Sabtu, 19 April 2014

Prompt #47 Candu

sumber

Suamiku belum pulang. Padahal sudah lewat tengah malam. Aku mengantuk setengah mati, tapi takut tak mendengarnya mengetuk pintu. Lagi pula aku ingin tahu apa ia sudah makan dan apa yang ia makan. Aku kasihan kalau ia tidak sempat makan masakanku dalam satu hari. Sejak kecil ia terbiasa dengan masakan rumahan. Baginya, orang yang suka jajan itu menyedihkan, seperti tidak punya rumah.

Bukan cuma makannya yang kuperhatikan. Suamiku ini juga sangat bergantung padaku dalam hal lainnya. Tidur harus memelukku dari belakang, baju untuk bekerja harus kusiapkan, bahkan membeli kebutuhannya sendiri pun aku yang pilihkan.


Di awal pernikahan aku sempat bekerja beberapa bulan. Lalu aku ditugaskan ke luar kota beberapa hari. Baju ganti selama seminggu kutumpuk rapi di salah satu sisi kasur. Kupesankan katering yang mengantar makanan untuknya tiap hari. Sampai-sampai pintu kulkas penuh dengan catatan dariku. Seperti aku telah menyiapkan kopi sachet di dalam lemari, sepatunya telah kucuci, atau pakaian kotor tumpuk saja di keranjang. Namun itu belum cukup.

Waktu aku pulang, suamiku loyo. Kupaksa ia cerita. Ternyata ia tidak bisa tidur kalau tidak memelukku. Ia tidak nafsu makan kalau bukan aku yang siapkan.

“Rumah kayak kuburan. Aku pulang ga ada orang. Kamu jangan pergi lama-lama lagi ya? Biar aku aja yang kerja. Kalo kamu butuh tambahan uang belanja, biar aku yang usaha. Atau kamu kerja di rumah. Nulis kek, buka toko online kek, asal di rumah.”

“Kalo arisan sama pengajian, gimana?”

“Gapapa. Asal masih bisa pulang.”

“Kamu ini manja atau kelewat sayang sih sama aku?”

“Aku kecanduan.”

“Mungkin rumah ini sepi karena kita belum punya momongan.”

“Bukan itu masalahnya. Mau ibuku nginep di sini atau adik-adikku numpang beberapa hari pun bakal sepi kalo ga ada kamu. Kamu kan istriku. Soal momongan, itu terserah Tuhan. Kita berusaha, Dia yang tentukan.”

Sejak itu aku semakin sayang pada suamiku. Seluruh waktu kucurahkan untuk mengurusnya. Tak ada lagi kata bosan apalagi kesepian. Menunggunya pulang selalu menjadi hal menyenangkan sekarang.

“Kenapa kamu ga tidur duluan?” tanyanya dengan wajah heran.

“Nanti siapa yang bukain pintu? Kan di rumah cuma ada aku sama kamu.”

“Aku bisa ketuk pintu atau telpon kamu.”

“Kamu lupa aku kalo udah tidur kayak apa? Ada bom atom aja aku masih bisa mimpi.”

“Sudah malam. Ayo tidur.”

“Kamu sudah makan belum? Mau aku ceplokin telur? Aku tadi masak bayam, yang makan aku sendiri. Sekarang pasti basi.”

“Tenang, aku kenyang. Tidur yuk?”

Aku mengangguk. Kutunggu ia membersihkan badan. Lalu kubiarkan ia memelukku dari belakang. Sebelum tidur aku mengucap syukur, betapa lengkap hidupku meski hanya memiliki suamiku seorang.

Paginya aku terbangun. Tak seperti biasanya, suamiku tak terbangun ketika kulepaskan pelukannya dari tubuhku. Apa ia sakit atau kelelahan? Tubuhnya dingin. Wajahnya damai sekali.

Kuguncang pelan, ia tetap bergeming. Kupanggil namanya, tapi dia diam saja. Aku menangis sambil memeluknya. Aku menangis karena ia tidak memberiku kesempatan untuk memberitahunya bahwa aku juga kecanduan dengan kasih sayangnya.

***
karya lain bisa di lihat di sini

2 komentar: