Selasa, 03 Januari 2012

Chang, Pejuang Tanah Timur-Bagian 4

Jem
            Langit mendung, langit muram. Kapan kemuraman itu disingkap? Dua hari berlalu dan Jem tak melihat Chang. Semua orang berkata mereka tak melihat Chang. Sampai hatikah Chang membiarkan kakeknya menunggu? Masih banyak hal yang ingin disampaikan Jem. Ia tidak akan merasa puas atau berlega hati sebelum mengatakan lebih banyak, sebisanya. Ia tak bisa menunggu. Ajal dapat menjemput kapanpun. Tak banyak yang bisa ia bagi pada Chang. Setidaknya ia boleh bercerita tentang orangtua Chang, kehidupannya dulu di awal kepemimpinan hingga ketika ia sesakit ini. Chang, batinnya.
            "Jem, bagaimana kabarmu hari ini?" Rou masuk kamarnya. Rou duduk di atas tikar lusuh yang digelar di sisi ranjang. Jem duduk di situ, kepalanya menengadah. Kedua tangannya menopang tubuh, mencengkeram sisi ranjang kuat-kuat. Ia menutup mata. Sedikit doa di pagi hari akan membantu menjernihkan pikiran. Lalu ia duduk, bersila di depan Rou. "Aku baik, seperti yang kau lihat. Keadaanku masih sama dengan sebelumnya." Rou menempelkan telapak tangannya. "Kau masih demam," ujarnya tertegun. "Bidan Bertha menyerah. Ia tak mampu lagi mengbatiku. Bukan salahnya. Ilmunya sudah jauh berkembang sepeninggal kakaknya. Ia tidak tahu cara menangani penyakitku karena tabib-tabib lain yang ia temui tak memberi jawaban memuaskan hati."
            "Apa kau menyerah pada takdir?"
"Aku bukan menyerah. Aku pasrah. Jika para dewa tidak berkenan aku hidup lebih lama lagi, berarti mereka yakin kaum tanah timur telah mendapat anugerah pemimpin baru yang jauh lebih layak dariku. Bisa jadi ia akan sukses dalam ilmu pemerintahan dan perdagangan. Dia akan memperluas wilayah tanah timur sehingga pertambahan penduduk tidak menyengsarakan kita."
"Nampaknya kau begitu berambisi menjadikan Chang penggantimu."
"Apa aku punya pilihan?"
"Kau sudah menganggapku putramu sendiri. Aku dan putramu telah kau ajari dank au persiapkan dengan baik sejak kami belia. Akupun menurunkan ilmu yang kau berikan padaku pada putra angkatku. Tidak bisakah kau memilih orang yang jauh lebih cakap dan berpengalaman?"
Jem menghela nafas berat, buru-buru ia meraih air. Diteguknya beberapa kali. Dipijit-pijitnya daging di antara alis. Ia mengalihkan wajah dari tatapan penuh selidik Rou. "Leluhur kita…"
"Ya, aku tahu!" bantah Rou kasar, "leluhur kita mengatakan seorang pemimpin dan pemuka agama suatu kaum hanya lahir dari satu garis keturunan! Namun tak mampukah kau mengubah sesuatu yang telah usang dan tak sesuai dengan keadaan? Peraturan itu tidak lagi sesuai dengan zaman."
"Jika apa yang diturunkan leluhur kita langgar, apa gunannya ketentuan-ketentuan itu dibuat?"
"Kita pakai di saat kita membutuhkan pedoman, aku paham, tapi aku percaya leluhur kita tentu tidak memikirkan berbagai kemungkinan di masa depan. Kenapa kita memakai hal-hal usang?"
"Bagiku, pedoman tentang tata pemerintahan kaum tanah timur masih dan akan tetap relevan selama kita meyakini dan memegang teguh."
"Walaupun kau tidak menyiapkan calon pemimpin kaum ini? Kau tega meninggalkan kami dalam kegamangan?"
            Seorang pemimpin adlaah pengayom rakyat. Berulang kali kukatakan dan kuajarkan pada putraku, Ancehe dan teman main masa kecilnya, Rou. Aku memberikan banyak bahan bacaan yang akan memperkaya dan memperluas cara berpikir mereka. Aku kenalkan pada tata negara dan sistem pemerintahan, mulai dari kerajaan, kota, desa, hingga wilayah-wilayah dengan kebijakan khusus seperti tanah timur. Tanah timur adalah tanah ulayat, warisan leluhur. Tidak mengenal sistem pemerintahan layaknya di kota atau desa. Tanah timur terbagi aats tiga desa, Knmor, Knvan, dan Knwen. Aku memilih tinggal di Knvan yang terletak di antara kedua desa lainnya dan merupakan pintu masuk ke wilayah tanah timur. Luasnya tanah kami meliput perbukitan yang berbatas dengan dataran rendah dan dilewati sebuah sungai besar yang terpecah menjadi tujuh anak sungai dan salah satunya mengalir ke danau air payau.
            Desa-desa di sekeliling tanah timur merupakan daerah penyangga wilayah kami. segala kegiatan besar berpusat di tempat kami. Aku belum pernah dengar ada perselisihan di antara kami dengan desa di sekeliling kami. kerukunan hidup macam ini susah dicapai jika tidak ada peraturan kuat yang mengikat dan sanksi tegas yang siap dijatuhkan. Kami memiliki peraturan tentang pengelolaan sumber mata air, tanah, tanaman hutan, dan perburuan. Kami memiliki giliran yang dicatat dan dipatuhi seluruh penduduk tanah timur beserta desa-desa tetangga. Tak hanya itu. Kami mendata jual beli dan pernikahan antardesa. Bahkan di masaku, kuputuskan menambah satu aturan baru. Tanah timur dan desa-desa di sekitarnya membuat gudang bahan makanan utama yang akan mencukupi kebutuhan seluruh penduduk selama satu tahun bila terjadi bencana alam atau perang.
            Semua kutulis rapi dan kucatat dalam sebuah buku tebal yang rencananya akan kuwariskan untuk dipelajari Chang. Sebelumnya, Ancehe dan Rou sudah mempelajarinya hingga tamat. Bahkan semasa Ancehe hidup, kadang aku membenbankan tugasku padanya. Dalam seminggu, ia mendapat waktu satu hari untuk menyelesaikan permasalahan kaumnya. Aku bangga, ia dapat memecahkan beragam persoalan dengan bijak dan adil. Tak kusangka ia akan meninggalkanku begitu cepat. Hal ini terjadi pada tahun kesepuluh sejak Kerajaan yang dipimpin Korguz mulai merangsek perbatasan belahan bumi timur. Kami tak punya pilihan, kami harus melawan demi mempertahankan diri. Raja Gendriz memerintah kami agar tidak terpancing dan baru melawan bila pasukan Korguz menyerang lebih dulu. Ayah Chang, Ancehe, maju ke medan pertempuran. Ia dikirim ke kawasan Hagambrar, daerah tandus dan kering yang jarang dihuni manusia. Tempat itu jauh lebih terisolir disbanding tanah kami. Kemampuan berpedangnya dibutuhkan untuk menghadapi pasukan Korguz yang terlatih.
            Ibu Chang, Satseh, diam-diam mengikuti suaminya. Ia tak rerla suami tercinta terjun tanpa pendampingannya. Terlambat, belum sempat Jem melarang. Satseh pergi bersama kelompok garis depan pertahanan perbatasan gelombang dua. Ia bekerja di dapur umum, menyiapkan makanan dan mengobati orang-orang yang luka dalam pertempuran. Namun Satseh dipanah prajurit Korguz. Ancehe yang tak rela ditinggal istrinya melawan habis-habisan. Tanpa penduli teriakan teman-temannya, ia maju menerjang daerah pertahanan musuh dan menjadi bulan-bulanan pasukan Korguz. Ketika tubuh Ancehe yang malang dibawakan pada Jem, luka-luka menganga di sekujur tubuh. Saat itu, pasukan Korguz berhasil ditumpas untuk sementara waktu.

 Rou
            "Jem sungguh keras kepala! Aku telah mendebatnya habis-habisan tapi ia tidak menggubris permintaanku! Ia tetap ingin Chang menjadi pemimpin kita. Bagaimana mungkin pemimpin masa depan tanah timur adalah anak muda tanpa kecapakan dan kebecusan? Aku tidakmau mengakui kepemimpinannya jika ia belum berubah."
"Bukankah Chang sudah kau anggap anak sendiri?"
"Kau kira Rim tak pantas?"
"Apa bedanya Rim dengan Chang?"
"Rim benar-benar kita besarkan. Chang itu separuh dibesarkan kakeknya, separuh dibesarkan orangtunya, dan separuh lagi kita besarkan."
"Mengapa menajdi begitu rumit tentang cara membesarkan anak, suamiku?" Jemima menggeleng-gelengkan kepala. "Mungkin inilah alasan Chang pergi. Ia tak mendapat cukup dukungan baik dari kakeknya maupun darimu. Jem hanya mendorong tanpa mempersiapkan. Kau sibuk memaksa Jem menerima Rim. Padahal kau tau, Rim tak jelas rimbanya."
"Karena aku yakin dan itu pasti, Rim segera kembali."

Chang
            Dua hari yang bodoh dan panjang. Nampaknya ia dipecundangi alam. Tak satupun hewan yang sukses ia buru. Bukan karena kemahirannya memanah telah pudar. Bahkan seekor kelinci atau ayah hutan tak tertangkap matanya. Tubuhnnya menggigil lapar. Lagi pula, udara benar-benar menusuk. Musim dingin makin dekat. Ia bisa mati beku bila bertahan di atas sini. Chang menyerah. Hanya satu malam, ia akan tidur di cekungan di hulu sungai. Besok, sebelum amtahari terbit, ia akan memutar jalan, menyusuri sungai hingga ke hilir. Tekadnya bulat. Ia akan ke pelabuhan, berlayar dengan kapal menuj Hallendoirf. Menemui teman masa kecilnya yang pernah berkata akan bertemu kembali suatu saat nanti.
            Semakin tak terkendali gigilnya, Chang merasa kehilangan kesadaran. Sayup-sayup ia mendengar suara tangis memilukan. Padangan matanya mengabur. Beginikah rasanya mati kedinginan dan kelaparan, pikirnya. Ia ingat wajah ibunya. Ia mendengar ibunya berkata-kata. Ia balas dengan kekacauan tak jelas. Chang mengigau. Tubuhnya tersaruk lalu tersungkur. Aku mati, aku mati, gumamnya.
Tabib Bertha
            Tengah malam, beberapa orang datang ke klinik tabib Bertha. Dengan wajah mengantuk ia membuka pintu. "Ya?" Orang-orang nampak gugup membopong seseorang. "Tolong ia, Bertha, kondisinya kritis," bisik Jemima sembari mengeluarkan kepalanya dari tudung hitam yang ia pakai. Tabib Bertha mendelik. Cepat ia mnyuruh orang-orang membawa sosok itu masuk. Dingin, tubuh lelaki itu dingin dan kaku. Ia tak merespon. Tabib Bertha menghela nafas yang menyakitkan. Air matanya jatuh berderai. "Kalian harus menyiapkan pemakaman," ujarnya lirih. Isak tangis Jemima meledak. Dua orang peremmpuan datang, masuk lalu menangis melihat Jemima. Orang-orang di ruangan itu menundukkan kepala. "Siapa pemimpin kita sekarang? Keturunannya telah pergi," bisik seseorang.
            

5 komentar:

  1. Edian Linda ngebut... Namanya kok keren-kern sih? :D

    BalasHapus
  2. Lanjuuut! Dan selamat ujian duluuu... ^^

    BalasHapus
  3. mbak deasy: hueheheheh abis gatau mau kasih nama apa lagi

    mbak gratcia: ini baru pulang mbak :D

    BalasHapus
  4. aduuuh yg kasih jempol juga keyeeen ^_^

    BalasHapus