Rabu, 22 Agustus 2012

Habis, Cinta



http://www.shutterstock.com/pic-70098184
            "Maaf. Tapi aku sudah tidak mencintaimu lagi." Aku menelan ludah. Beberapa detik terasa lambat sebelum aku memalingkan wajah.
            "Apa maksudmu?" Pertanyaan bodoh. Mungkin aku salah memahami kata-kata yang baru saja meluncur dari bibirnya.
            "Aku tidak mencintaimu. Aku tidak punya perasaan apa-apa lagi padamu. Maaf. Tapi aku tidak mau membohongi diriku sendiri. Aku juga kasihan padamu bila kita menjalani hubungan palsu. Hubungan yang dilandasi rasa kasihan. Karena aku tak mau mengasihanimu. Aku yakin kau kuat tanpaku."
            Butuh beberapa detik lagi sebelum aku mengucap, "Oh," pelan dan mengerti.
            "Lihat kan? Kau begitu kuat. Aku tahu, sedalam apapun cinta yang pernah kita miliki, akan ada masanya ketika cinta itu habis. Aku bisa melihatnya, jauh di kedalaman matamu. Aku sudah tahu sejak awal, bahkan sebelum mengatakannya padamu. Kau akan baik-baik saja tanpaku. Kau tidak terkejut apalagi sakit hati. Kau terlampau berani menghadapi segala kemungkinan. Pasti kau juga telah mempersiapkan kemungkinan yang satu ini. Rasa bosanku dan rasa lelahku."
            Aku terus mendengarkan kalimatnya tanpa mengubah ekspresi wajah. Kurasakan rahangku mengeras dan mataku sulit berkedip.

            "Kau……tidak…..pernah..mencintaiku?" Aku terkejut mendengar suaraku sendiri. Aku terkejut masih mampu merespon pengakuanmu. Respon yang terbata dan kusut. Sedikit aneh mendengar suaraku sendiri bicara sangat lambat seperti hampir kehilangan kesadaran.
            "Tidak, bukan itu maksudku. Dulu aku mencintaimu. Sekarang tidak lagi. Aku baru mengerti mengapa banyak pasangan yang mengakhiri hubungan mereka setelah mempertahankannya bertahun-tahun. Ternyata kini aku merasakan yang mereka rasakan. Kehampaan. Mungkin terlalu menjemukan bagiku bertemu dan bicara denganmu setiap hari. Aku butuh sesuatu yang baru. Dan kau juga butuh. Apa kau menyadari akhir-akhir ini kita kehabisan topik? Sering aku menelponmu sementara kita saling membisu. Apa gunanya melanjutkan hubungan ini?"
            Aku mengangguk. Kesadaranku telah meninggalkan tubuhku berkilo-kilo meter jauhnya. Suara dalam hati kecilku tumpang tindih. Aku ingin memberontak dan menyanggahmu. Tapi bibirku terkatup rapat. Aku kembali mencoba mencerna ulang setiap kata dan kalimat yang kudengar. Namun aku kehabisan akal. Semua yang kudengar terasa berputar-putar dalam kepalaku dan menyakiti telingaku. Wajahku terasa berat. Bukan mengantuk. Aku baru sadar lama setelahnya, wajahku berat menahan tangis. Tangis yang tertahan membuatku kesulitan bernafas.
            "Kau perempuan yang baik. Tapi aku tidak cukup baik bagimu. Aku lelaki yang baik. Tapi aku jauh kalah baik dibanding lelaki-lelaki lain yang mengejarmu di luar sana. Dengan melepaskanmu, aku memberi mereka kesempatan sekaligus peluang mendekatimu. Kau akan mendapatkan banyak pilihan yang sesuai dengan kriteriamu. Kau bisa memulai hidup baru dan petualangan yang lebih baru. Kau dapat memperbaiki apa-apa yang masih kurang dalam hubungan kita dulu. Sekarang aku memberimu kebebasan. Kau tidak perlu takut aku marah karena tidak menyetujui keputusanmu. Sebab, mulai detik ini, semua di tanganmu. Kau boleh mencat rambutmu atau mengganti kacamatamu dengan lensa kontak. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak berhak melarangmu."
            Mati aku. Mati. Tidak. Aku tidak bisa. Jangan. Jangan tinggalkan aku. Sama saja dengan kau menguburku hidup-hidup. Jangan-lakukan-ini-padaku.
            "Aku kagum dengan ketegaran dan ketabahanmu. Sepuluh bulan aku mencintaimu dan membuatmu terkungkung. Baru kusadari aku terlampau banyak mengubahmu menjadi perempuan yang sesuai mauku. Sejak menjadi kekasihmu, hampir tidak ada dirimu yang dulu yang bertahan. Seluruhnya kau ubah demi aku. Mengapa aku begitu bodoh membiarkanmu berlama-lama mengalah? Kau perempuan dan kau punya kebebasan. Genggamlah kebebasanmu, aku janji. Dengar, aku janji. Aku pergi. Aku tidak mengusikmu lagi. Tidak dengan tuntutan-tuntutan atau aturan-aturan yang kubuat sepihak. Aku mencintaimu sebagai teman. Bisa kan kita mulai dari awal?"
            Mengapa kau begitu mudah mengatakannya. Seakan kau berkata tanpa berpikir. Padahal aku sudah kepayahan menahan tubuhku yang hampir terjatuh. Punggungku tidak sanggup menahan beban yang entah dari mana datangnya. Kepalaku pening. Mataku seperti terbakar. Aku masih susah berkedip. Seakan aku tidak mau melepaskan sosokmu dari hadapanku. Dan dalam otakku yang beku, aku masih mencerna ulang setiap kata yang kau lontarkan.
            Mungkin kau tidak sadar jari jemariku gemetar. Pasti kau tidak menangkap bahasa tubuhku secara keseluruhan. Kau cuma menyadari wajahku yang datar tanpa ekspresi. Sebab kau tidak sadar, aku tengah meraih kepingan-kepingan yang berserakan. Aku memunguti jiwaku yang berantakan. Mencoba menata ulang. Tanpa aba-aba. Detik ini juga.
            "Aku pamit dulu ya. Jaga dirimu baik-baik." Tepukan terakhir dari tanganmu ke pundakku. Setelah kau melepaskan tanganmu, aku menahan diri untuk tidak meremas pundak yang baru kau sentuh. Aku memandangimu yang menjauh hingga tubuhmu benar-benar hilang di ujung jalan.
            Aku berjongkok dan tersedu.
            Sepuluh bulan adalah waktu terindah sekaligus terlama yang pernah kurasakan dalam menjalin hubungan. Sepuluh bulan yang tidak akan berlanjut lagi untuk kurasakan. Sepuluh bulan yang katamu membuat bosan. Sepuluh bulan yang kau anggap pengecualian untuk tidak menyakitiku karena katamu aku kuat.
            Entah apa definisi kuat dalam otakmu. Entah apa arti kuat bagimu. Dan lagi, entah bagaimana kau cukup yakin aku pun biasa-biasa saja, baik-baik saja, kau tinggal begini. Tanpa tanda-tanda, kau datang, berkata-kata, lalu berlalu. Membiarkanku merayapi sisa hari dengan menjadi cengeng. Walau tidak kuperlihatkan kecengengan di depanmu.
            Hebat. Aku mengagumi diri dengan tidak meneteskan air mata di hadapanmu. Dalam waktu singkat aku mampu mengenakan topeng yang membuatmu mengira aku terlampau berani menerka. Bahwa kau akan tiba kemudian pergi. Pergi yang tidak untuk kembali. Pergi dan melepaskan keutuhanku menjadi kekacaubalauan.
            "Hei!" aku memanggilmu dalam mimpi. "Lelakiku, mau kemana? Kenapa cepat-cepat? Jangan bersegera. Aku masih tahap lambat. Aku masih berduka. Pelankan langkahmu sedikit saja. Aku baru belajar memulai dan menutup hari tanpa senyumanmu."
            Kemudian aku tersentak bangun. Terduduk di ranjang, dalam kondisi berpeluh, lalu menangis sesenggukan. Aku bodoh. Bodoh. Bodoh. Selanjutnya, aku tertidur. Malam-malam berikutnya kulalui dengan terbangun dan tertidur tak menentu. Dalam seminggu, kantung mata hitam menghiasi wajahku di cermin. Jadi, aku menolak berkaca.
            Dua minggu.
            Sebulan.
            Tiga bulan.
            Delapan bulan.
            Aku kembali di titik kau meninggalkanku. Aku menandai titik di ujung jalan melalui mata dan memoriku ketika kau tidak terlihat lagi.
***
            "Kenapa cinta kita begitu sulit?" tanyaku.
            "Agar kita lebih menghargai cinta." Kau melirikku sesaat.
            "Oh ya? Semakin berat perjuangan kita, semakin kuat kita bertahan?" kupinta penegasan. Melalui keteduhan sinar matanya dan ketenangan wajahnya aku dapat menebak.
            "Tentu. Lihat, aku masih di sampingmu, kan?" Kau menatap lurus ke depan. "Jangan pikirkan masa depan. Namun percayalah pada kekuatan harapan. Kita akan baik-baik saja selama saling mencoba dan menjaga."
            Aku heran, kau sungguh dewasa. Kau membuatku ikut dewasa melalui hubungan ini.
            Kau tidak memanjakanku dengan pujian atau barang. Kau juga tidak selalu menyediakan dirimu hanya untukku. Kau justru menempaku menjadi perempuan yang tangguh dan sanggup melalui badai. Ketika aku menangis, kau tidak mengusap air mataku. Namun kau membiarkanku menyelami perasaan dan mengendalikan emosi. Ketika aku marah, kau mendiamkan hingga aku tenang.
            Suatu kali kau bilang, "Kendali ada dalam dirimu, bukan aku atau orang lain." Perkataanmu mencambuki kesadaranku sehingga aku menjadi seperti aku yang sekarang.
            "Aku iri melihat orang lain. Hubungan mereka terlihat terlalu mudah dijalani. Sementara aku menjalani hari-hari dengan rasa khawatir kita tidak berhasil menyelesaikan perjalanan ini." Mendengar pengakuanku, kukira kau akan kecewa. Tapi kau luar biasa. Ujarmu, "dengan rasa iri yang menggigit-gigit, kau dapat membangun keyakinan dan kepercayaan diri. Hubungan sesulit ini, kau mampu lalui. Ternyata kau lebih beruntung. Kau mereguk madu yang berlimpah ruah. Setajam apapun penghalang yang mencoba menghalau arahmu, kau tetap bangkit. Jadi, kau punya alasan berbangga."
            Heran. Ada lelaki sepertimu yang selalu bisa melihat segala hal dari sisi positif. Heran. Terbuat dari apa bilik hatimu sehingga menampungku sangat dalam?
            Aku hampir menyerah. Namun kau meletakkan siku untuk kuamit. Sehingga aku kembali tegak.
            "Aku tidak akan meninggalkanmu." Kalimat itu adalah kalimat yang selalu kuputar ulang rekamannya setiap aku akan menjalani hari demi hari berikutnya. Sejak itu, kalimatmu yang satu itu menjadi pelengkap dan penguat kebahagiaanku. Sial, aku bersumpah tidak mau melepaskanmu, apapun yang terjadi. Aku sanggup patah hati, jatuh, berdarah, berkalang tanah, berselimut abu, bergumul debu bila dengan itu kita tetap satu. Sumpah. Pegang kata-kataku, lelaki. Aku, kau, cinta.
            Kemudian kami dihukum ritme kehidupan. Kau mengejar ambisi, aku mendulang kekaguman. Kagum padamu yang masih menyisihkan waktu bersamaku. Kagum padamu yang menyediakan lahan seluas-luasnya agar aku dapat menyemai cinta dan rindu. Hingga aku tidak ingat sesaknya merasai rindu. Sebab kau paham benar apa yang dibutuhkanku. Ini gila, ini cinta. Kau memabukkanku dalam gelora yang membuat duniaku berwarna.
            "Kenapa diam?" Lama tidak berjumpa, kau menghubungiku. Terlalu lama memendam cerita, aku mulai lupa. Dulu segala hal kukatakan padamu. Setiap detik, menit, jam yang kulalui dalam dua puluh empat jam siap kubagi. Tapi sejak kau menjalani kesibukan, aku menahan diri makin banyak. Hanya yang penting-penting saja yang kuberikan. Selain menyesuaikan dengan waktu yang kaupunya, aku tahu diri untuk memberikan telingaku dan siap mendengar kisahmu. Tentu kau butuh aku. Pendengar setiamu yang mencintai setiap ceritamu.
            "Jangan diam," bentakmu. Tidak, aku ingin memberimu kesempatan lebih banyak berceloteh. Aku rindu celotehmu. Meski kutahan-tahan tiap rindu itu menetes perlahan. Sampai-sampai aku sesak oleh tetesan. Berdenyut aku setiap menyebut namamu dalam hati dan doa.
            Ini yang membuatmu pergi.
            Membosankan. Menjemukan. Kapan aku paham? Kau tidak suka dengan aku yang sekarang, aku yang kehausan. Aku haus akan kisahmu, ceritamu, celotehmu. Hingga kau memilih diam karena aku makin diam. Kemudian kami semakin saling diam. Hingga kau memecah kesunyian.
***
            Kudengar lelaki itu, lelaki yang dulu katanya pernah mencintaiku, lelaki yang memintaku menanam harapan dalam doa. Lelaki yang itu, kata orang, dia sering mencari-cariku. Katanya dia alpa. Dia menyesal salah mengartikan rasa bosan-jenuh-jemu yang dulu ia akui di depanku. Setelah melepasku dan menitipkan kebebasan dalam genggamanku, ia seperti kehilangan dirinya sendiri. Ia sering meremas dan menggenggam kekosongan dalam kepalan tangannya. Ia tidak dapat meraih kembali yang telah ia tinggalkan. Sementara aku, menatapnya, terus menatapnya, dan masih mencerna ulang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar