Jumat, 08 Maret 2019

Instant Family, Dorongan Instan Memiliki Keturunan.

anygoodfilms.com

"Kapan nikah?" adalah pertanyaan overrated. Hal ini sepertinya tidak berlaku di Amerika sana. Begitu pula dengan pertanyaan "Kapan punya anak?" Pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun tanpa anak pun tidak terasa aneh bahkan wajar-wajar saja. Orangtua maupun mertuanya tidak ribut bertanya kapan akan menimang cucu. Tujuan dari berumah tangga bukanlah beranak pinak melainkan menghabiskan sisa usia bersama orang yang dicintai. Instant Family berusaha mengangkat isu yang lebih mendesak dibanding menikah atau memiliki anak yaitu menolong anak-anak telantar untuk mendapatkan keluarga. Film ini diadaptasi dari kisah nyata sang sutradara.


Tidak seperti di Indonesia di mana pasangan yang baru saja menikah berharap segera memiliki momongan, Pete dan Ellie santai-santai saja meski belum memiliki anak. Saudara kandung Ellie ada yang sudah memiliki 3 anak sementara saudaranya yang lain berusaha mati-matian untuk hamil setelah beberapa tahun menikah. Pete dan Ellie sudah nyaman hidup bertiga bersama anjing kesayangan mereka. Pekerjaan yang mereka sukai, hubungan yang harmonis, dan keluarga besar yang akur nampaknya sudah cukup melengkapi hidup.

Namun hasutan dari adiknya yang belum berhasil untuk hamil justru membuat Ellie terpancing. Bukankah sudah saatnya ia memiliki anak? Bukannya ia bisa memiliki anak? Kenapa tidak dilakukan saja? Namun Pete menolak dengan anggapan ia sudah tua. Ketika sudah menjadi kakek-kakek nanti, akan ada jurang perbedaan usia yang besar dengan anaknya kelak. Lalu Ellie datang dengan ide mengadopsi anak. 

Pada akhirnya Pete dan Ellie sepakat datang untuk menjalani kursus menjadi orangtua angkat. Mereka memelajari ilmu parenting. Mereka akan segera siap untuk memilih anak-anak mereka sendiri dan mengajukan permohonan adopsi ke pengadilan. Anak-anak telantar adalah anak-anak yang patah hati karena tidak tinggal bersama orangtua kandungnya. Ada anak yang dijadikan kurir pengantar narkoba oleh orangtuanya, ada pula yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga sehingga pengasuhannya diambil alih negara. Latar belakang hidup yang pahit membuat mereka memiliki emosi yang tidak stabil. Membesarkan anak-anak angkat bukanlah hal mudah terlebih mereka telah memiliki kepribadian bawaan masing-masing berdasarkan pola asuh orangtua kandung.

Akting Rose Byrne sangat menakjubkan. Saya pertama kali mengetahuinya ketika berperan dalam Insidious. Tetapi Rose Byrne mampu menanggalkan perannya dalam Insidious dan menjadi karakter yang berbeda dalam Instant Family. Ia menjadi istri yang blak-blakan sekaligus lucu. Komentar-komentarnya yang sarkas selalu berhasil mengocok perut. Bahkan ia berhasil membuat penonton tertawa meski sebenarnya ia baru saja ditampar seseorang dan menyindir-nyindir orang itu. Kita juga akan melihat betapa frustasinya seorang Ellie yang belum berhasil membangun kedekatan dengan anak-anak angkatnya. Mengingat ia pernah meraih penghargaan sebagai aktris terbaik pada Venice Film Festival, wajar saja kualitas aktingnya tak perlu diragukan.

Isabela Moner sebagai Lizzie, remaja latin usia 15 tahun yang diangkat oleh Pete dan Ellie pun berhasil menampilkan bagaimana frustasinya ia menjadi seorang anak telantar. Ia sangat ingin disayangi tapi ragu Pete dan Ellie mencintainya tanpa syarat. Baginya, untuk apa ada orang yang mau mengasuh anak orang lain? Melalui Instant Family kita diberi kacamata seorang anak remaja. Kita diajak untuk menyelami cara pandang remaja nakal yang sebenarnya merasa kesepian dan tidak tahu harus berbuat apa. Ibu kandung Lizzie sendiri menjadi pencandu obat kambuhan. Lingkungan yang tidak kondusif jelas membuat Isabela Moner dan kedua adiknya yang diperankan apik oleh Gustavo Quiroz dan Julianna Gamiz menjadi tertekan.

Film ini tidak hanya menggambarkan bagaimana proses Pete dan Ellie untuk berusaha saling mencintai dan menerima dengan Lizzie, Juan, dan Lita sebagai anak-anak angkatnya. Instant Family juga memberikan gambaran realistis mengenai bagaimana tingginya jumlah anak-anak telantar dan tidak pernah ada cukup orangtua angkat untuk semua anak. Stigma yang melingkupi anak-anak telantar ini juga membuat mereka semakin sulit diterima oleh masyarakat. Mereka yang umumnya memiliki orangtua kriminal membuat masyarakat khawatir bahwa mereka juga memiliki bibit kriminal. Belum lagi anggapan pasangan suami istri seharusnya memiliki anak mereka sendiri, bukan mengangkat anak orang lain. Memiliki anak kandung masih dianggap hal yang prestige.

Instant Family turut menampilkan pekerja sosial yang berusaha menemukan orangtua angkat yang tepat bagi anak-anak telantar yaitu Octavia Spencer dan Tig Notaro. Selain akting dan chemistry yang bagus, saya rasa penulis naskah benar-benar memiliki andil atas kemunculan dialog yang segar. Octavia Spencer dan Tig Notaro secara bergantian memberikan komentar-komentar yang sebenarnya tidak pada tempatnya tapi terasa lucu sekaligus menyemarakkan film. Mereka berperan sangat baik dalam mengajarkan ilmu parenting sekaligus memberi kita edukasi betapa sulitnya menjadi orangtua.

herworld.co.id

Menjadi orangtua tidak akan pernah mudah. Parenting bukanlah hal yang bisa dipelajari semudah memasak mie dan telur. Perlu kekompakan dan kerja keras tidak hanya dari pasangan suami istri tetapi juga keluarga besar. Semua harus bahu membahu menyelamatkan anak-anak yang sudah telanjur patah hatinya karena tidak dibesarkan oleh orangtua kandungnya. Meski film ini dikemas dengan konsep cenderung komedik, kita dapat berurai air mata melihat bagaimana realita dari kehidupan anak-anak telantar. Kenakalan mereka bukanlah karena mereka berniat jahat tapi mereka hanya tidak mampu mengelola emosi dengan baik.

Saya berharap ada kursus parenting dan kehadiran pekerja sosial seperti Octavia Spencer dan Tig Notaro di Indonesia. Kita harus mulai mengubah persepsi kita bahwa anak adalah darah ayah dan ibu yang berada di dalam rahin selama 9 bulan lamanya. Kita juga bisa mengangkat anak-anak telantar dan memberikan mereka rumah yang tak mereka miliki selama ini. Mereka berhak hidup bahagia dan memiliki orangtua, selayaknya kita. Mereka juga ingin disisiri rambutnya oleh ibunya atau dibuatkan makan malam yang banyak kejunya. Film ini telah berhasil membuka mata saya lebar-lebar mengenai arti dari keluarga. Keluarga tidak hanya soal pertalian darah. Keluarga adalah tempat di mana cinta ditemukan, pada siapa saja yang tulus memberikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar