Rabu, 22 Agustus 2012

Simpanan Bapak


shutterstock.com
            "Eh, kamu sudah tahu, belum?"
            Aku menggelengkan kepala. "Tahu apa, Bu Yusti?" Dengan cepat, Bu Yusti menarikku mendekat. Lalu ia berbisik, "Bapak punya simpanan!"
            "Waaah," itu responku. "Kok cuma wah? Kamu ini bagaimana sih?" Bu Yusti berkacak pinggang. Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. "Memangnya harus bagaimana tanggapan saya, bu? Namanya juga tuan tanah, bapak pasti punya banyak simpanan. Katanya bapak terlalu kolot, makanya tidak pernah menyimpan uang di bank…."
            Pletak! Tangan Bu Yusti melayang. "Aduh! Bu, kok saya dipukul?"
            "Kamu ini jadi orang polosnya kebangetan! Masak tidak paham? Itu lhoo…" Bu Yusti menggerakkan-gerakkan kedua alisnya naik turun. Aku mulai mengerti. "Mm begitu…"

            Kemudian Bu Yusti bercerita dengan penuh semangat. Katanya, ia prihatin dan kasihan dengan istri bapak. Tapi aku meragukan keprihatinan Bu Yusti. Suaranya terdengar menggebu dan pupil matanya yang membesar menunjukkan antusiasme yang tinggi. Tak sesuai dengan orang yang merasakan simpati.
            Warung Bu Yusti kedatangan beberapa ibu lainnya. Dan mulailah kelompok ibu-ibu itu menggosip. Cerita bergolak makin panas, drama makin bergoyang. Suara Bu Yusti dan Bu Mila meninggi. Aku sungguh khawatir ada orang lewat yang tak sengaja mencuri dengar.
            Bapak yang dimaksud Bu Yusti maupun ibu-ibu tadi bukan bapakku. Bapak adalah panggilan kesayangan orang-orang sekampung pada Pak Tarib. Ia orang terkaya di kampung kami. Ia bukan penduduk asli. Dulu, waktu kecil, orang tua Pak Tarib ikut bedol desa. Ketika beranjak remaja, Pak Tarib memutuskan berkelana. Dengar-dengar, ia tidak tinggal di suatu kampung lebih dari empat tahun. Hingga akhirnya Pak Tarib menikahi Bu Hayu dan memutuskan menetap di kampung kami.
            Kisah mengenai kekayaan Pak Tarib pun melegenda di kampung kami. Bagaimana ia menginspirasi banyak pemuda pemudi agar tidak berhenti bermimpi. Sering kali Pak Tarib mencekoki kami dengan etos kerjanya yang ulet dan tekun. Aku masih ingat, suatu kali ia pernah menepuk-nepuk bahuku sembari berkata, "Jangan takut mengubah nasib. Jangan mau menjadi orang yang sama seperti orang tuamu. Jangan puas hanya menjadi petani."
            Maksudnya, ia ingin aku memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Bapak kandungku adalah petani. Sementara Pak Tarib tidak meraih keberhasilannya dengan bertani. Ia memilih jalan hidup sebagai saudagar. Dan ia membuktikan, pilihan profesi yang tersedia di kampung kami tak cuma jadi petani.
            "Bu, sudah dengar gosip terbaru?" Aku duduk di sisi ibu di atas dipan. Ibuku yang sudah kepala empat dan mulai beruban masih nampak cantik. Aku selalu terpesona tiap menatap ibu. Keanggunan yang terpancar melalui sorot mata dan senyum tulusnya membuatku betul-betul mengidolakan ibu. Apalagi bapakku sering memuji ibu. "Ibumu perempuan paling cantik dan paling baik hati yang pernah bapak temukan selain eyang utimu."
            "Gosip apa, nak?"
            "Bapak punya simpanan?"
            Ibu seperti orang jantungan. "Bapakmu selingkuh dari ibu?"
            "Eh, bukan bu! Bukan bapakku, bukan bapak kita. Pak Tarib."
            "Nak, kamu dengar dari.."
            Lalu aku menceritakan bagaimana hebohnya gosip itu beredar, dimulai dari warung Bu Yusti. Ibu cuma menghela nafas, mengelus dada, dan menggelengkan kepala. Ibu terlihat syok. Tidak heran. Semua orang di kampung kami sangat menghormati Pak Tarib. Bahkan banyak yang mendorong beliau mencalonkan diri sebagai camat.
            "Nak, jangan suka bergosip. Tidak baik. Itu kebiasaan buruk orang kampung. Orang yang tidak punya kerjaan. Yang bisanya cuma mengurusi urusan orang. Kamu tidak kasihan dengan istri Pak Tarib? Dia pasti nelangsa kalau orang-orang mengetahui aib keluarganya. Jangan pedulikan Bu Yusti." Kalau ibu sudah berkata demikian, aku tidak bisa tidak selain menurut dan menutup mulut.
            Esoknya, aku berusaha menhindari Bu Yusti. Tapi sayang, dia melihatku di pasar. "Kamu tahu tidak? Adiknya Bu Hayu sudah melihat Pak Tarib dengan istri simpanannya itu! Sekarang Bu Hayu punya saksi! Pak Tarib bisa dicerai! Kampung bakal gempar!" Meski aku menggelengkan kepala, mau tak mau aku menyimak juga. Duh, Gusti, telingaku dipakai mendengarkan gosip. Susah menghindari orang-orang macam Bu Yusti.
            Waktu malam, ibu pamit. "Ibu mau keluar sebentar." Kutawari mengantar. Namun ibu menolak. Padahal aku khawatir. Bukan apa-apa, sakit vertigo ibu sering kambuh. Aku takut ibu pingsan di jalan. Apalagi bapak sedang tak ada di rumah dan aku yang ditugaskan merawat ibu. Bisa mati aku dimarahi bapakku.
            "Mbak? Mbak Siti?" Pintu rumahku diketuk seseorang. Ternyata Aulia, anak bungsu Bu Yusti. Dia memang dekat denganku. "Kenapa dik?" tanyaku. "Ibuku sakit kak. Aku mau beli obat. Tapi motornya dipakai Mbak Galuh ke kampung sebelah. Mbak Siti bisa tidak mengantarku?" Melihat wajahnya yang memelas, aku pun luluh. Walau sebetulnya aku malas. Apotik terdekat dari kampung kami letaknya tujuh kilo.
            Akhirnya kami berhasil mendapatkan obat yang dibutuhkan Bu Yusti. Berulang kali Aulia mengucapkan terima kasih dan berulang kali pula aku harus mengatakan, "Tidak apa-apa. Tetangga harus saling membantu."
            Kami melewati jajaran hotel kelas melati ketika Aulia mengusikku. "Mbak, itu mirip ibunya mbak ya?" Aulia menunjuk seorang perempuan. Mataku tertuju pada seorang perempuan yang turun dari mobil bersama seorang lelaki. Dan laki-laki itu Pak Tarib. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar