Jumat, 25 Mei 2012

Wayang Kulit Bekasi, Seni Lokal yang Kurang Publikasi


Ki Dalang Naman Sanjaya

            Wayang kulit! Ini merupakan pengalaman pertama sekaligus sangat berkesan bagi saya ketika menonton sebuah pementasan wayang kulit Bekasi di daerah Pekayon, awal bulan Mei lalu. Kebetulan saya tengah mengerjakan tugas pembuatan film dokumenter bertemakan kebudayaan Indonesia. Tak disangka saya bertemu dengan salah satu dalang wayang kulit kenamaan dari Bekasi, Ki Dalang Naman Sanjaya. Beliau adalah keturunan Ki Dalang Belentet yang telah mendalang sejak tahun 1918.

Kotak wayang Ki Dalang
            Ki Dalang Naman Sanjaya telah mendalang sejak 1965. Ia ikut orangtuanya dari satu pentas ke pentas lain. Ia mengaku belum pernah vakum dari dunia pewayangan. Baginya, mendalang membuatnya menjadi terus belajar. Dengan mendalang, ia memiliki misi menyampaikan pesan moral melalui lakon-lakon yang ia mainkan. Agar penonton tidak jenuh, ia menyelipkan hal-hal terkini dalam kisah yang dipentaskan. Semisal korupsi atau penebangan liar.
            Seperti lazimnya sebuah pementasan wayang, Ki Dalang Naman Sanjaya didampingi sinden. Istri Ki Dalang juga berprofesi sebagai sinden. Dalam pementasan kali ini, Ki Dalang membawa tiga orang sinden. Bersama grup Tunas Jaya, total pemain musik yang ikut serta berjumlah 15 orang. Lakon yang dibawakan Ki Dalang berdasarkan permintaan tuan rumah. Tuan rumah yaitu orang yang meminta Ki Dalang untuk melaksanakan pementasan wayang. Lakon yang dibawakan berjudul "Bambang Jakapinuluh".
Pementasan wayang kulit Bekasi,
menggunakan bahasa Betawi pinggiran
            Seluruh lakon dalam wayang kulit Bekasi tidak berbeda dengan wayang kulit Jawa atau Sunda yaitu berkisar pada kisah Mahabhrata. Namun tentu ada berbagai improvisasi sebagai pembeda jalan cerita. Meski tetap berpatokan pada pakem-pakem yang ada. Wayang kulit Bekasi sendiri dipengaruhi oleh budaya Betawi, Jawa, dan Sunda.
            Bahasa yang digunakan dalam pementasan wayang kulit Bekasi memakai bahasa Betawi pinggiran. Sebagian masyarakat Bekasi ada yang menyebutnya sebagai bahasa Melayu. Lagu-lagu yang dibawakan para sinden merupakan lagu-lagu Sunda. Bila menonton langsung pementasan wayang kulit Bekasi ini, tentu anda dapat merasakan perpaduan unsur Jawa dan Sunda yang cukup kental.
Panggung pemensatan wayang sekaligus
pelaksanaan prosesi ruwatan
            Meski saya belum pernah mendengar tentang wayang kulit Bekasi, ternyata grup Tunas Jaya dan Ki Dalang Naman Sanjaya telah pentas beberapa kali di Bogor. Tentu sangat disayangkan betapa minimnya publikasi mengenai wayang kulit Bekasi. Apalagi teman saya yang berdomisili di Bekasi selama bertahun-tahun juga tidak tahu tentang keberadaan kesenian daerah ini.
             Tentu saya tidak menyesal akhirnya mendapat kesempatan menyaksikan pementasan wayang kulit secara langsung. Selain itu, pementasan wayang tersebut dilanjutkan prosesi ruwatan yang jarang dilakukan. Kali ini ritual ruwatan dilaksanakan atas permintaan seorang ibu yang memiliki putri semata wayang. Biasanya ritual ruwatan dilaksanakan dini hari hingga menjelang pagi.
            Ruwatan merupakan suatu jalan untuk mencari keselamatan. Dalam ritual ruwatan, digunakan sesajen dan kemenyan. Orang yang akan diruwat akan dimandikan dengan air bunga. Panggung untuk ruwatan memiliki ciri khas. Kalau yang diruwat laki-laki, anda akan melihat alat-alat pertukangan digantung di atas panggung. Kalau perempuan, tentu alat-alat masak yang digantung. Ketika ruwatan berakhir, penonton yang menyaksikan prosesi dari awal hingga akhir boleh memperebutkan barang-barang yang digantung. Selain beragam barang yang digantung, ada pula gabah, kelapa, dan bonggol pisang yang mengisi panggung.
            Masih banyak kesenian daerah yang belum terungkap. Betapa kaya ragam seni budaya yang kita miliki. Mungkin tanpa tugas pembuatan film dokumenter ini, saya tidak akan pernah tahu atau melihat sendiri pentas wayang kulit Bekasi beserta prosesi ruwatan.
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar