Senin, 26 Maret 2012

Matikan Lampu!


            "Tami, aku takut!" seru Cecil sembari merenggut ujung piyama Tami. "Hei!" Tami menarik ujung piyamanya dari cengkeraman jari-jari mungil Cecil. "Apa yang harus kau takutkan? Ada aku, ada ayah ibumu di lantai bawah. Kau sudah besar, seharusnya kau tidur sendiri. Masak aku menemanimu? Aku belum mau tidur. Aku ingin makan pudding coklat nenek." Cecil mencebik. "Jangan, jangan ke dapur. Nanti kau dimarahi ibuku. Tadi kau sudah menyikat gigi. Kau tidak boleh makan yang manis-manis, gigimu bisa rusak. Besok saja makan pudding coklatnya. Toh tidak ada orang lain yang akan menghabiskan pudding coklat nenek selain kita. Ayah dan ibuku tidak suka rasa coklat."

            Tami gusar. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Cecil. "Dengar, gadis kecil. Jangan melarangku, oke? Tidur sana, aku lebih besar darimu, aku boleh tidur lebih larut. Aku bisa sikat gigi lagi kalau aku mau. Lagi pula, sesekali saja, tidak mungkin gigiku langsung rusak." Tami bangkit dari ranjang. Ia menyingkap selimut dan bergegas memakai sandal bulu berbentuk kepala kelincinya. "Jangan, jangan pergi, aku belum tidur. Temani!" rengek Cecil. Hanya kedua bola mata dan alisnya yang nampak. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut. "Kenapa sih kau ini?" Tami mendelik.
            Tiba-tiba sebuah ide jahil terlintas di kepala Tami. Ia berjingkat ke arah lampu. Klik! Lampu dimatikan. "AAAAAAaaaaaaaaaaa!" Cecil menjerit sekencang-kencangnya karena terkejut. Tami tergelak sampai berguling-guling. "Dasar anak kecil! Hahahahaha! Baru dimatikan lampu kamarnya saja, sudah berteriak. Apalagi kalau seluruh lampu di rumah ini mati. Apa kau tidak pernah mengalami "mati lampu"? Kasihan kau, nak!" Tami kembali menyalakan lampu. Terlihat, Cecil berlutut di atas ranjang dengan wajah bersimbah peluh dan tangan gemetar. Suara gaduh terdengar dari tangga yang dinaiki terburu. Ups! Tami lupa! Suara teriakan Cecil terdengar hingga lantai bawah!
            "Ada apa? Kalian bertengkar?" Kepala nenek menyembul dari balik pintu. Tami tidak bergerak dari tempatnya. Kedua tangannya mencengkeram kerah piyama keras sekali hingga buku-buku jarinya memutih dan telapaknya sakit. Ayah dan ibu Cecil juga muncul dari balik pintu. Wajah mereka nampak khawatir. "Ada apa, Tami?" ibu Cecil bertanya dengan raut wajah cemas. Tami tidak mampu menjawab. Cecil sendiri terdiam, dengan posisi tubuh tetap seperti semula.
            "Tami, kemari sayang, ayo ikut nenek," ajak nenek dengan lembut. Ayah dan ibu Cecil berpandangan. "Cecil, mau tidur sama ayah? Ayah akan membacakan dongeng untukmu," bujuk ayah. Cecil mengangguk singkat. Setelah merayap turun dari ranjang, ia menghampiri genggaman tangan ayah. Jatung Tami mencelus. Bagaimana ini? Apa aku akan dihukum nenek? Ah dasar, Cecil manja!
            "Kau mengusili Cecil lagi?" Nenek bertanya. Nenek mendudukkan Tami di atas kursi makan di dapur. "Iya nek, aku minta maaf, aku menyesal. Aku tidak mengira dia akan berteriak histeris. Sebenarnya, aku bermaksud mengenalkannya pada kegelapan kamar. Dia melarangku kemari padahal aku ingin makan pudding coklat buatan nenek. Cecil itu penakut, dia tidak suka kutinggal sendirian di kamar. Aku bukan pengasuhnya, nek," keluh Tami panjang lebar. "Tapi dia saudarimu. Dia membutuhkanmu. Lagi pula, usianya jauh di bawahmu. Kalian berbeda. Kau dibesarkan dengan disiplin dan kemandirian oleh orangtuamu. Sementara Cecil? Ia terbiasa ditemani," jelas nenek.
            "Jadi?" tanya Tami. "Kau harus minta maaf, tapi kau juga pantas menerima hukuman," nenek mengedipkan mata. Aih, apa arti kedipan mata nenek? Kedua alis Tami bertaut. Nenek tidak pernah memarahinya apalagi menghukumnya. Nenek bisa menghukum? Nenek adalah orang paling sabar di dunia! Tami mengikuti perkataan nenek. Ia menghampiri Cecil. "Ssst! Cecil sudah tidur!" ayah Cecil meletakkan jari di depan mulut. Ayah Cecil baru saja kelaur dari kamar. Terlambat! pekik Tami dalam hati. "Cepat tidur, besok kau sekolah," ujar ayah Cecil.
            "Nek, Cecil sudah tidur! Besok saja ya aku minta maaf?" rajuk Tami pada nenek. "Wah, bagaimana dengan hukumanmu?" tanya nenek. "Kau belum tidur, nenek juga belum. Mari kita melaksanakan hukuman untukmu," ucap nenek. Aku benar-benar dihukum? Dalam benak Tami tergambar adegan hukuman yang terburuk yang bisa ia pikirkan. Dicubit? Dilarang menonton televisi? Tidak boleh bermain selama seminggu? Tami bergidik ngeri.
            Nenek mengajak Tami ke ruang tamu. Di sana terdapat kotak sekring listrik. Terdapat beberapa sekring yang diberi label dengan warna berbeda. Letaknya agak tinggi. Meski Tami tengah mengalami masa pertumbuhan yang pesat, ia masih kesulitan menjangkau kotak sekring tanpa menaiki kursi. "Ini kotak sekring. Fungsinya untuk menyalakan atau memutus aliran listrik. Nah, rumah kita menggunakan listrik prabayar. Kita bisa mengetahui pemakaian listrik kita setiap harinya selama sebulan. Nenek ingin kau mengecek sekring ini setiap hari. Kita harus mulai menghemat energi. Karena kau suka mematikan lampu, nenek percaya kau bisa melakukannya. Bila lusa nanti terjadi kenaikan biaya pemakaian listrik dalam satu hari dibanding besok, kau harus memeriksa setiap lampu dan peralatan elektronik di rumah ini. Se-mu-a-nya. Selain lampu dan alat elektronik, kau tidak boleh melewatkan setiap pengisi daya ponsel maupun travo. Jika tidak sedang digunakan, kau musti memastikan alat-alat listrik itu tidak tersambung dengan aliran listrik. Tugasmu berlaku selama satu bulan ke depan. Paham?" Tami mengangguk.
            Mulai hari itu, Tami tidak menakuti Cecil lagi. Ia telah disibukkan dengan pekerjaan barunya, memeriksa listrik! Nenek pun sudah menasehati Cecil untuk tidak takut dengan kegelapan. Jangan heran, jika kau melewati rumah mereka, kau akan mendengar teriakan nyaring Tami. "Matikan lampu! Kita harus menghemat energi!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar