Senin, 16 Juli 2012

Olivia [Bagian 4]


            "Kamu anak kelas satu yang dari kota itu, ya?" Olivia mendongak dari buku yang ia baca. Mengganggu. Di dekatnya berdiri seorang anak lelaki, dengan bola sepak di tangan kiri. "Iya. Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa." Lelaki itu berlalu. Olivia mengerutkan kening. Dasar aneh. Memangnya kenapa kalau aku dari kota? Masalah buat dia? Olivia ingat, beberapa kali ia merasa ada yang melihatnya dengan sinis. Mungkin laki-laki itu orangnya. Olivia kembali melanjutkan membaca buku. Ia tengah menunggu Mas Wahyu pulang. Mereka akan bermain ke kota kecamatan.
            Sebagai anak kelas satu, Olivia menjalani nasib yang sama dengan anak-anak kelas satu lainnya. Masih menjaga sikap sebaik mungkin. Berusaha tidak membuat kesalahan atau terlihat mencolok. Bersua dengan kakak kelas pun masih segan. Rasa sungkan tumbuh, merasa diri anak bawang. Hanya satu dua yang benar-benar merebut perhatian. Seperti Rika, teman sekelasnya. Perempuan yang cantik dan centil. Dalam seminggu, hampir semua anak lelaki kelas dua dan tiga telah mengenal Rika. Dengar-dengar mantan pacarnya anak kelas tiga. Hebat juga.

            Tidak banyak yang tahu tentang hubungan Olivia dan Mas Wahyu. Mereka jarang terlihat berdua di sekolah. Apalagi sekolah mereka menerapkan sistem moving class sehingga mereka tak punya kelas tetap. Di sekolah, Mas Wahyu lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Sesekali ia menyambangi Olivia. Namun tak ada yang curiga tentang status hubungan mereka.
            Olivia sangat bersyukur berpacaran dengan Mas Wahyu. Tanpanya, mungkin Olivia akan sangat kesepian. Ia tidak nyaman dengan teman-teman barunya. Tak mengerti bahasa atau apa yang mereka bicarakan. Tak memahami apa yang memancing mereka tertawa. Apalagi beberapa anak bersikap berlebihan. Membandingkan kota dengan desa. Bertanya banyak hal tentang kota. Membuat Olivia merasa semakin berbeda.
"Apa rasanya tinggal di kota?"
"Sama saja, seperti kamu tinggal di sini."
"Ah, beda. Di sana ada bioskop. Banyak mall. Aku lihat di tv-tv begitu. Pulang sekolah, anak-anak main di mall."
"Itu kan sinetron. Tidak semua anak yang pulang sekolah langsung pergi ke mall."
"Kamu suka ke mall?"
"Kadang-kadang."
"Terus kenapa kamu pindah ke sini? Di sini kan tidak ada mall. Mall letaknya jauh."
"Karena aku ke sini bukan untuk main di mall. Tapi sekolah."
"Bukannya sekolah di kota bagus-bagus?"
"Siapa bilang? Tidak semua sekolah di kota lebih bagus dari pada di desa."
"Tapi pasti beda."
"Perbedaan itu wajar."
"Bedanya seperti apa?"
            Olivia menyerah. Percakapan berakhir dengan wajah Olivia yang bertekuk. Dia bingung bagaimana menghadapi pertanyaan teman-temannya. Hidup di kota bukanlah segalanya. Dia tidak nyaman bila ditanya terus menerus. Karena dia tidak mau berbohong. Aku memang lebih suka di kota tapi mama memilih agar aku sekolah di desa. Apa yang wajar dari pilihan itu? Olivia mendengus. Kecewa tergambar di wajahnya. Ketika teman-temannya berkumpul dan bermain sepulang sekolah, ia enggan terlibat. Sering ia terdiam karena teman-temannya asyik dalam dunia mereka. Ia berbeda. Ia hanya pendatang.
            "Kamu tidak boleh begitu." Mas Wahyu duduk di sampingnya. "Jangan merasa berbeda. Bukan soal kamu datang dari mana. Tapi bagaimana caranya kamu bertahan dan berjuang menghadapi perbedaan. Kamu memang orang baru tapi kamu tidak selamanya menyandang predikat baru. Makin lama kamu tinggal di sini, seharusnya kamu makin terbiasa. Kamu yang harus menyesuaikan diri. Bukan orang-orang yang mengalah buat kamu. Ayo dong, mana semangatmu? Jangan mengeluh terus. Kapan kamu niat serius belajar bahasa Jawa? Kapan kamu membuka diri dan menerima teman-teman barumu? Mas di sini sebagai pacarmu. Tapi mas tidak selamanya ada buat kamu. Kalau mas sedang punya urusan, kamu dengan siapa? Kamu akan bagaimana?"
            Olivia masygul. Entah harus dijawab apa ceramah Mas Wahyu barusan yang panjang lebar. Ia tidak menyangkal, ialah yang menjaga jarak. Tapi mau apa lagi? Kecanggungan luar biasa menguasai dirinya. Tiap maju ke depan kelas saja ia gemetar. Bingung mau bicara apa. Takut dicemooh. Takut dilihat. Takut menjadi pusat. Seakan maju ke depan kelas setara dengan maju di persidangan. Meski ia tak tahu rasanya disidang.
            "Yuk, berangkat." Mas Wahyu memecah lamunanya. Menggandenganya ke parkiran sepeda. "Sebentar ya. Mas ambil sepeda dulu." Olivia hanya mengangguk. "Hei, kamu. Anak baru." Olivia mencari asal suara. Anak lelaki yang tadi. Masih membawa bola. Wajahnya terlihat kurang bersahabat. "Apa?" tanya Olivia menantang. Ia tak suka dengan sikap lelaki itu. "Kamu pacaran dengan kakak kelas? Wah, hebat sekali. Padahal anak baru. Sudah berani lirik kesana kemari." Kurang ajar betul. Olivia bersidekap. Dagunya terangkat. "Keberatan?"
"Sedikit."
"Bukan urusanku."
"Kudengar, kamu tidak punya teman."
"Bukan urusanmu."
"Kamu itu anak baru. Kamu yang perlu menyesuaikan diri. Bukan orang lain yang mengikuti kemauanmu."
"Aku tidak minta nasehat."
"Kamu kekanakan."
"Lalu?"
"Kenapa orang seperti Wahyu mau sama kamu?"
            Olivia benar-benar dibuat jengkel. "Dengar. Jangan-ikut-campur. Siapa pacarku atau berapa jumlah temanku, tidak ada hubungannya denganmu. Aku anak baru, apa masalahmu? Tidak pernah jadi anak baru ya? Kasihan."
"Aku tidak suka kamu bersikap sombong. Banyak yang bilang kamu terlalu diam dan memakai alasan tidak bisa bahasa Jawa. Kamu bukan siapa-siapa, jadi tolong jaga sikap dan kata-kata. Coba dong latihan jadi pribadi yang rendah hati. Karena kamu di sini, kamu perlu belajar bahasa Jawa. Bukan orang lain yang mengalah dan memakai bahasa Indonesia."
"Bahasa Indonesia itu bahasa persatuan."
"Kalau semua orang di sini pakai bahasa Indonesia, bahasa Jawa bisa punah."
            Kring kring! Bel sepeda Mas Wahyu terdengar dari kejauhan. Mata lelaki itu menyipit. Ia segera pergi, meninggalkan Olivia yang terlihat merah padam. Argh, apa maunya. Mas Wahyu boleh menceramahiku. Tapi dia? Kenal saja tidak! "Maaf ya, lama. Kamu kenapa, dik? Kamu marah?" Mas Wahyu terlihat heran melihat perubahan bahasa tubuh dan ekspresi Olivia. "Eh, mm, tidak kok mas. Aku naik, ya." Olivia duduk di boncengan. Berusaha mengendalikan amarahnya. Ia tidak ingin Mas Wahyu tahu.

Sebelumnya:

2 komentar:

  1. klo pada rame dan nge-joke biasanya saia telat ktwa... tanya dulu artinya sama temen yang jawa... xixixi... agak sebel juga sih knp ga pake b indo aja... cumannn klo dipikir" di mana bumi di pijak yah disitu langit dijunjung kan? singkatnya "adaptasi"... alhasil lama" ngerti tapi pasif... soalnya klo ngomong suka diktawain krn aneh gt :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga suka gitu mbak kalo pulang kampung.kayak orang dari planet lain.merasa asing.hahahaha

      Hapus