Tidak Menarik
Aku mencoba membuat blog post ini tidak menarik supaya tidak ada yang click. Kebalikan dari click bait, HAHAHAHAH.
Banyak yang tanya ke aku (termasuk psikologku) bagaimana perasaanku ketika dihujat? Hujatannya sudah sangat menurun, tapi kunjungan ke blog dan media sosialku masih sangat tinggi. Kadang masih ada yang meninggalkan jejak (baca: komen) di akunku.
Waktu aku bilang biasa saja, ada satu dua orang yang tidak percaya. Ada juga yang bilang aku keren sekali karena tidak terpengaruh.
Orang tidak percaya aku biasa saja karena komentarnya memang jahat sekali. Bahkan ada komentar pelecehan seksual juga.
Tidak ada komentar yang aku sensor atau hapus. Kecuali komentar pelecehan tentunya. Bahkan chat whatsapp yang memaki pun aku biarkan.
Aku mencoba menganalisis apakah aku normal. Kenapa aku biasa saja? Apakah mungkin, seperti kata psikologku, aku tidak peduli karena mereka orang asing?
Atau mungkin, karena aku sudah biasa mendapatkan kekerasan verbal sehingga aku kebal? Bukan kekerasan seksual ya, sekali lagi, kekerasan verbal.
Ibuku punya branding yang sangat keren. Dikenal banyak orang sebagai perempuan cantik, pintar, dan mendekati sempurna. Banyak orang menyukai ibuku. Karirnya SANGAT sukses.
Namun ibuku selalu melakukan kekerasan verbal padaku. Aku sudah terbiasa mendapatkan kekerasan ini sejak kecil.
Dituduh hamil karena telat haid? Dibilang idiot? Dibilang goblog? Dibilang jelek? Dibilang gembrot?
Lengkap pokoknya. Segala jenis kata-kata makian dan hinaan pernah keluar. Apalagi kalau membahas kondisi keuanganku (beliau jauh lebih kaya dari aku).
Menurutku ini salah satu faktor utama kenapa dikata-katai netizen tidak menyakiti hatiku barang 1% pun.
Kedua, aku punya support system yang kuat. Terutama dari diriku sendiri. Karena aku sendiri tidak pernah meragukan diriku atau takut bahwa yang kupercaya salah. Aku yang paling tahu diriku.
Apa ya itu? Kepercayaan diri? Ya semacam itu.
Kenapa aku bisa punya kepercayaan diri walau self esteem-ku jatuh di dalam rumah?
Ya sebetulnya karena aku mendapatkan cukup dukungan untuk mematahkan kata-kata jahat ibuku. Meskipun, misal, aku punya mantan pacar toxic. Atau putusnya tidak baik-baik. Atau ya pokoknya aku punya mantan deh, yang manapun, mereka mengakui hal-hal baik dalam diriku.
Mereka semua bilang aku cantik dan pintar, terlepas dari hubungannya tidak berjalan baik.
Begitu juga dengan teman-temanku maupun follower media sosialku. Banyak sekali DM dukungan yang masuk. Mereka tidak meragukanku barang 0,00001% saja.
Lagi pula aku tidak punya histori dikatai halu oleh siapa pun.
Oh ya, RSCM juga kan melarangku posting atau membicarakan kasus ini sama sekali. Mereka menakut-nakuti dengan bilang masyarakat akan menghakimiku (tentu) dan aku jadi sulit dapat pasangan. Surprise. Aku dapat pacar.
HAHAHAHAHAHAHHA
Aku sempat nanya sama cowok itu, "Kamu kan tau nih aku viral, kamu ga ragu gitu? Kamu ga mikir aku halu atau sinting?"
Dia tidak peduli rupanya dengan ocehan netizen.
Oh, tahun lalu, waktu kasus ini belum viral, kan aku punya pacar juga. Dia baca blog itu dan jadi tahu apa yang kualami.
Dia juga tahu aku gangguan jiwa. Dia cuma tanya gimana kondisiku? Apa yang terjadi? Dia nanya-nanya tapi tidak pernah terpikirkan bahwa aku halu. Oh, udah jadi mantan sih karena dia malas aku terlalu clingy hahahaahha
Dan sebetulnya sebelum viral aku sering loh posting tentang kasus itu. Perkembangan kasusnya selalu aku update. Apakah lelaki-lelaki jadi malas? Enggak juga sih. Mereka tetap dukung aku.
Ada alasan lain tidak ya kenapa aku tidak terpengaruh?
Mungkin karena ini tidak menganggu periuk nasiku. Bahkan mereka doxxing aku pun aku tidak takut. Aku tidak mengunci akun Linkedin atau Instagram. Silakan dilihat sendiri.
Aku tidak takut dengan risiko apa pun yang mengintai tentang hal ini. Kepercayaan diriku sangat tinggi.
Tim pengacaraku sejak awal justru lebih takut aku kenapa-kenapa. Mereka menyuruh aku jangan pergi sendirian, jangan ke tempat sepi, dan lain-lain.
Oh ya, banyak sekali tudingan netizen yang salah. Kata temanku, di Twitter ada yang bilang aku sudah enam bulan kerja di Malaysia. Bingung juga, kok bisa ya postingan seperti itu keluar.
Padahal di feed jelas-jelas aku posting di Indonesia. Maksudku, aku bukan menetap di Malaysia loh. Cuma setahun dua kali ke Malaysia karena urusan pekerjaan. Biztrip? Ya, sebut saja begitu.
Ada yang bilang aku punya anak perempuan. Padahal aku kan childfree..... Coba scroll Threads-ku. Liat konten-konten yang aku repost. Banyak banget postingan childfree-nya.
Apalagi ya? Oh yang bilang ekspresi aku aneh keliatan gilanya. Kalo ini sih aku no comment ya HAHAHAHAHAHA.
Ada juga yang menuduh aku butuh uang, aku sengaja viral, atau aku mau cari keuntungan dari ebook yang kurilis. Padahal ebooknya gratis.
Kalau dibilang butuh uang... Entahlah. Maksudku, aku tidak terjerat pinjol atau ikut judol. Aku memang tidak/belum kaya. Namun aku cukup bahagia dengan kondisiku.
Oh itu sih mungkin karena aku masih numpang sama orang tuaku kaya ya. Makanya aku ga ngeluh sama kondisi ekonomi. HAHAHAHAHHAA
Mau bahas apalagi ya? OOHHHH AKU TAHU. Ada yang bilang aku creepy, katanya mungkin aku suka dan obsess sama Jeruk.
Bukan tipeku. Maaf.
Aku suka perempuan cantik. Aku juga suka laki-laki yang tinggi besar. Mantan pacarku tingginya 190cm.
Aku suka orang-orang yang badannya bagus (mungkin karena aku anak gym). Ya aku tahu, kamu bisa saja bilang badanku tidak bagus. Aku juga tidak akan berargumen soal badanku.
Tapi ya... aku punya selera...
Aku suka laki-laki yang jauh lebih besar dari aku dan bisa mengangkatku dengan mudah. Kalau bisa dengan satu tangan saja. Itu sangat seksi.
Aku capek. Kayaknya ga ada lagi yang bisa aku share. Bye bye
Komentar
Posting Komentar