Senin, 16 Januari 2012

Chang, Pejuang Tanah Timur-15

Rim
            Ini pertanda maut semakin dekat. Debar jantung yang meloncat dan kejang otot perut yang berputar-putar seakan siap mengeluarkan sesuatu. Seandainya aku memiliki cermin, aku penasaran dengan wajah seorang lelaki muda yang tengah menghadapi maut. Tubuhku mengejang. Perban dari Sarkaw tidak bekerja. Parah. Penglihatanku gelap terang. Kugulingkan tubuh. Hening. Aku tidak dapat mendengar suara-suara tapal kaki kuda. Apa aku akan segera mati? Seperti apa rasanya ajalku dicabut? Tubuhku bergelung, siap kembali ke haribaan Sang Pencipta. Entah dewa mana yang harus kupuja puji saat ini.
            Rasa dingin mulai menjalar. Keringat membasahi seluruh tubuh. Telapak tangan, telapak kaki, kulit kepala, tengkuk, kening, pelipis, leher, dada, perut, selangkangan, betis, perlahan basah. Nafasku melemah. Aku tak menghindari takdir, bisikku. Aku tak mau melawan kehendak alam. Semua salahku, keberanianku menentang ajaran para leluhur. Seharusnya aku tidak menghentikan Chang menempati posisinya. Sebagai teman lama yang baik--dan sudah seperti saudara kandung--baiknya aku membiarkan kekosongan kekuasaan hingga Chang pulang. Apakah ini karma atas kepemimpinanku yang tumpul? Apakah ini jawaban atas keberangan Sarkaw yang tidak menyetujui tindak tanduk dan perintahku?
            Beginilah mungkin yang menghinggapi orang hampir mati. Takut, sakit, dan sepi. Walau kuhalau susah payah tapi tetap saja. Aku tidak dapat merasakan bahuku. Kini, semacam perasaan ditarik keluar muncul. Sesuatu menarikku. Gelap.
Elepta
            Apa yang harus kami pikirkan sekarang? Salju yang membenam di jalan setinggi dada orang dewasa dan tak berhenti turun! Gunung Elyadoujelo masih lima kilometer lagi dari sini. Jalanannya berkelok. Awalnya kami akan menggunakan jalan rahasia di bawah tanah tapi mengingat udara yang pengap dan rasa takut terperangkap dalam ruangan sempit yang akan mempersempit ruang gerak, kami memutuskan berjalan di atas tanah. Setidaknya, masih ada pemandangan yang bisa kami lihat. Tentu selain salju yang tak henti turun. Seekor ptarmigan batu seputih salju yang montok nampak menikmati langkah-langkah kecilnya di salju. Mata yang tak awas takkan menyadari kehadirannya. Ia mirip merpati dan terlihat cantik. Di kejauhan, seekor rubah mengamatinya dan menganggapnya sebagai camilan sehat yang perlu didapatkan.
            Perhatianku sejenak teralihkan. Aku sibuk menikmati pemandangan di depanku. Predator dan calong mangsanya. Namun ptarmigan batu itu menyadari kehadiran si rubah. Dengan bulu kekuningan, kasar, dan mencolok di antara lautan warna putih. Rubah itu kalah telak. Ptarmigan batu cantik telah berhasil melompat-lompat di antara gundukan salju dan menghilang dalam sekejap. Tentu sulit membedakan seekor putih dengan warna dasar putih di tempat berlatar belakang putih. Bagus. Lagi pula aku tak rela ptarmigan itu dimangsa rubah. Perhatianku pecah oleh pangggilan seseorang. "Elepta, masih jauhkah jaraknya? Aku sudah capek, perutku sakit," rintih seorang perempuan. Aku mendekatinya. Ia istri Istr yang tengah hamil tujuh bulan.
            Sebetulnya aku tak tega melihat perempuan hamil itu harus berjalan berkilo-kilo meter jauhnya demi menyelematkan nyawanya dan bayinya. Ia menjadi lebih sering berkontraksi. Bahkan bercak-bercak darah pun muncul. Aku bisa membayangkan betapa teriris hatinya karena harus memperjuangkan kelahiran seorang anak dengan begitu berat. Ingin kupeluk ia, kuajak pulang ke rumahku, dan kumasakkan makanan hangat. Ia sumringah melihatku mendekat. Tangannya menggapai bahuku. "Aku lelah sekali," bisiknya. Kurasakan sesuatu yang aneh. Cairan merembes keluar dari balik baju panjang dan celemek yang dikenakan. "Air ketubanmu pecah! Kau harus melahirkan sekarang!" Ia terpana dengan kata-kataku. Tak lama, ia mengerang kesakitan.
            Aku panik. Aku tak pernah membantu kelahiran siapapun! Bergegas kucari orang yang sanggup menemani perempuan ini. Aku tak sanggup berdiri di sampingnya sambil melihat ia mengedan dan melihat tangan si dukun bayi berlumur darah. Terlihat olehku dari jauh. dukun bayi kaum tanah timur, Blodr, tampak sudah siap menghadapi keadaan semacam ini. Meski minim fasilitas, ia cekatan dan terampil memanfaatkan apa saja yang ada di sekitarnya. Ia menolong istri Istr. "Elepta, jangan diam saja! Cepat, panaskan salju. Aku butuh banyak air hangat!" Aku mengangguk patuh dan segera melaksanakan perintah dukun bayi itu. Tak ada yang tak berutang budi padanya. Seluruh kaum tanah timur generasiku telah ia bantu kelahirannya. Kini, ia membantu kelahiran keturunan generasiku. Istri Istr pun seusia denganku. Aku curiga, hanya aku di generasiku yang belum menikah apalagi melahirkan. Vetro dan Foug saja telah punya tiga anak.
            Sebetulnya ada Gilian. Dia telah melamarku musim panas lalu. Namun aku belum menjawabnya. Aku ragu. Meski kami telah lama menjalin hubungan, meski ia selalu menunjukkan keseriusannya padaku, meski keluarganya menganggapku putri kecil mereka, meski ia seorang pria yang baik dan tulus. Tidak ada alasan cukup kuat untuk menolak pinangannya. Namun ada alasan cukup kuat untuk mendengarkan kata hatiku. Aku menyukai orang lain. Aku tidak bisa mengingkarinya. Sekeras apapun usahaku mencocokkan diri dengan Gillian, sekeras itu pula wajah lelaki yang kusukai memanggil-manggil agar kucintai. Dan memang aku cinta. Walau aku tak tahu apakah ia sempat memikirkanku barang sejenak. Karena ia milik kaumnya, ia tak usah repot-repot merenungi hati. Karena aku tak cukup mengenalnya sementara semua orang mengetahuinya dengan baik.
            Aku menyayagimu, Rim.
            "Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kasihan istri Istr. Ia baru saja melahirkan. Bayinya pun akan kelelahan. Udara telalu dingin. Bagaimana ini? Di mana kita sembunyi? Di sini, mendirikan pekermahan, akan terlalu mencolok. Kita akan mudah terlihat dan dipantau dari atas sana," bisik Freoh sembari menunjuk ke Gunung Suci. Perempuan berusia separuh abad itu menancapkan ujung tongkatnya yang tajam ke salju. "Aku tidak suka, saljunya terlalu tebal, semakin sulit untukku berjalan dengan tongkatku!" Ya, tanpa tongkatnya, Freoh akan mudah goyah. Kedua kakinya tak sekuat aku. Kasihan. Banyak orang tua dan anak-anak tersiksa dalam perjalanan ini. Aku semakin tak sanggup melihat wajah-wajah kelelahan dan kedinginan yang tersebar di sekelilingku. Bagaimana harus kutolong mereka. Baju hangat atau selimut tidak pernah cukup menghapus terjangan hawa dingin. Angin tak henti bertiup, hujan salju rajin mampir, dan matahari seakan enggan mendengar permintaanku agar tampil.
            Apa kami akan selamat setiba kami di Gunung Elyadoujelo? Apakah tentara-tentara Kerajaan Selatan tidak akan mengejar kami kemari? Apakah para lelaki kami akan sanggup menahan gempuran mereka? Semua tanda tanya itu menarik-narik kepalaku dari kesadaran bahwa kami masih harus tetap menjauh. "Baik, kita istirahat di sini. Tiga malam. Setelah itu, tak ada kompromi. Kita harus segera menuju Elyadoujelo."
"Bekal kita menipis. Ayo berburu," ujar Blodr. Sedikit di antara kami--para perempuan--yang mampu berburu. Itulah mengapa keadaan kami semakin menyedihkan di mataku. Aku menyingsingkan lengan dan menyiapkan setabung anak panah. "Ayo!" seruku bersemangat. Tanpa banyak menunggu, aku lari ke sebuah ceruk di dekat sumber air.
            Sesuai dugaanku, sumber air itu telah membeku. Ah, kami harus mencairkan salju untuk minum. Aku melangkah semakin jauh. Sepelemparan batu dariku, aku sembunyi di balik bebatuan kokoh, sekelompok lembu Musk asyik merumput. Mereka betul-betul keajaiban alam. Mereka mampu mengeruk salju yang tebal dan mendapatkan rumput di bawah salju. Tubuh mereka sangat besar. Namun aku curiga, kebesaran mereka hanyalah akibat bulu-bulu yang membungkus rekat. Jika aku mendapat satu ekor saja lembu Musk, kelompok pengungsi ini akan kenyang. Terbayang olehku daging lezat nan empuk di depan mata.
            Tanpa kusadari Blodr telah berdiri di sampingku. "Masak kau mau berburu lembu Musk dengan panah? Mata panahmu takkan mampu menembus bulu-bulu setebal itu. Pakai punyaku," Blodr menyodorkan tombaknya. "Sejak kapan tombak ini di tanganmu? Kenapa aku tidak sadar kalau kau membawa-bawa tombak?" Blodr terkekeh geli melihat keterkejutanku. "Aku selalu mempersiapkan dengan baik kepergianku. Entah itu berburu, mengungsi, jalan-jalan atau sekedar mengunjungi teman lama. Aku tak pernah meninggalkan rumah tanpa tombak. Selain sebagai perangkat keselamatan, tombak juga membantumu ketika kau lapar dan bekalmu habis."
            Tangguh. Blodr menyerbu kawanan lembu yang mungkin seberat beberapa puluh kali lipat dari tubuhnya. Blodr mengangetkan kawana lembu itu. Ia melempar tombaknya. Sekali lempar, seekor lembu terjatuh. "Jangan terbelalak begitu, Elepta! Kemari!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar