xzat menunjuk, "dan kami bakar hingga tidak bersisa."
            Lelaki itu menahan amarahnya. Dadanya naik turun. Tangannya teracung pada Xzat. "Kau biadaaaaaaaab!" Xzat mengangkat pedanganya. Sekali hentakan dan tubuh lelaki itu terpotong. Seorang perempuan menjerit. Ia menyambut sebagian tubuh itu. Seketika, sekujur tubuhnya ikut berlumuran darah. "Kau!" perempuan itu menuding-nuding Xzat. "Mana hatimu? Kenapa kau dan pasukanmu begitu kejam?" Xzat melangkah maju. Perempuan itu membola. Ia meringkuk menyembunyikan kepala di antara kedua kakinya. Bergelung sedemikian rupa. Orang-orang semakin ketakutan. Mereka berpegangan dan menundukkan kepala. "Dengarkan!" suara Xzat menggelegar. Orang-orang memandanginya. Pegangan tangan mereka makin erat.
            "Rajaku tidak memerintahkanku untuk membunuh kalian. Maka aku tidak akan membunuh kalian." Terdapat jeda panjang. Satu persatu mata-mata penuh takut bercampur benci itu menatapnya. "Namun aku harus mengambil sumpah kalian yang mendukung rajaku!"
"Siapa rajamu? Kenapa ia membutuhkan dukungan kami?"
"Raja Korguz dari Kerajaan Barat yang akan segera menguasai tanah kalian! Jika kalian telah setia, raja tidak akan mengganggu hidup kalian. Raja akan melindungi rakyatnya."
 "Jika kami menolak, kalian akan membunuh kami?"
"Sudah jelas, bukan?"
            Orang-orang menatap nanar tanpa tahu harus berbuat apa. Xzat menunggu. Namun hasilnya di luar dugaan. "Kami akan melawan sampai titik darah penghabisan. Kami tidak peduli kemenangan, kami membela harga diri!" Lelaki, perempuan, dan anak-anak kini mengambil apapun di sekitarnya yang dapat dijadikan alat membela diri. Mereka maju menghadapi pasukan Xzat. Beberapa prajurit nampak tertegun, tak percaya dengan apa yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri. Suara berbagai benda beradu memenuhi langit. Pedang, garpu jerami, kapak, sabit, tongkat, linggis, sekop, marti, bahkan pisau daging. Anak-anak menyernag secara berkelompok. Para ibu semakin menjadi, jeritannya berubah menjadi lolongan kemarahan. Xzat menaiki Zargabit dan menyapu tembok manusia yang melawan itu.

            "Serang!" Xzat menginstruksikan pada pasukannya. Ia menggerakkan tangan ke arah desa. Dua puluh pasukan berpedang dan bertombak menembus bagian belakang pertahanan desa. Tanpa ampun mereka menebas siapa saja yang tampak mata. Tidak hanya menjadikan manusia sasarannya. Ternak, hasil panen, barang-barang, rumah, semua dibakar. Penduduk Gosheang panik. Mereka merasa tersudut. Pasukan berkuda menyerbu dari jembatan. Perempuan dan anak-anak menjerit sangat kencang. Para lelaki menjadi tameng hidup, tak kuasa membiarkan istri dan buah hatinya menjadi sasaran. Pasukan pemanah datang dari sela-sela gang sempit di desa. Memanjat tembok-temboj rumah warga dan mencari posisi yang tepat untuk membidik. Sementara Xzat dan pasukan lainnya berlindung di balik tameng kayu, hujan anah panah berhamburan saling silang mencari mangsa.
            "Siapa kalian? Kenapa kalian bernafsu memusnahkan kami? Apa salah penduduk desa ini? Jika kalian mau harta kami, ambillah sesuka kalian. Tapi jangan sakiti keluarga kami. Mereka tidak berdosa!" teriak marah seorang lelaki berkampak. Wajahnya merah padam. Xzat memandanginya dengan puas. "Perlukah aku mengatakan pada kalian apa niatku? Ah, itu tidak penting. Ketahuilah, sebentar lagi kalian semua akan kami tumpuk mayatnya di sana," Xzat menunjuk, "dan kami bakar hingga tidak bersisa."
            Lelaki itu menahan amarahnya. Dadanya naik turun. Tangannya teracung pada Xzat. "Kau biadaaaaaaaab!" Xzat mengangkat pedanganya. Sekali hentakan dan tubuh lelaki itu terpotong. Seorang perempuan menjerit. Ia menyambut sebagian tubuh itu. Seketika, sekujur tubuhnya ikut berlumuran darah. "Kau!" perempuan itu menuding-nuding Xzat. "Mana hatimu? Kenapa kau dan pasukanmu begitu kejam?" Xzat melangkah maju. Perempuan itu membola. Ia meringkuk menyembunyikan kepala di antara kedua kakinya. Bergelung sedemikian rupa. Orang-orang semakin ketakutan. Mereka berpegangan dan menundukkan kepala. "Dengarkan!" suara Xzat menggelegar. Orang-orang memandanginya. Pegangan tangan mereka makin erat.
            "Rajaku tidak memerintahkanku untuk membunuh kalian. Maka aku tidak akan membunuh kalian." Terdapat jeda panjang. Satu persatu mata-mata penuh takut bercampur benci itu menatapnya. "Namun aku harus mengambil sumpah kalian yang mendukung rajaku!"
"Siapa rajamu? Kenapa ia membutuhkan dukungan kami?"
"Raja Korguz dari Kerajaan Barat yang akan segera menguasai tanah kalian! Jika kalian telah setia, raja tidak akan mengganggu hidup kalian. Raja akan melindungi rakyatnya."
 Beberapa lama kemudian pertempuran usai. Xzat mengusap peluh. Dielusnya Zargabit penuh sayang. "Ayo, kembali ke perkemahan!" serunya. Gundukan tinggi berada di sudut barat daya desa. Tercium bau daging hangus dari sana. Namun desa lebih didonimasi bau anyir darah dan aroma kedukaan hebat yang melanda. Xzat menarik tali kekang Zargabit, memacunya pergi. Pasukan-pasukan lain mengikuti langkahnya.

2 komentar: