Sabtu, 16 Februari 2019

Jangan Mencuci Pembalut! (Beserta Mitos dan Fakta Seputar Menstruasi)

Pembalut sekali pakai (hellosehat.com)
Apa saja hal yang Anda ketahui tentang menstruasi? Mari saya tebak. Katanya, Anda tidak boleh minum es selama haid. Nanti darah haid Anda beku. Kalau garuk bokong, nanti tidak indah dan bisa muncul stretch mark. Bahkan ada anggapan bahwa Anda akan lebih mudah dikuntit setan bila tidak mencuci pembalut. Ada masih banyak lagi mitos abstrak lainnya sampai-sampai sebagian perempuan memilih tidak potong kuku dan keramas selama tujuh hari bahkan membuang pembalutnya secara hati-hati karena takut disantet lelaki. Lucu ya? Ada yang setiap bulan mengumpulkan pembalut bekas pakainya selama tujuh hari lalu dicuci dengan detergen di bak besar kemudian diberi pewangi pakaian terlebih dahulu sehingga ketika dibuang sudah seperti pembalut baru lagi. Bahkan ada yang mengganti pembalutnya hanya sehari sekali.

Banyak sekali mitos maupun kesalahpaham yang terjadi seputar menstruasi. Hal ini karena menstruasi sendiri dilabeli sebagai darah kotor sehingga perempuan pada masa haid dianggap tidak suci. Memang, dalam ajaran agama perempuan tidak boleh melakukan ibadah selama haid. Tapi justru pantangan yang muncul di tengah masyarakat tidak hanya mengenai kegiatan ibadah itu sendiri. Ada banyak pantangan yang mengada-ada karena persoalan yang berkaitan dengan organ intim perempuan tersebut dianggap tabu.

Perempuan, yang dalam budaya patriarki dituntut memiliki malu, menjadi tidak banyak tahu tentang organ tubuhnya sendiri. Perempuan malu untuk mencari tahu hal yang berkaitan dengan seksualitas maupun kesehatan organ reproduksi. Sampai sekarang pun saya masih harus menjelaskan kepada teman bahwa saluran kencing dengan saluran reproduksi memiliki lubang yang berbeda. Mereka pikir yang disebut vagina mengeluarkan air kencing, darah menstruasi, sekaligus bayi menjadi satu. 

Muncul program yang disebut Manajemen Kebersihan Menstruasi. Tujuan program ini adalah:
"Menciptakan kondisi di mana perempuan dan remaja putri memiliki pengetahuan yang benar dan pola hidup yang bersih dan sehat ketika menstruasi".
Program Manajemen Kebersihan Menstruasi sendiri memiliki tujuan untuk dapat mencapai target mengenai sustainable development goals.  Menurut PBB, sustainable development goals atau tujuan pembangunan berkelanjutan adalah cetak biru untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan untuk semua. Diharapkan kita bersama-sama dapat menghadapi tantangan global termasuk di dalamnya kehidupan yang sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, serta air bersih dan sanitasi yang layak.

Sayangnya hal ini masih jauh dari angan. Ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi yang tidak memadai di bangku sekolah beserta mitos yang mengikutinya membuat topik mengenai menstruasi menjadi kabur. Anak-anak perempuan merasa tidak nyaman untuk pergi ke sekolah ketika sedang menstruasi. Tentu saja saya juga masih merasa tidak nyaman ketika sedang menstruasi dan harus melakukan aktivitas di luar rumah. Tapi saya jauh lebih beruntung dibanding remaja-remaja putri yang tinggal di pedesaan (ataupun di kota tapi hidup di lingkungan konservatif).
25% populasi remaja putri tidak pernah membicarakan menstruasi sebelum mendapatkan periode yang pertama. 56% orangtua tidak pernah memberikan penjelasan yang benar dan utuh pada anak perempuan tentang manajemen kebersihan mentruasi. 48% anak lelaki mengolok anak perempuan yang mendapatkan menstruasi.
Anggaplah ini sebuah privilege. Hak istimewa. Sejak kecil, saya mendapatkan akses informasi yang luas. Orangtua tidak membatasi apa yang saya baca. Kesehatan reproduksi sudah menjadi bacaan sehari-hari. Tidak seperti teman-teman yang menangis, kaget, atau ketakutan ketika mendapatkan menstruasi pertamanya. Saya merasa biasa saja. Ketika dulu bersekolah di Ciputat dan menginjak di bangku kelas 1 SMP, hampir semua teman sudah mengalami menstruasi. Bahkan ada yang tidak berani keluar dari kamar mandi karena ketakutan menemukan darah di celana dalamnya.
menstruasi.com

Mitosnya adalah, kita tidak boleh memberi tahu siapapun ketika sedang menstruasi.

Bagaimana mereka bisa tahu cara mengurus diri mereka kalau tidak cerita pada orangtua? Mereka bahkan kebingungan untuk memakai pembalut pertama mereka. Saya sendiri tahu karena melihat ibu saya memakainya. Jadi bagi saya ini bukan masalah. Hari itu Ramadhan. Ketika pulang, saya melihat bercak darah di celana. Saya bilang pada nenek "Mbah celanaku ada warna coklatnya."

"Oh itu mens." Selesai. Hari itu pertama kalinya saya merasakan tidak puasa di bulan puasa. Ini bukan klaim berlebihan karena menurut orangtua, saya sudah puasa sebulan penuh sejak TK. Hari itu juga saya membeli pembalut pertama saya, juga tanpa merasa malu-malu. Menstruasi sendiri dianggap topik yang tabu apalagi membeli pembalutnya. Mitos lain yang baru saya dengar ketika kuliah: jangan sampai orang tahu kalau kamu membeli pembalut. Waktu itu saya membeli di warung yang penjualnya adalah lelaki. Dia bilang "Neng ini saya kasih kantong yang gelap biar ga ada yang lihat." Teman-teman saya juga bilang "Ih malu ih awas nanti ada yang liat. Sembunyiin".

Saya heran. Memangnya apa yang saya tenteng? Itukan pembalut sekali pakai yang belum dipakai! Kenapa harus malu? Kecuali saya membawa pembalut kotor ke mana-mana. Tentu saja selain malu, hal itu juga menjijikkan. Saya menolak menerima kantong plastik hitam dari si penjaga warung. Sebelum ada gerakan mengurangi sampah plastik di Bogor, saya sudah sering menolak plastik ketika membeli sesuatu. Terlebih hanya membeli satu barang.

Saking memalukannya menstruasi itu, anak-anak perempuan di berbagai negara berkembang menghindar untuk masuk sekolah ketika periode datang. Satu dari 10 anak perempuan usia sekolah di Sub Sahara Afrika tidak masuk sekolah selama menstruasi. Sebanyak 1 juta anak perempuan di Kenya tidak masuk sekolah karena tidak memiliki akses terhadap pembalut. Menurut Bank Dunia, anak perempuan bolos sekolah selama empat hari tiap empat minggu sekali. Beberapa alasan mereka tidak masuk sekolah adalah:

  1. Kram perut.
  2. Peralatan kebersihan menstruasi yang tidak mencukupi. Hal ini terutama dialami anak perempuan di pedesaan yang menganggap bahwa harga pembalut tidak terjangkau sehingga mereka tidak mampu membelinya. Mereka memilih tidak masuk sekolah karena takut darah haid akan bocor karena ditampung hanya dengan peralatan seadanya seperti koran, kain, handuk, dan lain-lain.
  3. Ketiadaan air bersih dan fasilitas sanitasi yang tidak memadai. Tidak adanya air bersih membuat mereka tidak bisa membasuh kemaluan ketika buang air dan tidak bisa mencuci pembalut. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak mengganti pembalut sama sekali, memilih pulang untuk mengganti pembalut di rumah, atau bahkan tidak masuk sama sekali.
  4. Lingkungan yang tidak mendukung. Mereka takut dipermalukan oleh anak lelaki ketika menstruasi. Mereka juga takut darah haid mengotori seragam sehingga orang-orang melihat noda tersebut.
Anak perempuan menjadi terganggu konsentrasinya ketika sekolah karena fasilitas kebersihan yang tidak memadai. Tidak tersedianya sabun dan tempat sampah di dalam bilik toilet membuat anak perempuan menjadi kesulitan membersihkan diri ketika menstruasi. Beberapa sekolah juga tidak menyediakan toilet yang terpisah untuk anak lelaki dan anak perempuan sehingga anak perempuan merasa malu untuk membersihkan diri ketika menstruasi terjadi. Sebenarnya masalah menjaga kebersihan diri selama menstruasi bukan cuma sekedar kenyamanan pribadi saja. Terdapat risiko infeksi pada vagina bila kebersihan tidak terjaga seperti mengganti pembalut secara berkala. Pada kurun 2005 hingga 2008 ketika saya sekolah di Kabupaten Bogor, masih ada teman yang hanya mengganti pembalutnya sekali sehari karena ketidakmampuan secara finansial. Bisa dibayangkan risiko infeksi yang mengintai.

beautynesia.com

Saya ingat, saya sering mengantar teman perempuan ke kamar mandi untuk mengganti pembalut. Kejadian ini tidak hanya terjadi di sekolah atau di kampus tetapi juga di tempat umum, misalnya mall. Saya sudah biasa mendengar bahwa teman-teman membawa pulang pembalut kotor yang telah mereka pakai. Alasannya adalah di sekolah, di kampus, maupun di mall tidak ada sabun untuk mencuci pembalut atau tidak ada tempat sampah di dalam bilik toilet. Mereka takut kalau pembalut yang tidak dicuci akan dijilat setan. Saya lebih terganggu dengan kenyataan bahwa ada orang yang mengantongi pembalut kotor kemana-mana.

Soal ini, mari merujuk pada Kampanye Manajemen Kebersihan Menstruasi yang dilakukan Unicef Indonesia bekerja sama dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Awalnya kampanye dilakukan berdasarkan Riset Manajemen Kebersihan Menstruasi yang dilakukan oleh Burnet Survey. Riset dilakukan di 4 provinsi yaitu Nusa Tenggara Timur, Papua, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan dan melibatkan 16 sekolah. Ada beberapa fakta yang ditemukan:

  • Satu dari tujuh perempuan tidak masuk sekolah selama satu hari atau lebih karena menstruasi
  • Perempuan harus meninggalkan sekolah untuk mengganti pembalut
  • Pembalut dicuci bersih dulu baru dibuang
  • 99% memakai pembalut sekali pakai
  • Hanya 2/3 dari perempuan di kota dan hanya 41% perempuan di desa yang rajin mengganti pembalutnya 4-8 jam sekali atau kapanpun pembalut terasa penuh
  • 46% perempuan mengganti pembalutnya kurang dari dua kali sehari
  • 78% perempuan di kota membuang pembalutnya di tempat sampah
  • 38% perempuan di desa memilih mengubur pembalut kotornya
  • 21% perempuan di desa membuang pembalutnya di kakus yang disiram
  • 6% perempuan di desa membuang pembalutnya di lubang jamban
  • Alasan mencuci pembalut adalah menghilangkan baunya, pembalut dianggap kotor, dan menghindari orang lain tahu bahwa ia sedang menstruasi
  • Di NTT dan Sulawesi Selatan, ada mitos yang mengatakan tidak mencuci pembalut membuat perempuan tidak lagi haid
  • Perempuan tidak mencuci rambut selama haid karena dapat meninggal
  • Tidak boleh mengonsumsi rempah-rempah karena dapat menyebabkan kemandulan
  • Anak lelaki kerap mengolok anak perempuan mengenai "bocor" atau noda haid
  • Karena tidak mampu membeli pembalut, sebagian perempuan mencuci dan memakai kembali pembalutnya
  • Tidak mencuci pembalut akan mendatangkan setan
Padahal, pembalut sekali pakai tidak didesain untuk dicuci. Sebagian pembalut dari pabrik menggunakan teknologi gel. Bila dicuci, gel tersebut dapat ikut terbawa air dan masuk ke dalam saluran pembuangan sehingga terjadi penyumbatan. Seharusnya pembalut cukup dibungkus dengan plastik atau kertas lalu dimasukkan ke tempat sampah. Tentu saja pembalut juga tidak boleh dibuang ke dalam toilet karena dapat membuat saluran air tersumbat.

Kewajiban mencuci pembalut hanya akan membuat anak-anak perempuan menghindar masuk sekolah selama menstruasi karena mereka merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini tidak hanya diakibatkan tidak tersedianya air bersih, sabun, tempat sampah, dan toilet yang memadai tetapi juga mereka akan merasa kerepotan untuk membersihkannya dahulu. Apalagi bila jumlah toilet di sekolah terlalu sedikit. Mencuci pembalut akan membutuhkan waktu dan membuat mereka lama berada di dalam toilet. Sementara pembalut sendiri harus diganti tiap 3-5 jam sekali untuk menghindari infeksi.

Sejak mendapat pelajaran keputrian ketika SMP di Ciputat maupun mendapat guru ngaji private pun saya selalu diajarkan bahwa pembalut tidak perlu dicuci dengan alasan akan mendatangkan setan. Itu hanya mitos yang mungkin saja berasal dari dorongan untuk menjaga kebersihan selama menstruasi. Saya hanya diberi tahu untuk membungkus pembalut bekas pakai dengan benar dan membuangnya di tempat sampah, bukan membuang sembarangan. Kalau dipikir-pikir lagi, dalam Islam pun kamar mandi adalah tempat tinggal jin sehingga tidak mengalami menstruasi pun seharusnya makhluk halus tetap ada di toilet. Mereka tidak datang hanya karena ada pembalut di sana.

Mengenai poin terakhir sendiri, mitos yang saya dengar sejak kecil adalah bila mencuci rambut lalu rambut itu rontok, tiap helainya akan berubah menjadi ular di akhirat nanti. Ini juga menjadi alasan banyak dari teman saya yang mengumpulkan rambutnya yang rontok bahkan tidak menyisir rambut untuk menghindari kerontokan selama periode datang bulan. Padahal ketika menstruasi, aroma tubuh perempuan lebih menyengat dan kulit mengeluarkan lebih banyak minyak. Rasanya saya tidak tahan bila tidak keramas sehari saja. Tentu saja tanpa diberitahu guru agama bahwa ini mitos pun, saya sudah yakin kalau tidak mungkin rasanya rambut saya berubah menjadi ular.

Bagaimana dengan tanggung jawab orang dewasa ketika seorang anak perempuan telah mengalami menstruasi pertamanya? Sekolah memiliki kewajiban untuk menyediakan air dan fasilitas sanitasi yang memadai. Hal ini tidak hanya untuk mendukung anak-anak perempuan yang mengalami menstruasi saja tapi juga semua anak yang bersekolah, apapun jenis kelaminnya. Orangtua dan guru seharusnya juga menjadi sumber informasi bagi anak perempuan. Seharusnya menstruasi tidak dianggap tabu karena justru hanya akan menyuburkan kesalahpahaman dan mitos yang telah ada.

Baca juga:
1. Sulitnya Jaga Kebersihan Menstruasi di Sekolah
2. Globally, Periods Are Causing Girls To Be Absent From School
3. Unesco Digital Library: Puberty Education and Menstrual Hygiene Management
4. Satu Dari Enam Anak Perempuan Tak Masuk Sekolah Saat Menstruasi
5. Kenapa Berdarah? (Panduan Khusus Anak Perempuan untuk SD dan MI)
6. Apa Itu Menstruasi?
7. Manajemen Kebersihan Menstruasi di Sekolah
8. Menstrual Hygiene Management in Indonesia

3 komentar:

  1. Walau seumur hidup tidak pernah pakai pembalut. Tpi ini bisa mengedukasi nanti nya jika saya punya anak perempuan

    BalasHapus
  2. bagus mbak artikelnya...semoga semakin banyak orang yang lebih paham lagi...

    BalasHapus