Ketika Saya Menulis Puisi

Keasyikan menulis FF membuat saya sedikit sulit untuk kembali menulis cerpen. Pada akhirnya, entah mengapa atau apa hubungannya, saya justru memenuhi blog ini dengan puisi-puisi cinta. Seringkali saya aktif menulis puisi ketika saya merasakannya sendiri. Sangat jarang saya menuliskan puisi sebagai "fiksi". Ini lebih sebagai wadah curhat terselubung yang membuat saya nyaman walau tidak sepenuhnya menuntaskan persoalan.


Saya mengenal puisi ketika duduk di bangku SMP. Hubungan saya dengan puisi serupa dua orang mahkluk yang relasinya dalam bentuk cinta dan benci. Puisi membuat saya melepaskan sesuatu yang tidak bisa saya katakan secara gamblang pada orang lain. Bahkan, kadang, dalam keadaan tertentu, orang yang paling saya percaya atau membuat nyaman pun akan sulit saya ajak bicara. Manusia pun butuh bicara dengan pikirannya sendiri. Begitu pula saya meski sebagai perempuan, seperti kebanyakan perempuan, membicarakan sesuatu dengan kaumnya merupakan aktivitas menyenangkan.

Setiap saya memulai kisah yang baru (terserah apa yang Anda terjemahkan dari kata kisah itu sendiri atau maksud yang Anda tangkap) hampir pasti saya menulis puisi. Lantas ketika kisah itu berakhir, saya akan menumpahkan rasa frustasi dengan berpuisi. Karena puisi-puisi itu masih mengalami naik turun, dalam artian kadang muncul kadang tidak di laman blog ini, menunjukkan itulah yang terjadi pada kisah-kisah saya. Naik dan turun. Belum ada yang benar-benar berlangsung. Seringkali kisah itu berhenti tanpa saya inginkan. Dan saya masih terus menuliskannya. Dengan obyek yang berbeda. Obyek dalam puisi itu berbeda. 

Kadang saya berpikir, haruskah saya berhenti menulis puisi? Agar kisah saya tidak berhenti. Agar kisah saya tidak mati. Agar saya tidak merasa dibunuh berkali-kali.
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama