Selasa, 01 Januari 2013

Sarang Kosong

shutterstock.com

Lenggang
Rumah lelaki berpeci dan perempuan bersarung itu lenggang. Debu terkumpul di sudut-sudut ruang. Tiga hari ditinggal pergi. Orang-orang sibuk mengurus ini itu demi pernikahan si bungsu. Lelaki berpeci dan perempuan bersarung harus menginap sejenak di hotel.
“Bu, acara akad nikah dan resepsinya di hotel saja. Biar bisa menampung lebih banyak tamu. Kalau di rumah sempit. Lagi pula keluarga Ranti sudah memesan tempat.”
Calon besan mereka, orang terpandang. Dan anak gadisnya, Ranti, akan bersanding dengan Rio. Lelaki berpeci kurang suka. “Dia perokok. Bapak saja berhenti merokok, bagaimana mungkin perempuan itu tak segan merokok di depan bapak?” Tapi Rio tak peduli. “Dia perempuan modern, bapak jangan heran.” Bapak kalah debat.

Resepsi
Keluarga besan mengundang banyak orang. Benar-benar kenduri yang “wah”. Begitu terpesona keluarga lelaki berpeci dan perempuan bersarung. Seumur hidup kehidupan sederhana mereka belum pernah menapakkan kaki di tempat sebagus ini. Mata mereka berkeliaran menatap lalu lalang orang menikmati penganan.
Keluarga mereka nampak paling sederhana, berkebaya dan bersarung serta berkemeja dan berpeci. “Udaranya dingin ya,” bisik saudari perempuan bersarung. “Makanannya aneh-aneh,” bisik saudara lelaki berpeci. Namun Rio gagah di pelaminan, mengumbar senyum sembari menggenggam tangan mempelai wanita. Berdiri angkuh ia dengan gaun putihnya, wajah cantiknya seperti malas kehabisan waktu menyalami orang-orang. “Hah, kapan selesai?” gumamnya.
Lenggang
Lelaki berpeci dan perempuan bersarung balik ke rumah. Tak ada keriuhan yang sama seperti dulu. Jika waktunya shalat, mereka menggelar sajadah–berjamaah, lalu memanjatkan doa. Kini hanya berdua. Sepi. Sanak saudara dan kerabat telah pulang ke kampung.
Meja makan senyap. Hilang sudah bunyi-bunyi sendok piring beradu. Cuma empat pasang tangan yang menyuap lauk ikan asin, nasi dan sambal terasi. Mengunyah perlahan selagi gigi masih mampu. Lampu tergantung rendah lima watt itu terlihat mau padam. Mungkin bohlam harus diganti.
Tiga kamar kosong. Sekedar kamar utama yang berisi sepasang suami istri yang renta. Putra-putri mereka mengepak sayap keluar, pergi meninggalkan bilik-bilik dalam sarang, mengarungi dunia bersama pasangan. Membentuk keluarga baru, membentuk sarang-sarang lebih baru lebih nyaman lebih tentram.
Setiap hari jadi beda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Teringat anak. Ada sedikit hampa, menganga, berlubang bagai kasa nyamuk yang digigiti tikus. Angin keluar masuk kasa itu.
Ada kekosongan yang singgah dan tak hilang-hilang.
Lelaki bersarung sibuk menekuri koran. Sesekali ekor matanya menatap jalan. Kapan salah satu sayap putra-putrinya terlihat di ujung jalan.
***
Cerpen ini pernah diposting di K. Sudah unpublished dan dipindah ke blog ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar