Minggu, 29 Desember 2013

Prompt #34 Pedang di Bawah Bulan

shutterstock.com
Kugenggam tangan Cal erat-erat. Kalau ia bukan manusia biasa, tulang-tulangnya pasti sudah berkeretak. Tangannya yang hangat terasa lembut dalam genggamanku yang dingin dan kaku serupa batu. Ya, kalau pacarku manusia biasa, darahnya akan membeku akibat sentuhanku. Namun Cal baik-baik saja, tetap normal suhu tubuhnya, meski angin dingin melingkupi kami akibat aku. Bila ada aku, sekitarku akan terasa lebih dingin dan sunyi.

“Kita bisa. Aku yakin.” Suara Cal terdengar tidak yakin. Aku tidak berani menatap kedua bola matanya yang kureka mulai basah. Aku menebak itu dari suaranya yang sengau. Sepertinya ia sedang menguatkan diri untuk tidak mulai histeris dalam pelukanku. Ah, ia selalu menampilkan diri sebagai sosok tabah. Padahal tak ada salahnya mengakui dirimu lemah.


“Apa yang akan terjadi bila mereka menemukanmu di sini, denganku, sambil berpegangan tangan, di bawah sinar bulan?”

“Di bawah matahari atau bulan kau tetap sama sesuai takdirmu, bukan? Jadi, aku bisa apa? Kau bukan manusia, aku juga.”

“Kuralat, Cal. Aku bukan manusia. Kau manusia pengabdi dewa. Kau bukan manusia biasa yang tak punya tanggung jawab apa-apa atas keberadaanku. Tugasmu membunuhku.”

“Maka aku memilih tidak membunuh pacarku.”

“Jika mereka menghukummu karena melakukan tindakan indispliner, kau mau apa?”

“Memotong sayapku dan menyembunyikanmu dari sinar matahari agar tulang-tulangmu tersembunyi. Kita bisa tinggal di bawah tanah.”

“Tapi aku tidak mau bersembunyi seumur hidupku. Aku harus menghadapi takdirku. Menjadi bukan manusia tidaklah buruk meski tempatku memang bukan di sini. Kesalahanku menyelinap ke atas untuk menginjak bumi, tapi aku bisa kembali ke tempat lain yang seharusnya tak kau datangi. Dunia kita berbeda. Tanpa matahari, kau akan rapuh dan menua lebih cepat. Kulitmu akan pucat.”

Cal menatapku dengan padangan kau-tahu-kan-aku-betul-betul-mencintaimu. Namun aku berkelit dengan menengadah menatap langit. Caranya memandang justru menyiksaku. Membuatku semakin berat melepaskan pegangan tanganku. Angin sudah semakin dingin dan gejala alam makin tak karuan. Beberapa abdi dewa akan mencium bau kejanggalan ini dari radius beberapa kilometer lalu mereka mengetahui keberadaan kami. Mereka akan membantai kami berdua hingga tinggal serpihan bulu dan tulang.

Tempatku memang bukan di atas bumi. Makin lama aku di sini, makin cepat tulang-tulangku dirontokkan matahari. Makin tidak ada gunanya aku mendampingi Cal.

Cal tidak akan membiarkanku pergi, ya?

Benar saja firasatku. Dalam waktu cepat, para abdi dewa telah berdiri di sekeliling kami. Mata mereka menatap nanar padaku. Mereka datang tepat setelah aku menyentak tubuh Cal ke atas sehingga sayapnya mengembang lebar. Ia terkejut sekali. Sebelah tangannya yang terbiasa waspada menarik keluar pedang peraknya. Beberapa abdi dewa membidikkan anak panah mereka padaku. Belum lepas keterkejutan Cal akibat sentakan pertamaku, kusentak ia kedua kalinya dengan cara menarik pedangnya. Ia terlempar, pedang terlepas dari tangannya. Sayapnya mengepak, bingung.

Aku berkelit dari hujan anak panah dengan sebilah pedang di tangan kanan. Auman keras keluar dari mulutku. Lalu salah seorang abdi dewa menendang pangkal pedang di tanganku. Mata pedangnya telah kuarahkan, tepat ke dadaku. Sebelum kusadari Cal mendorongku ke belakang dan menjadikan tubuhnya tujuan pedang.

***

FF ini tidak ditulis bersambung. FF ini masih ditulis dalam rangka tantangan prompt #34 Monday Flash Fiction dengan sudut pandang berbeda. Namun latar yang digunakan masih sama dengan FF sebelumnya

2 komentar: