Selasa, 05 Februari 2013

Karbitan


            Gue mencoba mencari definisi karbitan di kamus kateglo tapi nemunya malah karbit buat ngelas. Gue mengambil kesimpulan, karbitan diartikan sebagai jalan pintas, bisa lihat di sini dan di sini. Kenapa gue bahas soal karbit mengkarbit? Maaf ini ga ada hubungannya sama buah-buahan. Seperti biasa postingan yang ditulis dengan bahasa kayak gini adalah postingan curhat jadi kalo mau diskip, silakan J

            Beberapa hari yang lalu gue bikin status nyeleneh. Intinya gue kurang mensyukuri nikmatnya liburan bagi seorang mahasiswa yang kuliah di diploma seperti gue. Udah gue bilang berkali-kali kalo kuliah di diploma itu tantangannya gede. Gue masih rada heran sama orang yang menganggap jurusan kuliah gue ini kerjanya cuma dandan -_- Dia ga tau terakhir kali gue ikut kepantiaan demi nilai salah satu mata kuliah membuat gue cuma tidur 1 jam di H-1. Orang yang membandingkan antara laporan dan tugas lapangan seperti membandingkan kekuatan batu dengan air. Batu kalo dilempar ke kepala orang ya bikin sakit. Tapi air kalo berkubik-kubik juga bahaya, buktinya bisa lihat ke Jakarta (baca : banjir).
            Nah balik lagi ke status. Di situ gue ngeluh-ngeluh ga jelas dan akhirnya gue kena tampar. Salah satu dosen favorit gue, yang gue kagumi baik dari cara ngajarnya maupun pandangan hidupnya, mengomentari status itu. Gue ga nyangka deh. Mungkin dia terganggu kali ya, di beranda dia ada mahasiswinya yang nyampah. Mak jleb! Dan dia mengingatkan gue pentingnya bersyukur. Pada detik itu dunia gue runtuh gue merasa menjadi mahasiswinya yang paling bodoh. Padahal gue pribadi kurang suka sama orang yang ngoceh-ngoceh ga jelas di media sosial. Lihat? Gue belum konsisten soal ini.
            Seandainya bisa, gue mau kasih liat printscreen-nya. Tapi sejak ini lepi diinstal ulang, gue gagal printscreen. Kenapa ya? Ada yang bisa bantu?
            Kemudian sahabat dan teman-teman dekat gue dengan kompak komen juga di status itu. Gue kayak dipukul bolak-balik. Malunya itu, lho! Tapi gue memutuskan ga menghapus status itu. Karena itu kesalahan gue, biar gue inget terus betapa buruknya kicauan gue di dunia maya. Mana dosen gue itu ngasih jempol di komentar salah satu sahabat gue. Oke, jadi tiap ada notifikasi masuk, gue bisa memastikan dia baca.
            Di satu titik gue langsung paham. Gue kurang dewasa. Ini ironi dimana orang yang seusia gue mengakui gue cukup dewasa. Sebagai tempat sampah curhat orang-orang di sekitar gue, jelas gue harus bisa memberikan pertolongan setidaknya perlindungan soal jaga rahasia. Menurut sebagian orang, dewasa itu bisa dipercaya. Dewasa itu bisa memberi masukan atau nasehat. Selama gue bertindak sebagai si pemecah-masalah, biasanya mereka senang. Biasanya. Karena ada juga kan yang curhat ke gue terus gue kasih masukan terus dia jadi “gue-yang-punya-masalah-bukan-lo-jadi-jangan-sok-tau”. Orang kayak gini maunya kita cuma diem aja, yang penting dengerin dia cerita. Dan gue mulai terbiasa berperan seperti ini.
            Sekarang gue tau gue ini apa. Dibilang kekanakan, toh gue ga lemah-lemah banget. Maksudnya, gue sanggup memecahkan beberapa masalah, baik yang datang dari luar atau yang gue bikin sendiri karena kecerobohan. Gue juga bisa dibilang mampu bekerja dalam tim dan memecahkan masalah dalam tim. Gue juga dengan senang hati membantu memecahkan masalah orang lain yang membutuhkan masukan dari gue. Gue mulai terbiasa melihat sisi paling positif dari sebuah masalah.
            Tapi di sisi lain kadar kedewasaan gue belum mumpuni. Jelas gue masih suka keceplosan di lini masa/beranda (curhat di blog ga masuk, gue anggap nulis sebagai terapi). Betul sih, nulis di lini masa atau beranda juga namanya nulis. Tapi bukan terapi. Karena apa yang gue tulis di blog atau di status atau di tweet itu beda. Kalo di blog gue mulai terbiasa menulis hal-hal positif. Coba di dunia maya juga biasa -_- makanya gue menerapkan tingkat keamanan berlapis-lapis di facebook.
            Gue kayak pisang yang dimatengin. Mungkin karena sebetulnya pengalaman hidup gue belum banyak (isitilahnya belum makan asam garam kehidupan). Cuma kalo dibandingkan sama yang seusia dan selingkaran pertemanan dengan gue, yeah gue cukup baik. Sayangnya gue lupa, gue ga bisa menilai kedewasaan dari sekedar mengatasi problem orang lewat curhat. Gue harusnya bisa mendewasakan diri sendiri dalam setiap kesempatan dan kemampuan. Harusnya usaha gue ga boleh kendor. Dan harusnya gue konsisten.
            Dalam beberapa keadaan dimana gue ga beruntung, gue sadar kesulitan-kesulitan dalam hidup itu menempa gue menjadi dewasa. Tapi di beberapa keadaan gue lebih beruntung, maka ketika berbalik menjadi ga beruntung gue mengeluh kaena ga terbiasa. Ini enaknya mengalami ketidakberuntungan di masa lalu. Gue jadi tau apa yang harus gue lakukan (walaupun membiasakan diri dalam menghadapi hal menyedihkan memang ga pernah mudah). Seperti misal gue bertanya-tanya sama orang kayak gue. Orang yang menjadi tempat curhat bagi lingkungannya. Terus kalo dia ada masalah, kemana dia curhat? Sekuat-kuatnya orang ga cerita, dia pasti butuh orang lain. Minimal satu aja yang dia percaya. Dan gue tau jawabannya. Tanpa sadar, gue suka curhat balik. Aslinya gue ini tukang ngeluh. Cuma ga terlalu keliatan aja.
            Padahal gue udah punya best moment jar yang bisa ngingetin gue caranya bersyukur. Tapi lagi-lagi gue lupa bersyukur. Betapa memalukannya waktu gue liat kertas-kertas warna-warni itu. Mendadak gue berpikir, harusnya bahagia dan syukur itu berbanding lurus. Gue akan menjadi orang yang sangat menyedihkan kalo ga membiasakn diri bersyukur.
            Oke di akhir curhat panjang ini gue setuju bahwa kedewasaan itu ga perlu diperlihatkan. Ga perlu diumbar dengan kata-kata. Ga usah ditunjukkan di depan muka. Yang penting kontrol diri. Dan ini perjuangan gue selanjutnya. Buat yang lagi berusaha juga, ayo ada gue sama kalian J

6 komentar:

  1. Itulah kenapa, kedewasaan orang gak bisa diukur. Cuma diri sendiri aja yang bisa ngira- ngira. Yah, namanya juga proses, out of control itu biasa, tapi nantinya pasti kena batunya juga dan sadar. ya kan? Setuju banget sama paragraf terakhir. :D - semoga dengan proses yang panjang ini, bisa jadi tameng buat hidup kita kedepannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. dan disadarkan itu ga enak hahahahhaha

      Hapus
  2. semoga bisa tambah dewasa dech yang pentingkan prosesnya, lagiankan ga ada manusia yang sempurna kok, klo sempurna semua surga penuh dunk, hehehhehehe
    salam kenal

    BalasHapus
  3. kan proses belajar menuju dewasa adalah jalan panjang yang gak akan selesai ^_^ *hugs* Mengeluh sesekali manusiawi asal jangan kebablasan di media sosial

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak kemarin kayaknya kebablasan hehe makasih ya mbak

      Hapus