Minggu, 16 Juni 2013

Tak Kembali

            Di hari berhujan yang seperti biasa, yang sama dengan hari-hari berhujan lainnya, duduk perempuan-berkaus-kaki-selutut dengan jas hujan yang membungkus tubuhnya. Kau boleh kasihan melihatnya duduk sendirian. Kau boleh pula mengira ia aneh duduk di bangku di bawah ratapan hujan. Tapi lihatlah wajahnya. Segantang harapan terkuak pada celah bibirnya. Tanpa kau pahami apa yang ia nanti.

            Perempuan-berkaus-kaki-selutut mengingat janji yang ia letakkan dalam buaian seorang lelaki. Kita panggil dia lelaki-bersepatu-kanvas. Dari garis wajahnya yang keras, penuh duka dan luka, kita bisa melongokkan kepala ke dalam matanya. Dalam sekali di sana. Ada beriburibu bahkan berjutajuta yang telah ia telan atau yang tak bisa ia buang bermukim. Melekat pula salah satunya adalah janji yang perempuan-berkaus-kaki-selutut letakkan. Nampaknya lelaki-bersepatu-kanvas tidak dapat membedakan apakah ini jenis yang perlu ia telan atau tak bisa ia buang.
            “Tidakkah kau lelah menjadi bahtera? Apakah angin akan mendorong layarmu hingga kau temukan tanjung pengharapan? Ataukah kakimu melangkah hingga lelah menyusuri jalan berbunga?”
            “Aku pantang berkata lelah. Sebab aku akan merasa kalah. Kekalahan itu hanya timbul bila aku menyerah. Hidup itu sendiri perjalanan, mengapa aku memupuskan petualangan? Hidup tidak akan berhenti berjalan selama aku bisa melangkah dalam harapan-harapan yang kubangun susah payah. Ini bukan titik mudah.”
            “Jadilah bahtera untukku dan tunjukkan indahnya samudera padaku. Betualanglah denganku dan jadikan kata-kata dari mulutku sebagai bunga dalam perjuanganmu.”
            “Tidak. Ini milikku, perjalananku, bebanku sendiri. Bukan milikmu atau sesiapa yang menginginkan aku. Karena bila nantinya ikut, kau akan menganggap ini bagian dari perjalananmu juga. Kau bisa saja mengubah arah atau mengambil peta.”
            Lelaki-bersepatu-kanvas menyerah dalam usahanya. Sebagai lelaki ia tidak mau dianggap lemah tapi latar belakang sikapnya hanyalah pasrah. Ia tahu pasti perempuan-berkaos-kaki-selutut harus memecahkan dulu keinginannya. Maka ia mengajukan syarat.
            “Kembalilah bila kau mencapai mega. Kembalilah bila kau jenuh pada semesta. Jika tidak ada yang mendengarmu lagi, maka akulah yang akan menampung segala keluh kesahmu.”
            “Tidak ada laki-laki yang suka menunggu.”
            “Kecuali aku.”
            “Kau punya kehidupan.”
            “Denganmu, benar kan?”
            “Aku tidak di sini untukmu.”
            “Aku pun tidak memintamu, ya kan?”
            Perempuan-berkaos-kaki-selutut diam. Setiap lelaki-bersepatu-kanvas menatap wajahnya lekat-lekat, ia selalu memalingkan wajah. Ia takut akan terbenam di kedalaman mata lelaki itu, tidak sanggup keluar, dan melupakan perjalanan yang ia gadang-gadang. Sebagian isi hatinya merangkak keluar melalui celah di bibirnya dalam bentuk kebisuan yang menggantung di langit-langit. Menjadi awan kelabu. Seperti abu di matanya, juga abu pada bayang-bayangnya. Ia akan segera menguap. Melarikan diri. Mengubah diri. Menjadi partikel bebas.
            Dan mana ada yang tahu kini ia di pinggir jalan, yang tak ada bunganya, yang terlalu terjal medannya. Kakinya terluka, juga sesuatu di balik raganya. Sesulit itu, ia baru tahu, petualangan yang dilakukan seorang diri. Ia bayangkan lelaki-bersepatu-kanvas yang entah akan membukakannya pintu atau tidak. Jangan-jangan si lelaki telah menemukan kedamaiannya sendiri, berlayar jauh melalui matanya, atau tenggelam dalam penantian panjang.

            Maka ia tak pernah berani kembali. Ia hanya duduk, di bawah hujan, menunggu kemarau, membiarkan dirinya membatu. Sementara tanpa sepengetahuannya, lelaki-bersepatu-kanvas telah terbenam dalam matanya sendiri, memunguti janji yang tak pernah kembali.

2 komentar:

  1. salam kunjungan nih.
    Pertama thanks dah berbagi posting yang menarik dan bermanfaat ini
    Semoga sukses

    BalasHapus