Jumat, 20 April 2012

Tanda Tanya: Potret Realita Perbedaan yang Jujur


            Bagi saya, masih jarang film produksi dalam negeri yang menyorot keberagaman suku dan agama. Apalagi sebagian orang beranggapan perbedaan agama cenderung sensitif. Namun saya angkat dua jempol untuk sang sutradara, Hanung Bramantyo, yang memotret realita ini tanpa mencoba memihak.
            Film ini berpusar pada kehidupan tiga keluarga. Pertama, Tan Kat Sun seorang pemilik warung makan Cantoon Chinesse Food yang mempekerjakan Menuk, seorang muslimah taat. Menuk bersuamikan Soleh, pemuda rajin beribadah yang pengangguran. Dulu Menuk pernah menjalin hubungan dengan putra Pak Tan Kat Sun bernama Hendra. Alhasil Hendra pun membenci Soleh dan bersikap sinis terhadap Menuk. Ia juga sering adu mulut bahkan berkelahi dengan pemuda di sekitar tempat tinggalnya akibat diledek sipit karena ia etnis Tionghoa.
            Konflik kedua berkaitan dengan seorang janda bernama Rika yang berpindah keyakinan. Keputusan Rika tersebut mempengaruhi kehidupan putranya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Putra Rika merasa kesal pada sang ibu karena mendengar banyak orang melarang ibunya masuk ke masjid. Namun Rika tetap mengantar jemput putranya mengaji di masjid. Rika berpegang teguh pada prinsipnya dan tidak merasa harus mendengarkan apa kata orang. Rika sendiri menjalin pertemanan dengan Surya yang selama sepuluh tahun hidupnya mendapat perang figuran di film. Suatu saat Surya yang seorang muslim mendapat tawaran menjadi pemeran utama dalam drama Natal si sebuah gereja sebagai Yesus.
            Konflik ketiga menyorot kehidupan Menur dan Soleh. Sebagai pengangguran, Soleh tidak hanya menyadang beban rasa malunya karena tidak mampu menafkahi keluarga. Ia pun menghadapi hinaan Hendra. Kepercayaan diri Soleh terhadap Menur mulai runtuh. Kemudian Soleh menuntut cerai Menur. Menurutnya, Menur bisa mencari lelaki yang lebih baik akibat kegagalannya menempati posisi seorang suami, ayah, sekaligus kakak.
            Permasalahan yang dihadapi para tokoh cukup kompleks. Bagaimana Menur yang berusaha membesarkan hati Soleh agar tetap merasa dihargai sebagai seorang suami. Di saat bersamaan, Menur berusaha tetap menjalin silaturahmi dengan Hendra yang merasa sakit hati akibat hubungan mereka di masa lampau. Hendra berpikir Menur terlalu bodoh menikahi Soleh hanya karena alasan Soleh yang taat agama. Di awal hingga pertengahan film diperlihatkan sosok Hendra yang keras, tidak mau tahu, dan kurang menunjukkan sikap toleransi. Namun hal ini berubah ketika ia kehilangan ayahnya. Hendra yang menyesal kemudian menemukan jawaban kenapa ayahnya begitu menghargai perbedaan.
            Satu hal yang saya sukai dari film Tanda Tanya adalah kejujuran dalam menampilkan berbagai realita yang ada. Semisal, ejekan yang berbau SARA. Memang mengejek dengan muatan SARA tidak baik tapi nyatanya masih ada sebagian masyarakat yang bersikap membeda-bedakan. Seperti tagline film ini, masih pentingkah kita berbeda sebab perbedaan merupakan suatu hal yang wajar dan seharusnya disikapi wajar pula. Kita tidak perlu mempermasalahkan perbedaan atau merasa risih dengan mayoritas-minoritas. Seperti Menur yang bekerja pada keluarga Tionghoa, Soleh bersama organisasi agama Islam yang menjaga gereja ketika perayaan Natal, atau Surya yang mendapat perang utama sebagai Yesus. Bahkan Surya sempat menolong Rika untuk berperang sebagai Sinterklas demi menghibur seorang anak kecil yang sakit parah.
            Sebagai sedikit ganjalan bagi saya adalah tokoh Menur yang terlalu baik. Menurut saya, akan lebih menarik―atau manusiawi―bila pergulatan batin seorang Menuk dijelentrehkan lebih kuat, tidak sekedar menangis. Tokoh Menuk yang diperangkan Revalina S. Temat tergambar sebagai seorang perempuan yang sangat sabar, tabah, dan pemaaf. Tokoh-tokoh lain tak kalah menarik. Baik Rika (Endhita), Hendra (Rio Dewanto), Soleh (Reza Rahardian), Tan Kat Sun (Hengky Soleman), dan Surya (Agus Kuncoro) tampil apa adanya. Rika, meski ia keras dalam mempertahankan prinsip dan tidak mau terusik oleh pendapat orang tetaplah seorang ibu yang mau menjadi terbaik bagi anaknya. Hendra yang keras hati akhirnya belajar demi meneruskan bisnis sang ayah dan berubah. Soleh yang awalnya hampir menyerah dalam pernikahannya, belajar dari Menur untuk memaafkan dan menerima perbedaan.
            Akhir dari film ini mengejutkan saya dan terasa sangat manis. Perbedaan merupakan realita, lumrah, ada, dan dapat kita temui di mana saja. Perbedaan tidak memisahkan kita. Perbedaan membuat kita belajar menghargai, menerima, dan berkompromi. Sama dengan yang dikatakan Hendra dapa Menur, "Kamu percaya kan manusia bisa berubah?" Film ini membuka pandangan kita menjadi lebih luas. Film ini dapat membuat kita lebih memahami hal yang beraneka.

2 komentar:

  1. Film adalah hasil karna seni yg rekayasa. Namun dari film bisa mmpengaruhi gaya hidup. Perbedaan adalah warna-warni realita. Peace, love and we for us.
    Sedikit kutipan lagu saya. Mudahan bermanfaat.
    http://sharelagu.wapka.me/site_detail-mp3.xhtml?get-id=1402

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe tengkyu lagu dan kunjungannya :)

      Hapus