Rabu, 19 Maret 2014

Curhat Hari Ini

Abis solat maghrib tadi gue mutusin buat tidur sebagai balas dendam karena kemarin kemarin kurang tidur. Gue keasyikan nulis TA sama ubek-ubek e-book sebagai daftar pustaka dan akhirnya selama beberapa hari gue tidur tengah malam. Kebiasaan kebangun jam tiga pagi dan meskipun abis itu tidur lagi ampe subuh tetep bikin gue agak loyo di siang hari. Gue kira hari ini bakal bisa tidur nyenyak dan lama sebelum akhirnya ada telpon masuk dan gue jadi susah tidur lagi.

Teman-teman gue yang pkl tahap 1 lagi sibuk-sibuknya seminar. Setelah telpon masuk, banyak yang curhat soal seminar. Karena ga tegaan, walau lebih suka tidur akhirnya gue ladenin. Dan akhirnya gue keterusan ga tidur dan teleponan lagi dengan orang yang berbeda. Telpon kali ini berkesan. Gue ngobrol sama teteh gue. Soulmate gue.

Seumur hidup, gue dan dia punya banyak kesamaan. Sama-sama lahir di tanggal enam. Punya pacar di bulan yang sama. Punya siklus percintaan hampir mirip (dia lebih beruntung karena bisa langgeng). Tahun ini gue dan dia sama-sama lulus kuliah (gue diwisuda bebrapa bulan lagi, Insya Allah), sama-sama tinggal jauh dari keluarga karena dia kos di luar kota buat kerja sementara gue dengan alasan pkl, dan ada satu hal yang ga sama. Dia mau nikah.

Gue sangat senang dengan hal ini karena gue yakin dan percaya pasangannya itu orang baik. Tentu gue ikut bahagia. Akhirnya perjuangan cinta mereka haha maksudnya kisah mereka akan dimulai dalam petualangan baru bernama biduk rumah tangga. Gue pribadi sebetulnya, tahun ini, hampir mengalami hal yang sama. Bukan, bukan mau nikah muda. Tapi seperti juga teteh gue yang mau nikah, gue hampir dapat restu.

Jadi ceritanya ada seseorang dan kedua orang tua gue menerima dengan tangan terbuka. Selama dua puluh tahun gue hidup, baru kali ini orang tua gue ngasih lampu ijo buat cowok yang gue suka. Bedanya teteh gue dapet lampu ijo dan merencanakan lamaran. Gue merencanakan udahan. Gue pikir ini yang gue cari dan tunggu. Restu. Nyatanya gue justru makin ga sreg sama orang ini. Gue tau jalan gue bukan sama dia. Ada hal dalam diri dia yang sepertinya akan sulit gue pahami. Tapi sudahlah, itu bukan masalah. Gue tetep hepi.

Gue berharap minimal tahun ini bisa menyamai teteh buat dapet kerja. Meskipun orang tua maunya gue lanjut kuliah. Ga masalah. Gue sangat berharap dapat restu buat kuliah sambil kerja. Itu akan lebih membuat gue bahagia. Gue masih bisa mencari atau menunggu restu orang tua buat lelaki berikutnya yang muncul dalam hitungan minggu atau bulan. Itu bukan hal mendesak sekarang. Bagi gue, kuliah dan kerja jauh lebih mendesak.

Orang-orang di tempat pkl gue ini baik banget. Mereka semua perhatian. Oke, ga semua, dan kadar perhatiannya beda-beda. Tapi minimal kepedulian mereka ga bikin gue kesepian. Dan gue mensyukuri itu sepenuh hati. Gue yang pemalu dan sulit buat deal berinteraksi terus menerus dengan lawan jenis mau ga mau berubah. Karena yang satu ruangan sama gue semuanya lawan jenis. Ternyata ada enaknya juga jadi satu-satunya perempuan di sekumpulan laki-laki. Gue seperti sedikit dimanjakan. Mungkin karena mereka ingat saudara atau istri atau anak atau apanya mereka yang perempuan. Hehe

Udah dua orang di sini yang bilang nanti gue bisa aja gitu kan kerja di sini. Ya bisa. Asal gue lanjutin kuliah dulu. Walau ini agak di persimpangan. Gue masih punya ambisi dari kecil. Gue kan ga merencanakan kuliah komunikasi sebagai salah satu jalan hidup. Gue masih punya harapan bisa kuliah yang lain. Gue ga peduli harus ngulang dari semester satu asal itu jurusan yang gue mau. Gue ga peduli sama umur karena menurut gue ilmu itu bakal kepake seumur-umur hahahaha. Jadi gue masih mau kuliah bahasa, psikologi, HI, sejarah, apa lagi ya? Oke itu terdengar aneh apalagi kalo misal ujungnya gue menjadi ibu rumah tangga. Memang, seorang ibu tetap butuh ilmu buat mendidik anaknya. Agak aneh sih memang kalo gue kuliah beraneka ragam hanya demi jadi ibu yang baik. Kuliah juga butuh waktu kan. Tapi yang utama gue pengen banget kuliah jurnalistik dan bahasa. Ga kuliah tapi pendidikan yang tanpa gelar gitu pun gue ikhlas kok. Gue haus akan dua hal itu. Mungkin ini namanya passion? Entah.


Ternyata gue suka nulis TA. Gue menikmati proses nulisnya. Gue ga paham kenapa padahal awalnya gue sempat takut hahahaha. Dan gue bahkan jadi editor tidak resmi untuk makalah seminar dan TA teman-teman. Gue ga akan sebut jumlah orangnya tapi yang pasti kalo gue minta bayaran, itu cukup bikin kenyang. Dan gue ga minta bayaran karena ini kan sekedar bantuan. Ternyata asyik juga bekerja di bidang editing tulisan. Seperti yang gue tulis di bio linkendin gue. Gue harap ini bisa jadi salah satu sumber penghasilan gue di masa depan. Entah penghasilan major atau minor. Selain bercita-cita kuliah di beragam jurusan, gue juga bercita-cita punya beragam pekerjaan. Oke, dadah J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar