Senin, 21 Januari 2013

Life of Pi, Kehidupan di Antara India dan Kanada

adrianpradana.wordpress.com


Judul              :           Life of Pi
Penulis          :           Yann Martel
Alih bahasa  :           Tanti Lesmana
Tebal              :           448 halaman
Cetakan         :           Keenam, Desember 2012
Penerbit         :           PT Gramedia Pustaka Utama

            Awalnya, Yann Martel ingin menulis sebuah novel yang belatar belakang Portugal di tahun 1939. Ia berencana menulis novel tersebut di India. Suatu ketika, ia bertemu seorang pria tua yang berkata, “Saya punya cerita yang bakal membuat Anda percaya pada Tuhan.” (hal 11). Yann Martel pun tertarik dan mencoba mencari informasi pada sumber tepercaya, satu-satunya korban selamat dari peristiwa tenggelamnya kapal Tsimtsum. Korban itulah yang menjadi pemeran utama dalam buku ini, Piscine Molitor Patel.
            Kebanyakan orang India kesulitan mengeja nama Piscine. Orang India melafalkannya sebagai pissing. Piscine kecil sering menjadi bahan ejekan akibat namanya itu. Ia pun bertekad mengubah nasib. Ketika menginjak bangku SMP, ia memperkenalkan diri sebagai Pi Patel. Orang tidak lagi memanggilnya sebagai pissing tapi memanggilanya pi atau tiga koma satu empat.

            Namun bukan itu inti dari cerita dalam buku ini. Life of Pi menggambarkan perjuangan hidup seorang Pi Patel yang kehilangan keluarganya dalam musibah tenggelamnya kapal Tsimtsum. Bagaimana ia bertahan hidup di tengah Samudera Pasifik bersama sebuah sekoci dan seekor harimau Bengal selama 227 hari. Bagaimana ia tidak mau menyerah pada kematian dan tetap percaya pada Tuhan. Di sini kisah ini mulai menarik.
            Pi Patel digambarkan tumbuh dengan latar belakang keluarga yang sekuler dan modern. Uniknya, ia tidak sekuler seperti  orang tua atau saudara laki-lakinya. Pi menjadi anak yang religius. Sisi religiusnya dianggap menyimpang oleh para pemuka agama di Pondicherry. Sebab ia secara terang-terangan menganut tiga agama sekaligus yaitu Hindu, Islam, dan Kristen. Ketika hal ini dipertanyakan oleh kedua orang tuanya, Pi menjawab, “Kata Bapu Gandhi, ‘semua agama baiknya adanya.’ Aku cuma ingin mengasihi Tuhan.” (hal 112). Bapu Gandhi yang dimaksud adalah Indira Gandhi, mantan perdana menteri India. Sepanjang kisah ini, Indira Gandhi cukup berpengaruh terhadap pola pikir seorang Pi Patel.
            Kecintaan Pi Patel terhadap hewan telah tumbuh dalam hatinya sejak masa kanak-kanak. Pada bab-bab awal Life of Pi, Pi Patel banyak mengisahkan kehidupannya yang menyenangkan di Pondicherry bersama hewan-hewan dalam kebun binatang keluarganya. Ia memaparkan banyak fakta menarik tentang hewan yang nantinya justru sangat menolongnya ketika terdampar di Samudera Pasifik.
            Indira Gandhi yang nampaknya dipuja oleh Pi Patel justru dikecam oleh ayahnya. Hingga sang ayah memutuskan membawa keluarganya-beserta sebagian besar hewan dari kebun binatang mereka-untuk pindah ke Kanada. Kemudian musibah tersebut terjadi. Pi sendirian waktu ia berjuang menyelamatkan nyawanya di atas sekoci yang awalnya ia kira kosong. Di dalam sekoci itu justru ada seekor hyena, zebra, orang utan, dan harimau bengal muda bernama Richard Parker.
            Kisah Pi Patel mungkin sulit dipercaya oleh akal sehat manusia. Seorang anak usia enam belas tahun, di tengah belantara Samudera Pasifik, sanggup bertahan hidup? Apalagi dengan pengakuannya mengenai hewan-hewan yang menemaninya dalam sekoci (pada akhirnya hanya ia dan Richard Parker yang selamat). Ketidakpercayaan ini menimpa dua orang petugas dari Departemen Maritim Kementrian Transportasi Jepang yang mencoba mencari tahu penyebab tenggelamnya kapal Tsimtsum. Pi menjawab, “Kehidupan ini juga sulit dipercaya, tanyakan pada ilmuwan mana pun.Tuhan juga sulit dipercaya, tanyakan pada siapa pun yang mempercayainya. Kenapa anda tidak bisa menerima hal-hal yang sulit dipercaya?” (hal 417).
            Untuk seorang anak laki-laki berusia enam belas tahun, Pi Patel memiliki kecerdasan dan ketabahan yang luar biasa. Caranya menyikapi hidup dan menjalaninya membuat siapa saja dapat terhenyak kagum. Ia tidak ragu dalam dalam memutuskan sesuatu dan ia dapat mengilustrasikan dengan baik alasan logisnya dalam mengambil keputusan.
            Hal menarik lain dalam Life of Pi adalah cara Yann Martel dalam menuliskan kisah Pi. Enam bab pertama membuat saya menebak-nebak, point of view macam apa yang digunakan Yann Martel dalam menuliskan novelnya. Saya sedikit kebingungan. Kemudian saya menyadari, Yann Martel tidak hanya menuliskan novel ini berdasarkan sudut pandang orang pertama alias si pelaku, Pi Patel. Yann Martel juga bertindak sebagai dirinya sendiri. Ia menceritakan kesan-kesannya ketika bertemu Pi Patel, juga sedikit interaksi mereka. Ia juga tak alpha menggambarkan kehidupan sang tokoh saat ini bersama keluarganya di Kanada.
            Kekurangan? Mungkin bagi sebagian orang cara bertutur Yann Martel kadang terasa menjemukan atau panjang lebar. Bagi saya, justru di situlah sisi menariknya. Yann Martel betul-betul sukses dalam menunjukkan secara utuh sisi-sisi pemikiran dan perasaan seorang Pi Patel. Sebuah novel yang tidak hanya keren dan menghibur, tapi juga menginspirasi dan mengajarkan banyak nilai kehidupan.

2 komentar:

  1. lin kamu baca bukunya? aku cuma nonton filmnya aja hhaha twotumbs

    BalasHapus
    Balasan
    1. baca cut, baru beli pas uas kemarin hahahahahha, filmnya gimana filmnya? cerita doooongs :D

      Hapus