Utang Budi
Kamu pernah berhutang budi pada seseorang, sampai kamu berpikir tidak bisa meninggalkan orang ini? Kamu pernah merasa bahwa hidupmu bergantung pada seseorang? Itulah yang aku rasakan selama beberapa tahun ini.
Mungkin kalau ditanya salah satu laki-laki yang paling aku percaya saat ini, jawabanku adalah bosku. Tunggu, sebelum ada yang salah paham, dia sudah menikah. Ini 100% platonik dan murni hubungan kerja saja. Namun orang ini terlihat dalam banyak aspek hidupku.
Dia tahu semua mantan pacarku. Dia tahu sebagian besar kasus kekerasan seksual yang aku alami. Dia tahu soal persidangan kode etik itu juga hujatan netizen. Bahkan dia tahu dinamika hubunganku dengan keluargaku yang agak rumit.
Orang ini adalah orang yang menolongku sepanjang waktu. Aku bilang pada dia, bahwa aku akan bekerja padanya seumur hidupku.
Aku tidak berencana pindah kerja. Aku tidak berencana buka usaha sendiri.
Kalau dipikir-pikir ini seperti.... hamba. HAHAHAHA. Maksud aku begini. Di zaman kerajaan, biasanya ada orang kaya dan hamba sahaya yang setia. Akulah si hamba setia itu. HAHAHAHAHAH
Kenapa aku mengabdikan diri pada seseorang sebegitu setianya?
Pertama karena dia yang menolongku ketika aku mendapat pelecehan seksual di kantor lamaku. Ini tidak menolong secara langsung sih. Saat itu aku bekerja di Kantor X yang lokasinya ada di Mangga Besar.
Anggap saja aku mendapatkan pelecehan seksual di hari Senin. Lalu aku bertemu dengan bosku ini di hari Selasa. Dia menawari aku bekerja di kantornya saja, di Kantor Y. Aku iyakan. Besoknya aku langsung mengundurkan diri dari Kantor X.
Di Kantor Y, aku bekerja kurang lebih selama 8 bulan. Saat itu aku mendapatkan bully dari atasanku secara langsung. Bosku ini bukan atasan langsungku, dia dua tingkat di atasku. Atasanku langsung ini adalah perempuan yang umurnya di bawahku.
Bosku lagi-lagi melindungiku. Perempuan ini tidak diperpanjang kontraknya. Dia menegur perempuan ini (sampai dia menangis). Aku lagi-lagi ditolong.
Ketika Kantor Y hampir bangkrut, terjadi pemotongan gaji. Semua karyawan dikurangi hari bekerjanya lalu dipotong gajinya. Demi anak buahnya tidak banyak dipotong gaji, dia merelakan sebagian besar gajinya saja yang dipotong. Sehingga dalam sebulan dia hanya masuk tujuh hari. Sementara aku hanya dikurangi satu hari saja....
Apa sampai di sini saja hutang budiku? Tentu tidak. Ceritanya masih berlanjut.
Saat itu ada kesalahpahaman. Terjadi PHK. Kami berpisah jalan. Aku bekerja di Pluit. Namun bos di Pluit itu jahat sekali. Aku benar-benar tersiksa.
Karena bingung harus ke mana mengadu, aku pun menelpon bosku sambil menangis. Dia coba menghubungi temannya yang pengacara, mencari tahu bagaimana mengakali kontrak kerjaku. Oh sebelum kalian bertanya kenapa aku bisa kabur dari Kantor X, bosku ini juga yang mencari cara.
Setelah kami menemukan celah di kontrak kerjaku, aku pun melakukan yang dia suruh. Lalu dia merekrutku ke usaha yang dia buat sendiri. Dan aku pun bekerja dengannya sampai sekarang.
Dia juga yang menaikkan gajiku ketika aku cerita bagaimana orang tuaku menekanku untuk berpenghasilan lebih besar.
Banyaaaak sekali bantuan yang diberikan oleh bosku ini. Sampai-sampai jatah cutiku saja unlimited. Saking seringnya aku cuti sepanjang 2025 karena sakit, kecelakaan, dan depresi. Dia tidak pernah satu kali pun membahas kenapa aku cuti.
Cuti hanya karena putus dari pacar pun pernah.
Orang tuaku yang juga tahu bagaimana baiknya bosku padaku pun melarangku pindah kerja. Katanya di mana lagi aku bisa mendapatkan bos sebaik ini.
Memang benar.
Terlepas dari kadang aku merasa lelah dan stres karena pekerjaanku, pada dasarnya aku tetap berhutang budi pada beliau. Tentu ada banyak lagi kebaikan-kebaikan lainnya yang tidak aku ceritakan di sini.
Aku menceritakan ini di sini karena tadi temanku bertanya, memangnya apa yang membuatku hutang budi?
Postingan blog ini juga sebagai pengingat bagiku pribadi untuk bersyukur karena masih memiliki pekerjaan dan berpenghasilan.
Kalau suatu saat nanti ternyata aku berhenti bekerja dari beliau, mungkin karena aku sudah jadi milyarder hahahahhahahahahahah
Komentar
Posting Komentar