Senin, 24 November 2014

Jodoh Tidak Ke mana

Mataku menatapmu nyalang seperti serigala menatap rusa. Bibirmu yang merah penuh senantiasa menggodaku untuk mencumbu. Kalau kau lewat, kesadaranku seakan lenyap. Kepalaku hanya berisi kau, kau, dan kau. Otakku menjadi liar, memutar fantasi permainan gila yang bisa dilakukan seorang pria dengan seorang wanita.

Kata orang, jodoh tidak ke mana.

Kami bersekolah di tempat yang sama, dari SD hingga SMA. Tuhan benar-benar berhati mulia. Tak kusangka kami akan akrab. Kau terikat padaku bagai minyak pada wajan. Hingga suatu hari kau mengangsurkan undangan dengan namamu dan namanya di sampul depan.


Seperti sudah garis Tuhan, kita akan bertemu di pelaminan.

***
Flash Fiction 100 kata

6 komentar:

  1. Agak ambivalen artikel ini. Meledak di sequense terakhir
    Endingnya yang nikah bukan kamu dan si dia ya. Tapi si dia dengan yang lain
    Itu yang saya tangkap

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini bukan artikel. ini karya fiksi :)

      Hapus
  2. iya kalau jodoh pasti bertemu kok :)

    BalasHapus
  3. "hingga suatu hari kau mengaangsurkan undangan dengan namamu dan namanya" pasti ada rasa kecewa yang begitu dalam.tapi kalau jodoh ya tak kan kemana :)

    BalasHapus