Happy Birthday to Me!!
Mari kita bahas perkembangan hidup Linda di usia 33 tahun ini.
Seperti yang sudah aku ceritakan di Thread, orang tuaku memutuskan bahwa aku tidak akan menua sendirian. HAHAHA. Mereka khawatir aku yang tidak menikah ini (atau belum) akan hidup terasing, kesepian, sendirian, dan menyedihkan.
Jadi mereka berpikir menitipkan aku di rumah adikku. Maksudnya kalau orang tuaku sudah meninggal dan adikku menikah nanti, aku tinggal dengan adikku dan keluarganya.
Kalian pasti bisa menebak pikiranku. Ya, benar.
Apakah iparku mau?
Banyak perempuan tidak mau tinggal dengan mertua mereka. Dalam islam pun seorang istri boleh minta tempat tinggal terpisah dari keluarga suaminya. Nah, bagaimana dengan aku? Belum tentu dia mau kan?
Dia mau. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar mau atau tidak. Apakah dia terpaksa atau tidak. Yang jelas aku sudah tanya dan dia bilang tidak masalah.
Orang tuaku memang melarangku hidup sendirian. Aku tidak boleh kost. Pernah kost tapi hanya bertahan satu bulan.
Menurut mereka aku terlalu sakit-sakitan. Ya secara fisik dan mental memang iya. Karena itu mereka pikir aku setidaknya harus ada yang menjaga.
Aku sedikit merasa... sedih? Seakan aku ini disabilitas. Sebentar, aku tahu aku disabilitas mental. Maksudku, kan bukan fisik. Seakan aku tidak mampu hidup dan mengurus diriku sendiri.
Aku tidak secacat itu by the way.
Sebetulnya aku mau cerita lebih banyak tapi aku mengantuk.
Kalau boleh jujur, kalau bisa, aku sih inginnya tinggal terpisah. Namun aku menyadari karena aku perempuan, aku akan lebih aman jika tinggal dengan laki-laki.
Dunia yang bajingan dan tidak aman bagi perempuan ini membuatku berpikir sebaiknya aku mengalah saja dan mengiyakan hal tersebut.
Kalau ditanya bagaimana pandanganku tentang pernikahan? Ya menikah bagus. Tidak menikah juga bagus. Karena aku tidak tahu mau menikah dengan siapa. Tidak ada orang yang bisa aku pikirkan atau bayangkan menjadi suamiku.
Aku juga tidak dekat dengan lelaki manapun. Sejak terakhir kali pacaran pada 2025, aku sudah tidak aktif lagi untuk dating. Aku sudah menghapus dating apps dan berhenti bergaul (?) dengan lelaki. Kalaupun ada lelaki yang bergaul denganku, itu karena ada kebutuhan. Misalnya PT, fisioterapis, teman kerja, dan lain-lain.
Alasan terbesar kenapa aku ragu untuk berkenalan lagi dengan laki-laki karena aku childfree. Sulit menemukan laki-laki yang childfree juga.
Sebetulnya ada beberapa lelaki yang menyatakan perasaan. Sayangnya... aku tidak punya perasaan dengan mereka.
Balik lagi ke topik awal.
Adikku punya rumah warisan. Rumah tersebut dua lantai dan ada empat kamar di dalamnya. Jadi kalau aku ikut tinggal di situ tidak masalah.
Oh ya di usia 33 tahun ini akhirnya aku akan memulai DBT (Dialectical Behavioral Therapy). Terapi ini akan aku lakukan bersama dengan seorang psikolog yang aku temukan lewat Threads.
Aku sudah siap-siap menyisihkan uang karena pertemuan akan berjalan per dua minggu. Perkembangan terapi akan aku update berkala di blog dan Instagram.
Kenapa akhirnya aku mulai terapi? Karena ini pertama kalinya aku benar-benar bertemu tatap muka dengan psikolog. Dia yang membuka pikiranku mengenai pentingnya terapi bagi orang BPD sepertiku.
Aku juga mengeluarkan uang lagi untuk bayar sesi bersama PT. Wow pakai PT itu memang enak karena tidak perlu repot rack and unrack plate. Ditambah lagi aku punya spotter dan bisa ambil risiko angkat beban yang berat. Misalnya nyoba squat dengan beban seberat mungkin.
Apa aku perlu bicara tentang pekerjaan?
Sebetulnya belum ada hal signifikan atau yang menarik untuk diceritakan. Setelah viral dan dikata-katai netizen kenapa bisa kerja di Malaysia padahal sakit jiwa. Aku belum ada hal baru lagi untuk dibagikan.
Aduh aku benar-benar mengantuk.
Sepertinya aku masuk fase depresi karena banyak tidur. Tapi tidak apa-apa namanya juga sakit jiwa. HAHA
Komentar
Posting Komentar