Minggu, 01 Januari 2012

Chang, Pejuang Tanah Timur


             Chang
            "Chang!"
Ia menoleh. Sepagi ini, memerah susu sapi. Bulir-bulir keringat menderas, memenuhi tengkuk dan pelipisnya. Matanya sarat rasa lelah. Nafasnya memburu, kadang cepat kadang lambat. Tertatih, ia membawa kantung-kantung perut beruang yang kuat dan tebal berisi susu sapi. Kantung dari perut beruang itu membentuk cekungan dalam, sangat elastis. Cocok untuk membawa banyak benda cair. "Kau, Jem mencarimu. Kukatakan kau sudah meninggalkan peraduanmu sedemikian cepat. Aku tak paham kenapa ia mencarimu saat-saat seperti ini. Terlalu dini, ia masih sakit, ia tidak perlu terbangun ketika hari gelap demi bicara denganmu," sungut Rou.
            "Tenang Rou, tenang. Sabarlah sedikit. Kau paham betul tabiat Jem. Meski sakit, ia tak mau dan tak suka dianggap sakit. Ia pasti memintaku memapahnya berkeliling kaki bukit lagi."
"Jika ia bugar, tentu aku mau menemaninya berolahraga. Namun, dalam keadaan sepayah itu, dengan wajah sememelas itu? Mana berani aku mengusiknya dari ranjang!"
"Dia bosan terbaring sepanjang hari, Rou. Tidak ada orang yang suka sakit. Sudah lima bulan ia hanya ditemani anak-anak perempuannya di dalam rumah. Terbaring tanpa daya. Seakan bayi yang baru dilahirkan. Makan pun dibantu. Aku bisa sedikit memahami rasa kesepian, kebosanaan, dan ketidakbergunaan dalan dirinya. Mendapat bantuan untuk melakukan seluruh aktifitas tentu bukan perkara enak."
            Rou berkacak pinggang. "Kemarikan susumu. Biar aku yang bawa ke dapur. Kau temui saja Jem. Makin hari makin kuyakin bahwa sinar matanya meredup. Lagi pula, bukan cuma aku yang menyadarinya. Istriku dan beberapa tetangga Jem pun mulai melihat keganjilan. Selepas menjenguk Jem, mereka sering mempertanyakan pengobatan macam apa yang tengah ia tempuh. Sebab, rasa-rasanya pengobatan yang dilakoni Jem tidak memberi solusi atas masalah kesehatannya. Entah berapa banyak empedu ular yang sudah ia telan. Kulihat, kulitnya makin putih. Tidak dalam artian baik. Maksudku, pucat."
            Chang menghela nafas untuk kesekian kalinya. Selalu saja berat dan menyakitkan ketika orang-orang membahas kesehatan Jem yang semakin menurun. Jem adalah kakeknya, orang terpandang, orang yang dituakan. Di sini, di tanah timur ini. Jika kedua orangtuanya masih hidup, tak bakal Chang berpikir serumit ini. Kalau Jem tiada, ia harus menanggung beban sebagai peniup terompet kulit lembu yang menjadi benda pusaka. Meniup terompet bukan sesuatu yang sulit, seharusnya. Namun bagi Chang, itu konsekuensti tidak terelakkan sebagai seorang remaja.
            Chang masih ingin menikmati masa remajanya. Ia masih suka berlari di tengah hujan deras, menaiki Clapshang--kuda kesayangannya--menuruni bukit, berguling di padang rumput atau memanjat pohon. Ia masih ingin bermain-main dengan dunia yang indah ini dan menggoda gadis-gadis di tanah timur. Belum, tidak, bukan saatnya. Ketika dia harus melepas segala urusan duniawi dan membaktikan diri pada leluhur. Roh nenek moyang. Segala macam takhayul yang ia percayai setengah hati. Kenapa mereka menjalankan ritual-ritual yang tak pasti? Ia yakin benar adanya kehadiran Sang Pencipta dalam diri setiap manusia. Namun, apakah bentuknya begini? Penghambaan yang salah, terkanya. Meski ia tak memiliki cukup penjelasan untuk itu.
            Peniup terompet kulit lembu dipandang suci. Mereka adalah orang terpilih yang diistimewakan akibat silsilah keluarga. Jadi, keistimewaan mereka merupakan hukum alam. Tak bisa diganggu gugat. Harus lelaki terbaik dalam sebuah generasi. Tak hanya itu, peniup terompet lembu dianggap tidak perlu memikirkan urusan duniawi. Kewajiban mereka ibadah. Tidak seperti kaum tanah timur yang mengucap syukur tiap matahari terbenam. Seorang peniup terompet membaktikan seluruh waktunya hidup dengan alam dan dewa. Hidup dengan cara berbeda. Chang tidak tertarik mengasingkan diri atau membaca mantra sepanjang waktu.
            "Cucuku," suara Jem lemah terbatuk-batuk. Benar kata Rou. Betapa pucat dan mengerikannya tampilan fisik Jem. Selain kulit yang putih pias, kantung matanya menggelantung layu, menggelap. Tulang belulangnya bertonjolan menyedihkan. Gerak tumbuhnya begitu lambat dan menyakitkan untuk dilihat. Rambutnya lemas tanpa daya, seakan makin tipis di kepala. Chang tak bisa membedakan benar rambut Jem menipis atau terlihat tipis akibat lepek? Sudut-sudut wajahnya yang selalu tegas dan sedikit terangkat kehilangan wibawanya kini, Jem seakan segan hidup. Pakaiannya sungguh kusut dan kebesaran. Terlalu banyak deskripsi memilukan tentang Jem. Chang terpaku, ia tak mampu melangkah lebih jauh ke dalam kamar Jem. "Kemari, ayo bantu kakek berdiri."

            "Kakek ingin kuantar kemana?"
"Tidak, kakek cuma ingin berbincang. Kakek kira kamu paham kemana maksud pembicaraan kakek." Chang menatap Jem dengan ganjil. Ia memalingkan wajahnya. Ada sesak tak tertahankan. Namun ia tetap berusaha menghormati kakekknya. Tanpa diminta, ia papah Jem keluar. Mereka menuju kebun di belakang rumah. Rumah berlantai tanah berdinding lumpur itu menghadap ke barat. Letaknya persis di kaki bukit Voshang. Bukit itu rimbun oleh tanaman penduduk tanah timur. Terdiri dari beragam buah dan sayuran. Beberapa petak di sana milik Jem. Sejak muda, Jem telah merawat beberapa petak tanahnya dengan penuh cinta. Menyirami dan memupuki tanpa lelah, mencabuti gulma yang menganggu. Ke sanalah ia menuju setiap rasa penat memenuhi benaknya.
            "Chang, berapa usia kakek?"
"Mmm," Chang merasa bersalah, ia tidak ingat usia kakeknya, "sebentar….seabad?" terkanya. "Ya, seabad sudah kakek di sini. Sudah lama sekali. Usiamu baru enam belas tahun. Pengalamanmu masih seujung kuku kakek, hehe," ujar Jem sambil terkekeh. "Usiamu terlalu muda, cucuku, belum pantas kau memimpin kaum ini. Namun apa daya, kakek juga tak mungkin melepaskan tonggak kepemimpinan begitu saja pada garis keturunan di luar keluarga kita. Dewa-dewa akan murka. Kaum tanah timut akan hidup sengsara. Kakek pasti menyesal dan bersusah hati di alam sana. Kakek ingin meninggalkan dunia dengan hati lapang. Apakah kau menyanggupi permohonan kakek, Chang? Masih ingatkah?"
            Chang diam saja. Matanya menerawang menelanjangi bukit. Hatinya tak keruan. Ingin rasanya ia lari, berteriak, menjauhi kakeknya sambil memohon agar tidak merenggut kebebasannya, masa mudanya. Ia berlutut di depan Jem, "Kumohon, aku belum siap mengemban seluruh tanggung jawab ini. Aku bukan pemuda yang bijak. Aku jarang mengamalkan kitab Sut Vahn Kokh. Aku tidak melakukan ritual mengelilingi Gunung Suci. Aku bahkan belum bisa menahan hawa nafsuku, aku masih menggoda gadis-gadis. Kenapa kakek berharap aku segera menjadi orang hebat yang memimpin kaum tanah timur?"

            Jem terlihat jauh lebih nelangsa dari sebelumnya. Wajah pucatnya semakin senyap, seperti lama tak dialiri darah, serupa membening. Ya, bahkan Chang sendiri takut lama-lama kakeknya akan memudar bersama angin. "Kakek?" Jem mundur selangkah. Bibirnya bergetar. "Kakekmu ini tidak meminta yang macam-macam." Chang bersuara dengan suara yang ditegar-tegarkan, "Permintaan kakek memang sederhana. Bukan berarti yang sederhana itu mudah." Mereka sama-sama diam. Angin bertiup pelan, kadang membawa harum bebungaan di pekarangan belakang. Langit telah terang sepenuhnya. Lingkaran matahari mekar mengabarkan hari baru. Jem mengusap-usap permukaan tanah yang dipenuhi rerumputan hijau. Sayangnya pada kebun ini begitu besar. Kebunnya adalah hidupnya. Ibadahnya, alat komunikasinya dengan alam dan dewa.
            "Chang, apa yang terjadi jika kakek pergi?"
"Aku harus menggantikan kakek karena cuma aku keturunan kakek yang tersisa."
"Menurutmu, bagaiaman perasaan orangtuamu?"
"Mereka akan bangga padaku karena berani memikul tanggung jawab menjadi pemimpin kaum tanah timur di usia semuda ini sekaligus mengabdikan hidupku pada tanah ini."
"Apakah para dewa akan senang?"
"Kakek yang mengajariku bahwa dewa itu baik, mereka selalu senang dengan setiap sembah syukur dan hadiah dari kita. Apalagi bila kita menyerahkan diri menjadi pelayan abadi, membaktikan diri untuk ibadah."

5 komentar:

  1. maaf ya masih aja ada typo disini hahahhaha

    BalasHapus
  2. Keren kok lin...jadi penasaran pingin tahu seterusnya...ha..ha.. ayo posting lagi!

    BalasHapus
  3. iya mbak haya, kemarin mau nulis modemnya ga bisa konek pagi ini baru mau lanjut hahahhaha

    BalasHapus
  4. wah idenya menarik juga......tetap semangat nih

    salam J50K

    BalasHapus