Sabtu, 14 Januari 2012

Sedikit Puisi

Merindumu
Seperti hujan yang tengah beku
Bulir-bulirnya deras turun
Lalu hilang kesempatan diserap tanah
Sebab kaku diusik hawa dingin

Merindumu
Seperti luka tak terjamah di batu
Menggores dalam, menusuk, menatah, meninggalkan sesuatu
Namun belum cukup mencairkanmu
Sebelum kau dilalui air
Hingga tinggalah sisa debu dari batu (yang hancur)

Aku memujamu
Tanpa ragu
Tanpa embel-embel ingin dibalas
Tanpa kupinta kau tahu

Aku memujamu lalu merindu
Layaknya perempuan kepada lelakinya

Kau kupuja dan kurindu
Tanpa kutahu awalnya

Kau samuderaku, kau langitku, kau tumpuanku di masa depan
Meski bukan rencana awalku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar