Senin, 29 Oktober 2012

Rocky dan Ramona

http://www.shutterstock.com/pic-92832922

Aku menunggumu, di depan pintu.
Jam tua besar di tengah ruangan berdentang dua belas kali. Ramona belum pulang. Sial sekali. Aku sangat mengantuk. Tapi ini sudah menjadi tradisi. Sesuatu yang selalu kulakoni. Menunggu Ramona pulang, lalu berbaring di sampingnya. Bergelung dalam selimut yang sama dengan yang menghangatkan tubuhnya.
Ramona, gadis tercantik yang pernah kutemui, gadis yang telah kutemani selama sewindu.

Setiap pagi, aku menemani Ramona. Menghabiskan secangkir kopi. Menikmati sepotong roti. Melihatnya sehabis mandi, mengeringkan mahkotanya yang segelap malam dan kulitnya yang secantik rembulan. Setiap kali Ramona memalingkan kepalanya padaku, aku siap menyambut dengan senyum terbaikku. Kemudian Ramona mulai tersenyum lebar dan mendekatiku. Aku bisa merasakan aroma tubuhnya yang segar seperti dikelilingi rumpun mawar.
Momen paling kutunggu setiap hari adalah menunggu Ramona pulang. Setelah bekerja seharian, akan ada banyak sekali cerita yang ingin segera ia tumpahkan. Aku bisa mendengarkannya hingga larut. Rasanya kantuk yang kutahan-tahan menjadi surut. Melihat keceriaannya, kekesalannya, kesedihannya, apa lagi yang bisa kulakukan selain menikmatinya? Tak ada berkah lebih indah dalam hidupku selain mendapingi Ramona.
Kemudian segalanya berubah.
Ramona mulai sering pulang terlambat. Tak jarang ia mengacuhkanku. Ia membiarkanku terdiam sendu di sudut kamar. Ia mengabaikanku yang terus menatapnya dengan penuh tanya.
Ramona telah berhenti berbagi cerita denganku sejak tujuh hari yang lalu.
Ia mulai asyik bertelepon dengan entah-siapa-orang-itu. Orang yang merusak kebahagiaanku. Ramona mulai tertawa, tertawa, dan tertawa. Sementara aku cermberut, cermberut, dan cemberut. Entah. Ada yang salah. Mungkinkah Ramona berpaling?
Beberapa hari ini kulihat Ramona diantar pulang seorang lelaki. Entah bualan macam apa yang ia makan. Lelaki itu bagai matahari dalam galaksi bima saktinya. Ramona menjadikan lelaki itu pusat dari poros kehidupannya. Setiap aku berusaha mengatakan sesuatu pada Ramona, dering telpon dari lelaki itu menganggunya.
Aku ingin menggigit leher lelaki itu biar dia tahu rasa!
Pukul dua belas malam dan kulihat pemandangan maha mengejutkan. Ternyata kepulang Ramona bersama lelaki itu! Aku yang kecewa, sembunyi di bawah tangga. Tak peduli apakah Ramona merasa kehilangan seseorang yang biasa menyambutnya di depan pintu. Apa peduliku?
“Mau minum apa?” tanya Ramona pada lelaki itu.
Minum saja air kencingku. Berikan padanya, Ramona!
“Air putih saja.”
“Oh, ya. Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu.”
Ramona mencari-cariku. Dia selalu tahu dimana keberadaannku. Ramona membungkukkan tubuhnya lalu membuka kedua tangannya, menyambutku. Memanggil namaku.
“Rocky?”
Aku menyahut.
“Guk!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar