Senin, 16 Juli 2012

Olivia [Bagian 3]


            Hujan. Hujan sepagi ini. Alam yang muram. Mendukung kelam dan mendung dalam kamar Olivia. Berbagai memori tentang mama dan papanya berkelebatan bagai video yang dipercepat. Apa, bagaimana, mengapa, dan kenapa terus bergulir dalam kepalanya. Menghantuinya. Membuatnya berguling tak tentu di atas ranjang. Ah, konyol. Dia tak tahu apa-apa. Padahal dia anak mereka. Anak mama papanya. Mengapa dia mesti tidak tahu? Kenapa dia jadi pihak yang buta keadaan? Di mana letak masalahnya?
            Selama ini kedua orangtuanya nampak baik-baik saja. Walaupun kedua orang tuanya bekerja, Olivia tidak merasa kesepian. Dia punya banyak teman yang bisa menemani kekosongannya. Meski menyakitkan di perayaan hari ibu waktu sekolah dasar dulu mamanya tak pernah hadir. Meski menyedihkan di hari ia menjuarai lomba lari dulu papanya tidak melihatnya menerima piala di panggung. Tapi itu cuma masalah kecil. Masalah yang bisa ia atasi lebih mudah.

            Namun, perkara kali ini jauh lebih susah.
           Ia tak ada di dekat kedua orang tuanya ketika mereka akan bercerai. Ia justru berjarak entah berapa ratus kilo dari kota asalnya, merasa asing, dan tanpa kawan. Mungkin ia kurang peka. Mungkin ia tidak merasa. Pasti ada tanda-tanda yang menujukkan ketidakharmonisan dalam sebuah keluarga. Olivia mulai merenung sangat dalam.
"Kamu terlalu memanjakan dia."
"Dia anakku. Memangnya kenapa?"
"Kamu cuma balas dendam karena enam hari dalam seminggu kamu sibuk bekerja. Setiap ada waktu luang, kamu memberi dia hadiah berlebihan. Kamu kira hadiah-hadiah itu akan mengganti waktu yang terbuang?"
"Aku hanya ingin menunjukkan rasa terima kasih karena dia menjadi anak yang menis walau kedua orang tuanya sibuk mencari uang. Aku tidak berlebihan. Apa yang berlebihan dari sikap penuh kasih sayang kepada anak sendiri?"
"Hari minggu kamu jadikan one stop service. Itu bukan cara mendidik yang baik!"
"Kamu bisa mendidik dia lebih baik? Kamu bisa punya waktu luang lebih banyak? Kamu tidak pernah mengambilkan rapot dia di sekolah."
"Jangan membela diri. Kamu pernah ambilkan rapot dia satu kali."
"Satu kali. Dibanding tidak sama sekali."
"Kamu siapkan bajunya setelah mandi, mengambilkannya makanan, dia tidak mandiri! Menyayangi tidak sama dengan memanjakan."
"Alah, kamu bisanya menasehati. Praktekkan dong, buktikan!"
            Bisa jadi itu contoh pertengkaan orang tuanya yang tak ia sadari di kemudian hari menjadi sumber konflik. Bodohnya Olivia. Ia mengutuki diri. Aku melewatkan bagian ini. Atau, mungkin pertengkaran lain. Waktu kedua orang tuanya berebut perhatiannya. Mama memaksa agar papa setuju merayakan ulang tahun Olivia secara besar-besaran. Papa menolak. Selain karena hari itu papa harus pergi ke luar kota, papa juga merasa itu hanya buang-buang uang. "Ajak saja dia makan di restoran favoritnya. Pesta itu mubazir," komentar papa kala itu. Lalu mama tetap pada pendiriannya. Meski papa di luar kota, mama merayakan ulang tahun Olivia. Tanpa papa.
            Sepanjang hari, Olivia tidak keluar dari kamar. Eyang juga tidak mencoba membujuknya keluar. Telpon berdering beberapa kali diikuti pembicaraan singkat. Pasti mama dan eyang. Tanpa melibatkan Olivia. Kenapa tidak cerita, keluhnya. Dia bukan anak-anak. Oke, usianya baru enam belas tahun. Hampir enam belas. Tapi dia sudah SMA. Dia bisa mengerti. Bisa memahami. Dia juga bagian dari keluarga mereka.
***
            "Ayo senyum!" Mas Wahyu menggodanya. Olivia mengumpulkan nafas. Menghembuskannya, lantas berusaha membentuk garis di bibirnya. "Kok senyumnya terpaksa gitu? Lagi sedih ya?" Lagi-lagi Mas Wahyu berusaha memecahkan kekakuan. Namun Olivia tidak berminat meladeni candanya. Terasa hambar. Tidak menarik perhatiam. Tak seperti biasanya, kalau melihat Mas Wahyu, bungah jiwanya.
            "Mas, tahu namaku dari mana?" tanya Olivia tiba-tiba. Ia masih penasaran kenapa dulu Mas Wahyu menyapanya lalu mengantarnya pulang. "Menurutmu dari mana?" Olivia membuang muka. Ditanya malah balik bertanya. Mas Wahyu memang suka bercanda. Sayang, Olivia tengah malas menanggapi. "Mas cari tahu tentang aku ya? Mas naksir aku ya?" Mas Wahyu tergelak. "Justru mas yang harus tanya kenapa kamu sering liatin mas dari jauh." Olivia mengangkat alis. Lho, Mas Wahyu bisa tahu?
"Mas ge-er nih!"
"Tapi betul kan?"
"Mm……"
"Jawab saja, dik! Kamu tidak perlu malu."
"Iya deh, iya."
            Mas Wahyu bercerita, teman-temannya melapor ada anak baru yang sering mengamatinya dari. Kemudian Mas Wahyu mencari tahu tentang Olivia. "Dan ternyata, mas jadi suka kamu." Olivia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan ledakan tawa. Tawa bahagia. Ah, Mas Wahyu bisa saja. "Kamu suka mas juga, kan?" Olivia berusaha keras menahan diri. Salah tingkah. Bukan saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan. Keluarganya sedang dalam masalah dan ia justru tengah jatuh hati. Ya ampun. "Dik?" Olivia meringis. "Mas sudah tahu kan, jawabannya?"


Sebelumnya:

1 komentar: