You Want the Truth? Read This
Sebenarnya aku mau-mau saja mengatakan yang sebenarnya. Namun aku menunggu waktu yang tepat (?) because this will be a long, long story. So, go read it before you go to bed.
Waktu kasusku tengah hangat, ada seorang netizen yang berkomentar di akun Instagramku. Dia bilang kenapa aku tidak menceritakan kasus pelecehan seksual lain yang menimpaku. Aku jawab tidak mau.
Sebetulnya aku cuma mau memancing kekesalannya saja. Aku sih mau-mau saja cerita, tapi kan panjang sekali?
Aku mulai dulu dari influencer centang biru. Berbeda dengan kasus dokter Jeruk yang mana aku tidak berani menulis inisial secara langsung (khawatir UU ITE). Yang ini aku akan pakai inisial.
Namanya ZA. Sebetulnya yang terjadi padaku adalah grooming. Saat itu aku masih di bawah umur, aktif menulis di Kompasiana, dan jatuh cinta dengan om-om umur 31 tahun. Om-om itu melakukan grooming melalui pesan singkat.
Om-om ini berasal dari kota A tapi menetap di kota B karena berpacaran dengan seorang gadis. Gadis itu kemudian dia peristri, inisialnya adalah M. M pernah mencaci makiku lewat telpon.
Aku tidak membenarkan sikapku yang dekat dengan pria yang sudah punya calon istri. Namun perlu diketahui bahwa saat itu aku tidak terpikirkan untuk berpacaran atau menikah. Yang ada di kepalaku hanya wow aku bisa dekat dengan laki-laki yang menurutku keren sekali tulisannya.
Aku masih ingat sekali pesan singkat yang dikirimkan ZA padaku. Dia bilang ingin menatap mata bulatku erat-erat dan memelukku sangat rapat. Kalau aku berlari atau berteriak, dia akan mengikatku dengan tali.
Jadi selain grooming juga terjadi pelecehan seksual secara verbal.
Btw aku tidak mengharapkan tulisan ini viral. Aku cuma mau menulis. Lagipula, memangnya hukum bisa apa untuk membantuku?
Yang kedua adalah orang asing yang tidak kukenal. Seperti yang kalian tahu, aku adalah seorang feminis. Saat itu aku aktif sekali melawan laki-laki mesum di internet. Suatu hari, ada seorang perempuan yang lapor ke akun feminis bahwa dia dapat kiriman gambar penis.
Aku lalu “melabrak” laki-laki itu. Namun kemudian dia mengambil foto dari Instagramku dan mengupload di akunnya. Dia memberi caption bahwa aku adalah perempuan panggilan dan silakan hubungi dia jika mau meniduriku.
Dia tag aku tapi tagnya tidak masuk ke dalam notifikasi. Mungkin karena heran aku senyap-senyap saja, dia menghubungiku lewat DM dan bertanya apakah sudah ada yang mencoba memesanku.
Aku bingung karena tidak paham konteks. Namun memang aku menyadari ada akun-akun tidak kukenal yang menonton story instagramku dan mereka lelaki. Padahal akunku itu perempuan sekali, yang aku yakin laki-laki tidak tertarik melihatnya.
Karena hal itu, pacarku, adikku, pacarnya adikku, sampai teman-temanku perang di internet dengan lelaki tersebut. Oh sebagai informasi saat itu aku masih punya tunangan. Aku lupa kejadian spesifiknya ini tahun berapa.
Sebentar. Aku pikir tulisannya bakal panjang sekali tapi ternyata tidak juga HAHA
Soal rekan kerja, aku pernah cerita di blog post sebelumnya. Aku beberapa kali mendapatkan pelecehan seksual di tempat kerja dan sebagian besarnya bosku tahu. Maksudku, bosku yang saat ini.
Alasan paling kuat kenapa aku akhirnya bekerja dengan beliau adalah karena sehari sebelumnya aku mendapatkan pelecehan seksual di kantor yang lama pada tahun 2022. Pahaku dielus-elus lalu aku diperdengarkan lagu yang sangat cabul tentang pemerkosaan. Aku pikir, jika sehari lagi saja aku bertahan, aku tidak akan selamat. Jadi ketika bosku saat ini menawarkan untuk bekerja padanya langsung aku iyakan.
Kemudian kami sama-sama bekerja di sebuah startup. Saat itu bosku adalah level C. Aku hanya karyawan biasa. Kemudian ada level C lain, seorang kakek-kakek, melontarkan kata-kata seperti besar juga ya. Ia mengomentari payudaraku.
Aku juga tanpa sengaja mendengar bahwa pria-pria di kantorku (kantor lama ya) membuat rating mengenai siapa perempuan yang payudaranya paling besar. Katanya aku.
Bahkan orang yang aku kira sahabat di kantor itu (dia laki-laki) juga mengirimkan chat mesum.
Aku merasa dikhianati berkali-kali bekerja di sana.
Singkat cerita, perusahaan tersebut kolaps. Aku pun ikut bosku ke usaha pribadinya (kantorku yang sekarang).
Salah satu alasan kenapa aku tidak mau pindah kerja karena aku merasa aman di sini. Tidak ada yang melecehkanku. Karena hampir semua pegawainya perempuan. Memang masih ada laki-laki sih, tapi mana berani dia mengangguku? Aku sudah dicap sebagai anak kesayangan bosku. Aku tentram di sini tanpa ada yang berani menyentuh.
Sekarang mari kita bicara tentang anak didik. Aku pernah mengajar di suatu lembaga pendidikan. Aku akan berusaha sebisa mungkin tidak memberikan ciri-ciri yang spesifik ketika membicarakan kasus ini karena untuk yang satu ini mereka benar-benar mengancamku.
Ketika itu ujian. Aku memberikan nilai 0 pada tiga orang siswa karena mereka terbukti copas dari internet. Lalu di grup kelas mereka mengancam akan memperkosaku.
Pihak lembaga pendidikan membela mereka. Mengatakan bahwa itu kegagalanku sebagai pendidik, bukan kesalahan dari siswa.
Bukti chatnya masih aku simpan di google drive sampai sekarang.
Terakhir adalah oleh sepupu. Nah untuk yang satu ini sudah mengarah ke kekerasan fisik. Belum ada penetrasi dengan jari atau kelamin, tapi sudah ada kontak fisik. Ini terjadi ketika aku di bawah umur dan pelakunya usia mahasiswa.
Namun untuk kasus yang satu ini aku sudah sangat lega. Aku mendapatkan keadilan di dunia, karma dibayar kontan. Adiknya mendapatkan percobaan perkosaan. Istri yang belum lama dia nikahi meninggal dunia karena kanker otak. Dia diusir dari kontrakan dan jatuh miskin. Ayahnya ikut kena kanker. Ibunya hidup menggelandang.
Perlu kalian tahu bahwa orang tuanya juga mengirimiku santet, menghalangiku ibadah, dan melakukan fitnah padaku. Jadi wajar saja kalau balasannya sangat berat.
Ceritanya sudah selesai.
auah kak, sesama sakit jiwa, kok kita beda
BalasHapusYa gapapa. Kenapa kamu harus sama seperti aku?
Hapus