Kamis, 21 Maret 2013

Dari Tata Rias Hingga Fotografi



Tauristya adalah salah seorang mahasiswi Komunikasi di Program Diploma IPB. Gadis yang berdomisili di Dramaga ini tengah duduk di semester empat. Selain menjadi seorang kakak bagi keempat adiknya sekaligus mengerjakan berbegai tugas kuliah, ia juga menjalani dua profesi sekaligus. Ia pun menuturkan bagaimana awal mula berkecimpung dalam dua bidang yang menurutnya jauh berbeda tapi merupakan kegemarannya.
            Bernama lengkap Tauristya Putri Wulandari dan akrab disapa Tya, gadis ini menjalani profesi sebagai seorang perias sekaligus fotografer. Ia baru menjalani kedua aktivitasnya itu di akhir pekan agar tidak menganggu jadwal kuliahnya. Jam kerja yang panjang tapi tawaran uang menggiurkan menjadi salah satu alasan mengapa ia mau waktu liburnya terganggu.

            Sekali merias, Tya dibayar sebesar Rp150.000. Uang tersebut diberikan oleh ibunya karena statusnya sebagai asisten perias sang ibu. Biasanya ia mendapat bagian merias pagar ayu, sanak saudara, dan ibu dari pasangan yang menikah. Ia belajar merias secara otodidak sejak kuliah semester satu. Ibunya sendiri memang berniat mewariskan usaha rias pengantin itu padanya. Namun Tya masih mempunyai cita-cita untuk mengikuti kursus tata rias secara profesional sekaligus memiliki properti yang bisa ia sewakan seperti baju pengantin kursi pengantin yang lebih modern.
            Pendapatan yang ia dapatkan dari fotografi lebih besar lagi. Satu kali foto pernikahan yang dimulai pukul enam pagi hingga empat sore, Tya mampu mengantongi pendapatan sebesar Rp200.000. Sementara untuk sesi foto prewedding selama tiga jam, ia mendapat keuntungan sebesar Rp300.000. Ia juga menerima tawaran sesi foto untuk satu orang. Praktis, ia merasakan akhir pekannya penuh dengan aktivitas.
            Awal mula Tya bersentuhan dengan dunia fotografi setelah memiliki kamera DSLR Canon 1000D sendiri. Setelah mampu bermain focusing, Om Rudi yang tak lain adalah pamannya menawarinya untuk membantu usaha studi foto sang paman yang bernama Rudi Photo. Mulailah tawaran kerja memotret datang. Tya mengatakan dalam satu minggu ia bisa ditawari satu hingga dua pemotretan untuk pernikahan. Kadang ia menolak karena merasa butuh istirahat atau sekedar waktu untuk bermain. Namun berdasarkan nasehat ibunya bahwa menolak rezeki itu tidak baik, ia pun mengiyakan tawaran yang datang.
            Baginya, keseruan dalam mencoba berbagai angle hingga rasa kecocokan model fotonya dengan alam membuatnya merasa senang dengan dunia fotografi. Berbeda dengan tata rias, ia harus menyesuaikan paduan warna pada mata dan bibir hingga goresan yang tepat pada alis agar kliennya tidak terlihat lebih tua atau terlalu muda dari usia sebenarnya. Kedua bidang ini hal yang ia sukai dan ingin ia tekuni. Namun kalau harus memilih, ia ingin memperdalam bidang tata rias.
            Tiga faktor utama yang ia sukai dari kedua pekerjaannya di akhir pekan adalah pengalaman, pendapatan, dan kebebasan dalam memilih mana yang bisa ia ambil atau ia tolak. Meski ia sudah cukup handal dalam tata rias dan fotografi bila melihat dari kepuasan kliennya, ia sadar belum memiliki nama dan fasilitas memadai. Kendala tersebut membuatnya ragu untuk menawarkan jasanya.

Tugas membuat paragraf eksposisi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar