Senin, 23 Desember 2013

Prompt #34 Senja Pengabdi Dewa

devianart.com
Krak.

Suara tulang yang hancur akibat kuinjak menguarkan bau asam. Aku mengeryit jijik. Sudah belasan kali aku melakukan ini, tetap saja sulit membiasakan diri. Aku masih seorang pejuang minor. Bahkan izin kepemilikan senjataku hanya terbatas pada pedang perak dari pabrik Hades. Mereka bilang, kalau aku cukup kuat dan taat, aku akan segera naik pangkat. Sebentar lagi aku akan dibekali peluru perak, anak panah dengan bulu phoenix, dan air suci dari Istana Poseidon. Sebenarnya aku lebih tertarik mengunjungi istananya dibanding kemungkinan membunuh lebih banyak makhluk astral dengan air sucinya.


“Kita akan makan apa hari ini?”

Dex, teman seperjuanganku, tengah membersihkan pedang miliknya. Setiap kami berhasil menumpas para hantu atau monster yang tak seharusnya menghuni bumi bersama makhluk fana, kami merayakannya. Sebulan terakhir kami sudah lima kali memesan paket Big Box dari Pizza Hut.

“Terserah kau. Hari ini kan giliranmu. Ibuku tidak mau memberiku uang tambahan. Dia bilang, gara-gara pekerjaan sampinganku ini, aku jadi boros. Padahal aku pantas diberi apresiasi. Tidak semua anak seumuranku menjadi pejuang bagi Hades.”

“Jadi, ibumu sudah menerima kenyataan kalau ini “pekerjaan sampingan”-mu ya? Dia tidak lagi menganggap kau gila?”

“Tidak, setelah dia menyaksikan untuk pertama kalinya saat sayapku tumbuh. Dia percaya aku anak yang terpilih. Pikirnya selama ini aku mencari alasan untuk bisa pulang malam dengan mengarang kisah fiksi. Ia hanya tahu anak setengah dewa macam Percy Jackson, bukan pejuang-pejuang berdarah manusia yang mengabdi pada dewa seperti kita.”

“Oh ya, bagaimana kau tahu kita harus memusnahkan makhluk yang tadi itu?”

“Dia memang menipu. Kemampuannya mengubah wujud menjadi manusia memang mengelabui mata kita. Tapi, ketahuilah, mereka tidak bisa sembunyi di bawah matahari. Saat ia duduk dekat jendela, sebagian kulitnya terlihat menjadi bening. Aku bisa melihat tulang belulangnya. Bukan pemandangan menyenangkan yang akan menjadi biasa kau lihat meski ibuku dokter hewan atau ayahmu tukang jagal.”

Drrt. Drrt.

Sebuah pesan muncul di layar ponselku.

Sayang, kau di mana? Ingat kan, hari ini kita ada kencan?

“Dex, maaf, aku tidak bisa berpesta sampai malam denganmu. Lain kali saja merayakannya. Pacarku mengirim pesan. Aku lupa, aku sudah janji dengannya.”

“Oh, yang benar saja Cal.”

“Aku janji Dex, besok aku yang traktir. Setuju?”

“Okelah.”

Aku berlari lima belas blok tanpa henti menuju ke rumah pacarku. Dia lelaki yang sangat perhatian sekaligus pengertian. Dia tidak banyak tanya kalau aku tidak mau cerita. Itulah mengapa aku mempertahankannya. Memang sulit punya kehidupan ganda sebagai pejuang bagi dewa sekaligus manusia biasa.

Ia tersenyum sembari melambaikan tangan dari halaman belakang. Ia tengah menata meja, menyiapkan makan malam istimewa di bawah sinar bulan. Saat ini petang, matahari berkilau keemasan di kaki langit. Romantis sekali.

Dia menyentuh tanganku. Punggungku terasa geli. Lalu sesuatu menyusup keluar dari belakang sini. Di bawah matahari, helai-helai buluku bersinar bagai pelangi. Di bawah matahari, kulitnya berubah sebening kaca, menunjukkan tulang-tulang yang telah menua.



22 komentar:

  1. Balasan
    1. wah terima kasih hehe padahal lama ga nulis nih

      Hapus
  2. Jadi makan malam dilanjutkan atau malah pertumpahan darah? Asik ceritanya.. :D

    BalasHapus
  3. kalau jadi novel kayaknya gak bakalan mau putus deh mbacanya...:D

    BalasHapus
  4. ternyata..... pacarnya.....

    BalasHapus
  5. jadi gak tega mau lanjutin endingnya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan endingnya cuma dipegang tangannya miss hahahaha

      Hapus
  6. pegangin gue ... pegangin gue ...*siapa jg yg mau? XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, udah tau kan jawabannya? :p

      Hapus
  7. Ooww...tidaaakkk.....akhirnya gimana mbak? ^^ *penasaran

    BalasHapus
  8. aku suka dengan deskripsi yang diberikan Linda. bener-bener imajinatif. hanya saja, agak mengganjal di benak perihal si kekasih. sekian lama bersama apakah tokoh aku tidak pernah bertemu pacarnya saat masih ada sinar matahari? ataukah ada penjelasan lain? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. gini mas di sini saya ga jelasin mereka udah berapa lama hubungan atau ketemunya kayak gimana :D bisa aja mereka pacarannya dalam ruangan terus. mas kan bilangnya sekian lama bersama..saya ga mencantumkan dgn jelas atau eksplisit kan ini hubungan udah berapa lama, sekian lama, atau baru..saya setting mereka ga saling tahu, wong pacarnya ini juga diem aja kalo ga dikasi tau..

      Hapus
  9. keren Mba ceritanya..dan endingnya itu ngetwist bgt...

    BalasHapus