Selasa, 27 Maret 2012

Terancam


            Hancur. Kau menjadikan segalanya hancur.
            Aku mengeryit. Pesan macam apa ini? Dua buah kalimat yang dituliskan buru-buru di atas kertas lusuh dan hampir tak terbaca karena basah di ujungnya. Seseorang yang cukup bodoh untuk menakut-nakutiku menyumpalkan kertas itu ke dalam lubang kunci. Untunglah kertasnya tidak robek dan mampu kukeluarkan dari lubang kunci sehingga aku dapat membaca pesan yang tertera di dalamnya. Tapi siapa pengirim pesan ini? Kenapa ia mengirimiku pesan penuh kebencian?

            "Kau kenal tulisan ini?" aku menyodorkannya pada Dan. Ia menaikkan kacamatanya hingga benar-benar melekat di bawah alis dan mengamati robekan kertas itu dengan seksama. "Tidak," ia mengembalikan robekan kertas itu. "Bila kau merasa terganggu, kau bisa memberitahu petugas keamanan yang bertanggung jawab di gedung ini. Mau kutemani melapor?" tanya Dan. Ketenangan yang dipancarkan kedua bola matanya membuatku sesaat terpana. "Ya, ya, terserah kau saja," ucapku gugup. Dan tersenyum kecil. "Minum dulu tehmu, tenangkan diri. Aku tidak mau menemanimu bila kau terlihat kacau. Seakan pikiranmu tidak di sini." Dan menuangkan air dari teko dan mengadukkan teh untukku.
            Dan dengan secangkir kopi dan aku dengan secangkir teh, sepagi ini, setiap hari, menjadi rutinitas tidak terlewatkan. Sejak aku menghuni rumah susun satu lantai di bawah Dan. Ia rajin mengetuk pintuku, membangunkanku, dan membantuku membersihkan rumah. Kemudian kami akan bersama pergi ke halted an naik bus ke tujuan masing-masing. Dan seorang pekerja seni. Jam kerjanya relating fleksibel. Selain sebagai pemain teater, Dan juga berkecimpung di dunia sastra. Kini ia tengah menggarap pementasan sebuah drama yang diangkat dari novel sastrawan era 80-an. Aku tak begitu mengerti dunia seni dan sastra tapi aku selalu memberinya dukungan. Mengenai kesibukannya yang terlalu fleksibel hingga tak kenal waktu, aku berusaha maklum. Sebab aku tak mampu mengalihkan pandangan dari tatapannya yang membius.
            Dan menepuk bahuku, "Aku terburu-buru. Bisa kau melapor sendiri? Kawanku telah menunggu di stasiun. Kami akan naik kereta." Aku mengangkat alis dengan malas, "Ya, cepat sana, kasihan kawanmu." Dan menepuk bahuku sekali lagi dan meninggalkanku yang masih mengunci pintu. Suaranya menuruni tangga dengan cepat penuh irama, begiru berisik. Seorang tetangga melongokkan kepala. Ada apa? Kurang lebih begitulah ekspresi yang tersirat dari wajahnya. Penghuni rumah susun yang lain masih terlelap. Pukul tujuh pagi dan terdengar suara gaduh merupakan hal yang jarang ditemui di sini. Aku menyatukan kedua telapak tangan tanda meminta maaf. Tetangga itu mengangguk sekenanya lalu melanjutkan pekerjaannya menyetrika. Suara sumbang penyanyi dari radio menemaninya.
            Kuputuskan tidak melapor hari ini. Toh, hanya secuil kertas yang terselip di lubang kunci pintu. Kertas kumal dan dua kalimat pendek bernada benci tidak akan membunuhku. Tanpa berpikir dua kali, aku melompat menyeberang jalan dan memburu bus ke halte. Lupakan, lupakan, kuulang dalam hati. Biar lepas sejenak kecurigaanku dan konsentrasiku pada pekerjaan yang telah menunggu. Berburu bus merupakan salah satu hal menyebalkan di pagi hari karena besar kemungkinan ketika ketinggalan bus itu akan mempengaruhi suasana hatiku sepanjang hari. Dengan kekuatan tungkai dan lengan, aku berayun masuk. Hup! Beruntung, aku mendapatkan tempat duduk.
            Malamnya, aku baru pulang. Banyak hal yang perlu kuselesaikan membuatku terlambat pulang. Saat berusaha membuka kunci, kulihat secuil kertas kumal lagi, terdorong keluar. Aku membukanya. Hancur. Aku menjatuhkan potongan kertas itu. Apa-apaan ini? Siapa yang berani mempermainkanku? Aku mengambilnya kembali dan membawanya masuk ke dalam. Banyak sekali calon tersangka yang bisa kutuduh. Rumah susun ini terdiri dari lima lantai. Setiap lantai terdiri dari lima rumah. Tiap gedung disambungkan dengan sebuah selasar yang berada di lantai ganjil. Ada lima gedung seluruhnya, berarti ada lima blok. Penghuni sebanyak itu, siapa saja dari mereka berpotensi membenciku. Mungkin karena aku sering membawa banyak teman atau aku menyalahi aturan beristirahat dengan bangun paling dini dan pulang paling cepat.
            Aku mencari-cari Dan. Namun ia tak dapat kutemukan. Ponselnya tidak aktif. Aku baru ingat, tadi sore dia telah berpamitan. Dia harus mengikuti seminar di luar kota. Berarti aku sendirian. Tidak ada Dan yang dapat menjagaku. Tubuhku menggigil. Kasihan. Kasihan aku!
            Aku kembali ke pintu. Pintu telah terbuka. Siapa yang membuka? Bukankah masih terkunci? Tadi aku meninggalkan pintu dalam keadaan terkunci! Aku tidak berani masuk rumahku sendiri. Harusnya aku di atas saja, menginap di rumah Dan. Aku punya kunci cadangan Dan. Ia mengizinkanku tinggal di tempatnya kapanpun aku mau meski selama ini aku berkeras tinggal di bawah. Kali ini aku tidak menolak.
            Aku berlari menaiki anak tangga. Sungguh gila, rumahku sendiri tidak menawarkan keamanan bagiku! Udara malam yang dingin justru berbanding terbalik dengan keringat yang deras mengucur dari ubun-ubun. Benar-benar di luar dugaan. Pintu Dan juga terbuka. Padahal, aku belum mengambil kuncinya. Kuncinya…….tertinggal di laci kamarku. Di sana aku menyimpan kunci cadangan itu.
            Kepalaku pusing. Aku tidak berani memasuki rumahku, tidak juga untuk memasuki rumah Dan. Mataku tak henti berganti memandang anak tangga ke bawah dan anak tangga ke atas. Keadaan terasa sangat sepi dan hening. Kemana semua orang? Aku merasa dipencundangi. "Apa yang kau lakukan?" Dan menarik tanganku dengan keras. "Dan? Kau tidak jadi pergi?" tanyaku. "Aku sengaja berpura-pura mengatakan bahwa aku pergi. Sebetulnya, aku menunggumu. Aku ingin membuktikan kecurigaanku. Ternyata benar, kau melakukan semua ini pada dirimu sendiri!" Dan menyerahkan ponselnya. Di situ terlihat foto-foto aku memasukkan kertas ke dalam lubang kunci lalu mengeluarkannya lagi dan membacanya dengan ekspersi terkejut. Aku bahkan membuka pintu rumahku. Dan memotretnya dari balik tiang.
            Aku terduduk lemas di anak tangga. "Bagaimana kau bisa mencurigaiku?" tanyaku. "Itulah mengapa aku selalu membangunkanmu dan membantumu melakukan segalanya. Kau tidak pernah menyadari apa yang kau lakukan. Kau sering berdiri diam di halte, menunggu bis, tanpa berusaha menaikinya jika bus itu berhenti."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar